TEORI KRITIS


TEORI KRITIS


PENDAHULUAN

Teori Kritis adalah teori yang memiliki akar dari teori Marxian. Walaupun demikian, Teori Kritis memiliki beberapa sudut pandang yang berbeda dengan teori Marxisme klasik, termasuk juga teori Kritis memiliki perbedaan dengan teori konflik modern dengan tokohnya Lewis Coser, W.Mills dan Ralf Dahrendorf.

Teori Kritis atau Ilmu Sosial Kritis adalah tradisi yang meyakini bahwa ilmuan sosial mempunyai kewajiban moral mengajak dalam melakukan kritik masyarakat. Kepentingan Teori sosial Kritis adalah membebaskan manusia atau masyarakat dari “kekejaman” struktur sosial yang menindas. Mereka menolak memisahkan analisis dari pertimbangan dan fakta serta nilai.Teori Kritis hendak menembus realitas sosial sebagai fakta sosiologis, untuk menemukan kondisi yang bersifat transendental yang melampaui data empiris.

Teori Kritis juga bersifat historis dan tidak meninggalkan data yang diberikan oleh pengalaman kontekstual. Dengan demikian, Teori Kritis merupakan dialektika antara pengetahuan yang bersifat transendental dan empiris.

Teori Kritis merupakan hasil dari usaha untuk menemukan jalan keluar dari kebuntuan ilmu pengetahuan atau perdebatan antara positivisme dan humanisme ilmu sosial.(Susan, 2009)

Pada awal pertumbuhannya, Teori Kritis  cenderung mengikuti analisa Marxisme klasik, yang mencurahkan perhatiannya pada aspek ekonomi, akan tetapi sekitar tahun 1930, para pemikir Teori Kritis mulai menggeser perhatian dan analisa mereka dari analisa sistem ekonomi ke sistem kultural, yang dilihatnya sebagai kekuatan utama dalam masyarakat kapitalisme modern. Pandangan ini cocok dengan perkembangan pemikiran pendiri Marxian-Hegelian awal seperti Georg Lukacs.

Untuk membantu mereka memahami bidang kultural, teoritisi Kritis mempelajari karya-karya Max Weber. Upaya menggabungkan pemikiran Marx dengan Max Weber kemudian menciptakan istilah “Marxisme Weberian” yang telah memberikan aliran Kritis ini orientasi yang lebih jelas dan lebih mudah diterima oleh sosiolog lainnya yang mulai tumbuh minatnya terhadap teori Marxian.

Filsafat Kritis merupakan salah satu aliran utama filsafat abad ke-20, disamping fenomenologi dan filsafat analitis. Filsafat kritis mendapat inspirasinya dari kritik ideologi yang dikembangkan oleh Karl Marx sewaktu ia masih muda.Tokoh-tokohnya antara lain Max Horkheimer dan Theodere W.Adorno bersama rekan-rekan mereka yang pernah bekerja pada institute Penelitian Sosial Universitas Frankfurt dan oleh karena itu juga disebut Mazhab Frankfurt.

Filsafat kritis muncul ketika Horkheimer merumuskan pikirannya dalam tulisannya , “Teori Tradisional dan Kritis” yang terbit pada tahun 1937. Di dalam tulisan tersebut, ia menelanjangi pola-pola tradisional teori-teori filsafat dan ilmu-ilmu kemanusiaan/humaniora sebagai kontemplatif, afirmatif dan oleh karena itu bersifat ideologis. 

Terhadapnya dilawankan pola sebuah teori yang membongkar pengandaian-pengandaian terselubung teori-teori kontemplatif tersebut yang dianggap berpura-pura objektif dan membuka kedok mereka bahwa sesungguhnya teori-teori tersebut sebenarnya sama sekali tidak objektif, melainkan memiliki tujuan ideologis dan politis yaitu hendak melindungi dan melegitimasi kepentingan-kepentingan kekuasaan.

Sebaliknya, Teori Kritis menurut Horkheimer bersifat praktis, oleh karena itu Teori Kritis bercorak emansipatif.Teori Kritis membawa misi emansipatoris untuk mengarahkan masyarakat menuju masyarakat yang lebih rasional melalui refleksi diri.

Horkheimer dan Adorno kemudian mengembangkan pendekatan itu menjadi kritik menyeluruh terhadap masyarakat industri Barat. Makin masyarakat industri modern menjadi masyarakat konsumsi berlimpah serta berhasil melarutkan pertentangan-pertentangan antarkelas sosial, makin total masyarakat tersebut.

Selain mengadopsi pemikiran Max Weber, teori Kritis juga berusaha menyatukan teori yang berorientasi Freudian dengan pemikiran Max dan Weber di tingkat  sosial dan kultural. Bagi beberapa sosiolog, hasil perpaduan ini rupanya mencerminkan teori yang lebih lengkap ketimbang yang dikemukakan Marx atau Weber secara sendiri-sendiri. Upaya penggabungan teori-teori yang terpisah tersebut terbukti merangsang minat sosiolog dan pemikir lainnya.(Ritzer)

Teori Kritis adalah produk dari sekelompok neo-Marxis Jerman yang tidak puas dengan keadaan Teori Marxian, terutama atas kecenderungannya  terhadap determinisme ekonomi.Sejumlah pemikir teori Kritis seperti Habermas, meskipun pendekatannya bertolak dari Marxisme dan filsafat materialisme, akan tetapi dalam kenyataannya ia dan sejumlah teoritisi Kritis lainnya cenderung makin meninggalkan Marxisme itu sendiri.Teori Kritis berkaitan erat dengan The Institute of Social Research yang didirikan di Frankfurt Jerman pada 23 Februari 1923.

Teori Kritis sebagian besar terdiri dari kritik terhadap berbagai aspek kehidupan sosial dan intelektual, namun tujuan utamanya adalah mengungkapkan sifat masyarakat secara lebih akurat.

Teori Kritis tidak berhenti pada fakta objektif seperti yang dinanut oleh teori-teori postivistis.Teori Kritis hendak menembus realitas sosial yang bersifat transendental yang melampaui data empiris.Teori Kritis juga bersifat historis dan tidak meninggalkan data yang diberikan oleh pengalaman kontekstual. Dengan demikian, Teori Kritis tidak hendak jatuh pada metafisika yang bersifta abstrak.Teori Kritis merupakan dialektika antara pengetahuan yang bersifta transcendental dan yang bersifat empiris.

Menurut Horkheimer, Teori Kritis memiliki empat karakter :

Pertama : Teori Kritis bersifat historis. Artinya, Teori Kritis diperkembangkan berdasarkan situasi masyarakat yang konkret dan berpijak di atasnya.

Kedua : Teori Kritis juga bersifat kritis terhadap dirinya sendiri. Maksudnya,Teori Kritis  itu menyadari resiko bahwa setiap teori sangat mungkin jatuh ke dlaam salah satu bentuk ideologi. Jika teori-teori konvensional menggantungkan kesahihannya pada verifikasi empiris, Teori Kritis mempertahankan kesahihannya melalui evaluasi, kritik dan refleksi atas dirinya sendiri.

Ketiga : sebagai akibat metode dialektisnya, Teori Kritis memiliki kecurigaan kritis terhadap masyarakat kontemporer. Kecurigaan tersebut dapat dihubungkan dengan kritik-ideologi Marx yang bermaksud menelanjangi kedok-kedok ideologis yang dipakai untuk menutup-nutupi manipulasi, ketimpangan dan kontradiksi-kontradiksi di dalam masyarakat.

Keempat : Teori Kritis merupakan “teori dengan maksud praktis”, yaitu teori yang tidak memisahkan dirinya dengan praxis. Dengan singkat dapat dikatakan bahwa Teori Kritis merupakan komitmen praktis “sang pemikir kritis” di dalam sejarahnya. Dengan demikian, Teori Kritis menjadi tidak netral.

Horkheimer menyatakan bahwa ketidaknetralan Teori Kritis itu terletak pada pemihakannya pada praxis sejarah tertentu. Dan pemihakan itu terdapat di dalam tujuan Teori Kritis, yaitu pembebasan manusia dari perbudakan, membangun masyarakat atas dasar hubungan antrapribadi yang merdeka dan pemulihan kedudukan menusia sebagai subjek yang mengelola sendiri kenyataan sosialnya. Dengan pemihakan ini Teori Kritis hendak mengkritik keadaan-keadaan aktual dangan referensi pada tujuannya.Jika memang demikian, memang di dalam Teori Kritis terkandung muatan utopia tertentuyang menyebabkan pemikiran-pemikiran di dlaamnya tidak bersifat netral.(Hardiman, 1990)

Selain mengritik Positivisme, Teori Kritis juga melakukan kritik terhadap Marxisme dalam tataran teori dan praktek. Dalam tataran teori, Marxisme ortodoks menurut Teori Kritik mengandung sejumlah unsur positivis sehingga dalam analisanya atas realitas, Marxisme ortodoks cenderung tejebak pada determinisme ekonomi.

Dalam tataran praktek, Teori Kritis juga mengecam segala bentuk praktek politik yang dinisbatkan pada Marxisme seperti yang terjadi pada masa rezim Komunis Uni Soviet, terutama pada masa pemerintahan Stalin. Walaupun menghendaki adanya perubahan-perubahan struktural yang radikal, akan tetapi para teoritisi Kritis seperti Habermas menolak digunakannya  kekerasan dalam mencapai tujuan tersebut.

Menurut Habermas, memaksakan kekekrasan dalam melakukan perubahan revolusioner hanya akan mengganti penindas lama dengan penindas baru. Menurutnya transformasi sosial perlu diperjuangkan bukan melalui kekerasan dan dominasi, akan tetapi melalui “dialog-dialog emansipatoris”. Inilah yang ia maksud sebagai suatu masyarakat demokratis radikal, yaitu masyarakat yang berinteraksi dalam suasana “komunikasi bebas dari penguasaan”.

Tokoh lain yang mengawali munculnya Teori Kritis adalah Georg Lukacs, seorang aktivis Partai Komunis Hongaria yang berupaya menghidupkan kembali wawasan dialektika Hegel dalam Marxisme.

Dalam bukunya,Sejarah dan Kesadaran Kelas (Geschichte und Klssenbewusstein,1923), ia menolak determinisme ekonomis dari kalangan penganut Marxisme ortodoks. Dalam buku tersebut, ia menekankan peranan kesadaran kelas proletariat  sebagai subjek dialektika sejarah.

Penekanan atas proses-proses kesadaran pada manusia dalam masyarakat dan sejarah telah memberi kemungkinan pada Lukacs dan para pemikir Kritis lainnya untuk mengarahkan diri pada fenomena-fenomena uperstruktur, yaitu ; pengetahuan dan ideologi. Fenomena-fenomena superstruktur ini dikalangan Marxisme ortodoks dan dalam pandangan Marx sendiri kurang diminati karena dipandang sebagai ungkapan dari basis ekonomi semata. (Hardiman,1990)

Faktor historis yang melatarbelakang munculnya teori Kritis adalah berkembangnya Stalinisme dan Nazisme. Teori Kritis tidak hanya berteori dalam konteks rezim totaliter Stalin, tetapi juga rezim otoriter  Nazisme Hitler dan situasi Perang Dunia II yang disebut sebagai “barbarisme baru”. Bagi para teoritisi Kritis, otoritarianisme Nazi dan Fasisme pada umumnya, seperti juga Stalinisme, merupakan bagian dari perkembangan modernitas.

Secara ekonomis, baik Fasisme maupun Stalinisme menandai suatu peralihan dari Kapitalisme liberal menuju kapitalisme monopolis yang ditangani langsung oleh negara penindas. Dengan kata lain, bak Fasisme maupun Stalinisme yang bermaksud mewujudkan masyarakat sosialis itu tidak lain dari perkembangan lebih lanjut dari kapitalisme yang disebut kapitalisme negara. Diantara kedua sistem ini tidak terdapat perbedaan pokok dalam hal sistem ekonomi, tetapi terdapat perbedaan pokok dalam hal ideologi.

Komunisme berusaha membenarkan penindasannya dengan mitos-mitos sosialisme dan fasisme justru menolak komunisme dalam hal pendekatan “rasional”nya utnuk membenarkan praktek totaliternya. Fasisme, lebih khusus Nazisme memanipulasi emosi, kebencian dan irrasionalitas masyarakat melalui ideologi-ideologi ras untuk memusnahkan ras lawan.  Bagi Horkheimer, kritik terhadap sistem kapitalis menyangkut juga kritik terhadap ideologi fasis dan komunis.

Di dalam konteks Fasisme dan Komunisme ini, Teori Kritis lahir dengan maksud membuka seluruh selubung ideologi dan irrasionalisme yang telah melenyapkan kebebasan dan kejernihan berfikir manusia modern. Adorno dan kawan-kawannya menyebut situasi penindasan total terhadap manusia di bawah rezim-rezim Fasis ini sebagai dominasi total (Herrschaft).

 Dalam pandangan mereka, tugas dari Kritik atau Teori Kritis sebagai teori emansipatoris adalah menelanjangi dominasi total ini. Karena bagi mereka, dominasi total dimungkinkan oleh ideology dan ideologi dapat meliputi segala bidang baik bidang prakxis politis maupun bidang teoritis ilmiah.Teori Kritis tidak lain adalah merupakan kritik ideologi. Dengan Kritik ideologi mereka mengharapkan munculnya manusia-manusia yang sadar akan penindasan sosial atas dirinya dan mau bergerak membebaskan diri.(Hardiman, 1990)

LATAR BELAKANG MUNCULNYA TEORI KRITIS

Kegagalan rasionalitas masyarakat Modern

Munculnya Teori Kritis dilatarbelakangi oleh terjadinya genosida dan sikap antisemit yang berkembang luas di Jerman dan Eropa saat memuncaknya Perang Dunia II. Marx Horkheimer dan Theodero W.Adorno yang berhasil selamat dari genosida tersebut kemudian mengembangkan suatu pemikiran yang mengkritik masyarakat modern. 

Masyarakat modern menurut kedunya seharusnya rasional dan seharusnya pulalah rasionalisme itu diwujudkan dengan adanya humanisme dan pengagungan terhadap hak asasi manusia. Tetapi yang terjadi sesengguhnya, masyarakat modern memiliki irasionalitasnya sendiri. 

Ada irasionalitas dalam rasionalitas masyarakat modern. Jerman merupakan negara modern di bawahrezim totalitarian Nazi, tetapi justru melakukan tindakan-tindakan yang irasional dengan melakukan pembunuhan massal (genosida) kepada entitas sosial-budaya yang berbeda.

Dominasi Positivisme dalam ilmu sosial

Teori Kritis muncul juga sebagai reaksi dari keberadaan filsafat Positivisme. Positivisme telah mempengaruhi bahkan mendominasi sosiologi terutama dari teori Fungsionalisme Struktural, yang merupakan “mainstream” atau arus utama teori Sosiologi modern. Misalnya, Kritik terhadap Positivisme diberikan oleh seorang teoritikus Jerman yang sekaligus pengusung Teori Kritis, Jurgen Habermas.

Menurutnya, Positivisme akan menghasilkan teknologi sosial yang pada akhirnya akan menjadi determinan dan menimbulkan dominasi. Dalam Positivisme, peranan subjek dalam membentuk “fakta sosial” disingkirkan. Yang terjadi disini adalah objektivisme, dimana subjek hanya bertugas menyalin fakta objektif yang diyakini dapat dijelaskan menurut mekanisme yang objektif. (Hardiman, 2003)

Selain itu Habermas mengkritik Positivisme dengan mengkritik Marxisme Ortodoks. Menurut Habermas, Marxisme Ortodoks tidak lain merupakan pandangan determinis ekonomi yang didasarkan oleh Positvisme. Teori Kritis berusaha menekankan peranan kesadaran (subjek) untuk mengubah struktur-struktur objektif.

Dari segi metodologi, teori Kritis awal mulanya hadir sebagai reaksi terhadap dominasi pendekatan Positivisme yang dinilai cenderung mereifikasi dunia sosial dan melihatnya melulu sebagai proses yang netral, sehingga tidak mengabaikan aktor.

Dalam perkembangan ilmu sosial, selama ini Positivisme harus diakui telah cukup lama mendominasi kerangka berfikir teoretisi ilmu sosial, dan diyakini sebagai media yang membawa sosiologi ke jalur ilmiah layaknya ilmu eksakta. Namun dalam perkembangannya kemudian Positivisme disadari telah menyebabkan teori sosial mengalami stagnasi, cenderung bersifat konservatif, serta tidak mampu menentang sistem.

Teori Kritis umumnya mengkritik Positivisme yang terlalu menekankan penjelasan kausal atas perilaku manusia, dimana hal itu dinilai tidak dimungkinkan, sebab tindakan, institusi dan keyakinan manusia pada dasarnya mengandung makna.

Tugas ilmu sosial bukan menspesifikasikan hukum perilaku manusia yang serba seragam, melainkan memahaminya dengan menginterpretasikannya dlaam kaitannya dengan niat subjektif individu. Positivisme dinilai para teoretisi Kritis terlalu mengedepankan hukum tindakan manusia, padahal fakta-fakta ilmiah sesungguhnya akan selalu ditaklukkan dan dikonstruksi.

Teori Kritis dari Mazhab Frankfurt menolak Positivisme yang dianggap terlalu mengagungkan sains, karena yang namanya kebenaran bukanlah diperoleh semata-mata hanya lewat pengukuran dan sejenisnya, karena di mata mereka dunia sosial sesungguhnya adalah dunia yang ditafsirkan.
Untuk selanjutnya perbedaan antara Positivisme dan Teori Kritis dapat dilihat sebagai berikut :

Positivisme
Teori Kritis
Menyatakan bahwa sains harus menjelaskan hukum dalam masyarakat
Percaya bahwa masyarakat ditandai oleh historisitas (terus mengalami perubahan)
Tidak membedakan masa lalu dengan masa kini
Membedakan masa lalu dan masa kini
Bersifat non etis
bersifat politis karena berpartisipasi dalam mendorong perubahan sosial
Dianggap sebagai ideologi baru yang muncul pada masa Kapitalisme akhir
Menganggap dirinya sebagai ilmu yang membebaskan manusia dari keterasingan dan penindasan
Mengabaikan sejarah
Menekankan pentingnya sejarah dan analisis sejarah
Berambisi menjadikan sosiologi sebagai disiplin yang otonom (hiperosiologi)
Bertujuan mengembangkan teori sosial yang interdisiplin
Berusaha merumuskan hukum sosial yang menjelaskan variasi dalam perilaku sosial
Menolak konsep hukum sosial dan berusaha menjelaskan sejarah sosial untuk mendapatkan pemahaman tentang bagaimana sejarah dapat berubah
Menekankan pada penjelasan kausal
Menekankan pada historisitas
Tidak memiliki tujuan politik
Memiliki tujuan politik
Tujuan pengetahuan adalah perumusan hukum sosial
Tujuan pengetahuan adalah memunculkan kesadaran yang mendorong terjadinya perubahan sosial
Cenderung melihat kehidupan sosial sebagai proses alamiah
Memusatkan perhatiannya pada aktivitas menusia maupun pada cara-cara aktivitas tersebut memengaruhi struktur sosial yang lebih luas
Dianggap mengabaikan aktor dengan menurunkan derajat aktor ke derajat pasif yang ditentukan oleh kekuatan alamiah
Menolak gagasan bahwa hukum sains dapat diterapkan terhadap tindakan manusia begitu saja
Dianggap berwatak konservatif, sehingga tidak mampu menantang sistem yang ada yang dianggap menindas
Mengklaim bersifat progresif, yang bertujuan membebaskan manusia dari tatanan sosial yang menindas
Mengabsolutkan “fakta” dan reifikasi tatanan yang ada
Tidak “mendewakan fakta’
Menilai bahwa teori dan praktik tidak dapat dihubungkan
Menilai bahwa teori berhubungan dengan praktik sosial
Berakar dalam tradisi ilmu pengetahuan alam
berakar dari realitas sosial
Pengetahuan demi pengetahuan
Pengetahuan demi pembebasan
Hubungan antara mitos dan rasionalisme bersifat evolusioner
Hubungan antara mitos dan rasionalisme bersifat dialektik

kemandekan teori-teori Sosiologi 

Keberadaan dan munculnya Teori Kritis merupakan sinyal positif bagi perkembangan ilmu sosiologi. Terlepas dari sejumlah kriti dan kontroversi yang melingkupinya, kemunculan Teori Kritis telah menjawab berbagai pertanyaan seputar kemajuan teori sosiologi yang ada. Sebelumnya ilmu sosiologi dianggap telah kehilangan vitalitasnya dengan adanya kemandekan dalam perkembangan teori-teorinya. Munculnya Teori Kritis dianggap membawa angin segar bagi revitalisasi dalam disiplin ilmu sosiologi.

Kemandekan Teori Marxisme Klasik

Teori Kritis mengambil kritik terhadap teori Marxian sebagai titik tolaknya.Teori ini merasa berkeberatan dengan pemikir-pemikir Marxisme yang menganut konsep determinisme ekonomi yang bersifat mekanistis.
Konsep determinisme ekonomi menjadi sasaran kritik Teori Kritis karena konsep determinisme ekonomi telah mengabaikan dimensi kehidupan sosial yang sangat majemuk dan beragam serta multi dimensional.
Teori Kritis menuduh para pemikir Marxisme telah menafsirkan pemikiran Marx terlalu mekanistis.Teori Kritis tidak menyatakan bahwa determinisme ekonomi adalah keliru—ketika memusatkan perhatiannya pada masalah ekonomi—akan tetapi para pemikir Marxisme seharusnya juga memberikan perhatiannya pada aspek kehidupan sosial lainnya.Sehingga dengna demikian, Teori Kritis menilai bahwa Marxisme ortodoks juga memiliki watak positivis sebagaimana teori-teori sosial lainnya.

Tradisi pemikiran filsafat Jerman

Teori Kritis tidak dapat dilepaskan dari tradisi pemikiran filsafat Jerman seperti pemikiran Hegel, Karl Marx dan Max Weber. Pemikiran ketiga tokoh terbut terlihat mewarnai pandangan-pandangan Teori Kritis

Berkembangnya Tradisi Marxisme di Eropa khususnya Jerman

perpecahan kalangan Marxis di Jerman dan posisi cendekiawan Kritis

Pasca Perang Dunia I, terjadi perpecahan dikalangan Marxisme Jerman.Terdapat dua kubu yang saling bertentangan , yaitu partai komunis jerman dan partai sosial demokrat Jerman. Kalangan cendekiawan Kritis merupakan pihak yang tidak mau bergabung dengan partai-partai Komunis pro Soviet yang telah dianggap telah menghianati pesan inti ajaran Marx, yaitu membebaskan manusia yang tertindas. Mereka juga tidak mau bergabung dengan partai-partai sosial demokrat yang dianggap sudah kehilangan sifat revolusioner Marxisnya.

Terjadinya Perang Vietnam dan merebaknya gerakan-gerakan hak-hak sipil dan gerakan perempuan

Berpindahnya sejumlah tokoh teori Kritis ke Amerika. Hal ini pada mulanya sebagai reaksi atas berkuasanya Nazisme di Eropa.Para pemikir Teori Kritis ketika berada di Amerika kemudian makin mengembangkan analisa kulturalnya setelah melihat kondisi sosial Amerika yang berbeda dnegan Jerman. Di Jerman mereka melihat banyak demonstrasi kaum buruh, sedangkan di Amerika mereka melihat secara langsung dominasi budaya media yang mencakup film,musik,radio, televisi dan budaya massa lainnya terhadap masyarakat.


HAKEKAT TEORI KRITIS

Merupakan Neo-Marxisme

Teori Kritis merupakan teori yang tidak dapat dipisahkan dari pemikiran Karl Marx, karena bagaimanapun, Teori Kritis merupakan pengembangan lebih lanjut dari Marxisme di Barat.

Teori-teori Marxisme di Barat, yang kemudian dikenal dengan nama “Marxisme Kritis” atau “Neo-Marxisme” merupakan serangkaian usaha untuk menyegarkan kembali pemikiran filosofis Karl Marx yang telah dibekukan menjadi alat ideologis di tangan Partai Komunis Uni Soviet.

Beberapa kesamaan antara Teori Kritis dan Marxisme Klasik antara lain :

Menggambarkan hubungan antara struktur dan manusia secara dialektis
Menjelaskan tentang eksploitasi,dominasi, dan penindasan
Bersifat subjektif
Merupakan teori total/teori komperhensif, bukan teori parsial
Merupakan teori sosial
Menganggap ideologi sebagai kesadaran palsu yang diciptakan oleh elit sosial
Menolak gagasan utopia
Menitikberatkan pada kritik dan mengubah masyarakat kontemporer



Berupaya merevitalisasi Teori Marxisme

Teori Kritis berupaya mengembangkan teori Marxisme dengan melalui pendekatan interdisipliner. Para teoritisi Teori Kritis sadar bahwa situasi dan kondisi masyarakat saat itu sudah jauh berbeda dengan situasi dan kondisi masyarakat pada masa Marx hidup.

Berbagai ramalan Marx tentang perjuangan dan konflik kelas dan masyarakat tanpa kelas tidak kunjung menjadi kenyataan. Zaman bari sosialisme secara otomatis juga tidak dapat diharapkan lagi.

Marxisme diakui merupakan sebuah gagasan yang sebagian ajarannya masih relevan sedangkan sebagian lainnya sudah usang. Berikut ini adalah aspek-aspek ajaran Marx yang masih relevan dan yang sudah usang :

Ajaran Marx yang sudah usang
Ajaran Marx yang masih relevan
Sosialisme ilmiah sudah mati
Metode dialektis
Materialisme dialektik sudah mati
Teori alienasi
Teleologi dan fungsionalisme sudah mati
Teori penindasan
Teori ekonomi Marxian sudah mati
Teori Marx tentang perubahan teknologi
Teori kekuatan-kekuatan produksi dan hubungan-hubungan produksi sudah mati
Teori Marx tentang kesadaran kelas dan perjuangan kelas
John Elster,2000

Mencoba mengkritik Teori Sosiologi mainstream sekaligus juga mengkritik Marxisme

Perbedaan antara Teori Kritis dan Marxisme Klasik ditunjukkan oleh keterangan berikut :

Marxisme Klasik
Teori Kritis
Agama sebagai kesadaran palsu
Ilmu sosial positivis (ekonomi dan sosiologi) sebagai kesadaran palsu
Kapitalisme awal
Kapitalisme lanjut
Fokus pada aspek politik-ekonomi
Fokus pada aspek budaya
Cenderung determinisme (ekonomi)
Mendukung voluntarisme
Analisa ekonomi
Menggunakan analisis psikoanalisa dan budaya
Dictator proletariat
Menentang dictator proletariat karena dapat menjadi diktator atas kaum proletar
Mendorong aksi revolusioner
Menolak pragmatisme revolusioner
Memiliki unsur positivisme
Menolak positivisme
Teori makro objektif dan makro subjektif
Teori makro dan mikro subjektif
Faktor ekonomi (kepemilikan alat produksi) menjadi faktor penghambat mobilitas sosial
Selain faktor ekonomi, faktor lain seperti jender,ras,agama dan asal-usul kebangsaan dapat menjadi faktor penghambat mobilitas sosial
Fokus pada infrastruktur/basis ekonomi
Fokus pada superstruktur kultural
Menganggap sistem kapitalis didukung semata oleh kelas pemilik modal
Menganggap  kapitalisme didukung oleh semua kelas sosial termasuk kelas pekerja
Melihat aspek ekonomi sebagai sumber penindasan
Melihat kultur sebagai sumber penindasan
Tidak memperhatikan dimensi psikologis individu
Memperhatikan aspek psikologis individu
Melakukan reduksionisme dogmatis dan terjebak pada absolutisme metafisika
Mengkaji salingketerkaitan antara kehidupan ekonomi masyarakat, perkembangan pikiran dan jiwa individu dan transformasi di bidang kebudayaan


PEMIKIRAN YANG MEMENGARUHI TEORI KRITIS

Teori Marxisme tentang dominasi dan eksploitasi

Teori Weber tentang rasionalitas

Teori Psikoanalisa Sigmund Freud tentang kesadaran (dan ketidaksadaran)

Teori Materialisme Hegel

TEORI SOSIAL YANG TERPENGARUH TEORI KRITIS

Teori Kritis atau pemikiran Kritis kontemporer telah berkembang luas.Teori Kritis itu sendiri bukan merupakan teori yang tunggal, tetapi bersifat pendekatan multidisiplin.Teori Kritis mencakup antara lain sejumlah teori sebagai berikut :

Teori Kritis Mazhab Frankfurt (Frankfurt School)

Teori Postmodernisme

Teori Multikulturalisme

Teori Feminisme

Cultural Studies

Teori Post Kolonial



KRITIK TEORI KRITIS

Kritik adalah konsep kunci untuk memahami Teori Kritis. Kritik juga merupakan suatu program bagi Mazhab Frankfurt untuk merumuskan suatu teori yang bersifat emansipatoris tentang kebudayaan dan masyarakat modern. 

Kritik-kritik mereka diarahkan pada berbagai bidang kehidupan masyarakat modern seperti seni,ilmu pengetahuan, ekonomi, politik dan kebudayaan pada umumnya yang bagi mereka telah menjadi rancu karena diselubungi ideologi-ideologi yang menguntungkan pihak-pihak tertentu sekaligus mengasingkan manusia individual di dalam mayarakatnya.

Teori Kritis lahir sebagai jawaban atas berbagai wacana dan situasi sosial yang berkembang selama ini di masyarakat. Berikut ini adalah sejumlah kritik yang dikemukakan oleh Teori Kritis, yang ditujukan baik kepada filsafat dan metodologi pengetahuan maupun terhadap kebudayaan masyarakat Kapitalisme kontemporer :

Mengkritik ilmu sosial, karena :

♦ ilmu sosial tidak bisa bersifat objektif karena ide-ide adalah produk dari masyarakat dimana mereka hidup

♦ ilmu sosial tidak bisa bebas nilai, karena para ilmuan sosial tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dalam karyanya

♦ ilmu sosial tidak boleh selalu mendukung status quo, karena ilmuan sosial harus menjadi agen perubahan

Mengkritik ilmu sosiologi, karena :

♦ sosiologi dianggap ‘terlalu ilmiah”, yakni terlalu menjadikan metode ilmiah sebagai tujuan di dalam dirinya sendiri

♦ sosiologi dianggap menerima status quo

♦ sosiologi dianggap tidak serius mengkritik masyarakat

♦ sosiologi dituduh tidak berupaya merombak struktur sosial masa kini

♦ sosiologi dianggap telah melepaskan kewajibannya untuk membantu rakyat yang tertindas

♦ sosiologi dianggap lebih memperhatikan masyarakat sebagai satu kesatuan ketimbang memperhatikan individu dalam masyarakat

♦ sosiologi dianggap mengabaikan interaksi individu dan masyarakat

♦ sosiologi dituduh tidak mampu mengatakan sesuatu yang bermakna tentang perubahan politik yang dapat mengarah kepada sebuah masyarakat manusia yang adil

♦ sosiologi dinilai telah menjadi bagian integral masyarakat yang ada ketimbang menjadi alat untuk mengkritiknya dan menjadi agen untuk pembaruan tatanan sosial

♦ sosiologi dianggap telah menjadi ideologi tertentu dengan kepentingan mempertahankan status quo

♦ teori-teori sosiologi dinilai bersifat ahistoris dan asosial

♦ metode deduktif dan induktif yang digunakan dalam sosiologi seringkali mengakibatkan manipulasi terhadap objek

Mengkritik Marxisme, karena :

♦ Marxisme dianggap terlalu mekanistis

♦ Marxisme dianggap terlalu determinisme ekonomi

♦ Marxisme dianggap mengabaikan aspek kehidupan lainnya terutama aspek kultural

♦ Marxisme dianggap terlalu Positivistik

♦ Marxisme Klasik dianggap kurang mampu menganalisa masyarakat Kapitalisme Lanjut


Mengkritik masyarakat modern, karena :

♦ masyarakat modern atau masyarakat Kapitalisme Lanjut telah mendominasi dan merepresi masyarakat secara budaya

♦ masyarakat modern bersifat irasional dan penuh dengan ketidakrasionalan

♦ masyarakat modern merupakan masyarakat yang paradox, meskipun terlihat rasional akan tetapi secara keseluruhan tidak rasional ;sebagai contoh mengaku cinta perdamaian akan tetapi terus menerus mengobarkan peperangan,masyarakat modern ditandai oleh kemajuan ekonomi akan tetapi banyak orang hidup dalam kemiskinan

♦ menurut Herbert Marcuse, masyarakat modern menciptakan one dimensional man  (Manusia satu dimensi) yang dikontrol dari luar dan tidak mampu berfikir kritis terhadap masyarakat

♦ teknologi tidak bersifat netral

♦ produktivitas masyarakat modern dianggap bersifat destruktif bagi masa depan kemanusiaan

♦ dominasi yang dilakukan oleh masyarakat modern terhadap individu telah menjadi sangat besar melebihi dominasi yang dialami individu sebelumnya.Hal itu disebabkan karena teknologi yang diproduksi oleh masyarakat modern telah menghasilkan berbagai metode kontrol sosial dan kohesi sosial yang baru dan lebih efektif serta ‘lebih menyenangkan” bagi individu.

♦ Mrenurut Erich Fromm, masyarakat modern/teknologi telah menciptakan alienasi. Hubungan sesama manusia didasarkan atas kepentingan dan bukan cinta. Orang dinilai dari status, bukan sebagai individu

♦ Menurut Theodore Adorno, masyarakat modern telah menciptakan kepribadian yang otoriter

Mengkritik kebudayaan massa, karena :

♦ budaya massa merupakan produk industri

♦ budaya massa penuh dengan kepalsuan-kepalsuan

♦ budaya massa menimbulkan efek menetramkan, membius, dan menekan

♦ budaya massa menjadikan individu-individu tidak kreatif

♦ budaya massa seperti music pop/jazz memperkuat keteraturan sosial yang melanggengkan alienasi (Adorno)



KARATERISTIK DAN CIRI TEORI KRITIS

Bertitik tolak dari Marxisme dengan tokohnya antara lain Marx Horkheimer, Jurgen Habermas,Adorno, Herbert Marcuse dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut :

√ Horkheimer :

pemikiran Horkheimer dapat dilihat dari perbedaan pandangannya dengan Karl Marx sebagai berikut :

Aspek perbandingan
Karl Marx
Max Horkheimer
Tenaga produktif utama
modal
Teknik dan ilmu pengetahuan
Penindasan manusia pada masyarakat kapitalis
Penindasan borjuis terhadap proletar
Penindasan dilakukan semua oleh sistem produksi yang sangat ditentukan oleh teknologi
Posisi kaum proletar dalam revolusi
Sebagai subjek
Kaum proletar tidak lagi menjadi subjek revolusi
Arti penting revolusi
Bertujuan menciptakan masyarakat yang ideal
Bertujuan mengembalikan keadaan semula, yakni masyarakat penuh penindasan
Sasaran kritik
Teori ekonomi kapitalis
Kebudayaan teknokratis
Determinisme suprastruktur
Menentukan kesadaran manusia
Tidak lagi menentukan
Visi teori
Masyarakat tanpa kelas (classless society)
Masyarakat emansipatoris
Bagong Suyanto, 2013

√ Jurgen Habermas :

menganalisa tentang hubungan antara pengetahuan dan kepentingan manusia. Menurut Habermas, sistem pengetahuan ada pada level objektif, sedangkan kepentingan atau minat manusia adalah fenomena subjektif.

√ Adorno :

memahami media industri budaya hanya sebagai alat dominasi dan cenderung hanya melahirkan bentuk-bentuk popular seni yang a-estetik

√ Herbert Marcuse :

menganggap bahwa teknologi modern tidak netral dalam dunia modern dan sebaliknya, telah menjadi alat untuk menguasai rakyat sehingga menimbulkan “Masyarakat berdimensi tunggal’, dimana individu kehilangan kemampuan untuk berfikir secara kritis dan secara negatif tentang masyarakat. Dengan kata lain Marcuse telah mengagap teknologi sebagai alat untuk mempertahankan dan melancarkan keberlangsungan dominasi.

√ Erich Fromm :

melakukan reinterpretasi terhadap psikoanalisis. Menurut Fromm, kepribadian terbentuk melalui medium interaksi sosial, disamping melalui proses sosialisasi yang didalamnya diwarnai impuls-impuls instingtual dan insting sosial dan kebutuhan pemeliharaan diri

berfokus kepada analisa mengenai dominasi,eksploitasi dan penindasan

berpandangan bahwa dominasi bersifat struktural, oleh Karena itu upaya untuk mengungkap struktur tersebut akan dapat membantu masyarakat dalam memahami akar global dan rasional penindasan yang mereka alami

berkeyakinan bahwa struktur dominasi direpreduksi melalui kesadaran palsu manusia dan dilanggengkan oleh :

♦ ideologi (Marx)
♦ hegemoni (Antonio Gramsci)
♦ pemikiran satu dimensi (Herbert Marcuse)
♦ metafisika Kebenaran (Derrida)
♦ reifikasi (Lukacs)

Berkeyakinan bahwa perubahan sosial dimulai dari rumah, pada kehidupan sehari-hari manusia, misalnya seksualitas, peran keluarga, dan tempat kerja

berkeyakinan bahwa manusia bertanggungjawab sepenuhnya atas kebebasan mereka sendiri serta mencegah mereka agar tidak menindas sesamanya

memiliki komitmen dan tujuan politik serta berpandangan bahwa komitmen politik tidak perlu dipertentangkan dengan objektivitas

percaya bahwa tujuan pengetahuan adalah untuk mengangkat kesadaran lalu memberikan kontribusi bagi perubahan sosial

mencoba memusatkan  perhatian pada penindasan kultural atas individu dalam masyarakat

Menurut Habermas, Teori Kritis bukanlah sebuah teori “ilmiah” sebagaimana yang dikenal oleh kalangan publik.


ASPEK KAJIAN DAN RUANG LINGKUP TEORI KRITIS


♦ negara dan kebijakan sosial
♦ kontrol sosial
♦ budaya popular
♦ analisis wacana
♦ kajian media massa
♦ sosiologi pendidikan
♦ gerakan sosial
♦ metode penelitian
♦ ras dan etnisitas
♦ politik dan politik makro
♦ pendidikan dan politik kurikulum (Bagong, 2013)




METODOLOGI TEORI KRITIS

Teori Kritik berambisi untuk menjadi sebuah paradigma baru di dalam ilmu-ilmu sosial, dengan mencoba menyusun metodologinya sendiri sebagai berikut :

Teori Kritis meyakini bahwa ilmuan sosial mempunyai kewajiban moral untuk mengubah dan memperbaiki masyarakat

Menurut Teori Kritis, kepentingan teori sosial adalah ingin mewujudkan emansipasi, yang ingin membebaskan manusia dari struktur sosial yang menindas. Oleh karena itu, Teori Kritis juga dikenal dengan Mazhab Emansipatoris.

Teori Kritis menolak pemisahan antara fakta dan nilai

Bersifat historis, artinya memiliki kaitan dan relevansi dengan lingkungan sosial nyata kehidupan manusia

bersifat interdisipliner ; menurut Teori Kritis, realitas sosial tidak dapat dipahami hanya dengan satu perspektif saja, oleh karena itu dibutuhkan multiperspektif dari berbagai disiplin keilmuan.

Teori Kritis mendekonstruksi Hukum Besi Kapitalisme, Patriarki, Rasisme, dan dominasi terhadap alam.

menggunakan metode kualitatif, partisipatoris dan emansipatoris

merupakan perluasan dari teori sosiologi menuju teori sosial, sehingga mengandung konsekuensi metodologis dan politis

menolak segala bentuk sosiologi mainstream konservatif dan kontemplatif yang berambisi menemukan dan menerangkan hukum gerak sosial

Teori Kritis berupaya menganalisa masyarakat sebagar realitas sosial secara filosofis sekaligus empiris (Giddens, 2008)

Teori Kritis merupakan sebuah metodologi yang berdiri di dalam ketegangan dialektik antara filsafat dan ilmu pengetahuan (sosiologi)

Teori Kritis tidak memperlakukan Marxisme sebagai norma melainkan memperlakukannya sebagai alat analisis.

Berupaya mengaitkan antara rasio dan kehendak,riset dan nilai,pengetahuan dan kehidupan,teori dan praxis.



KRITIK TERHADAP TEORI KRITIS

Teori Kritis walaupun lahir sebagai reaksi terhadap imu pengetahuan khususnya ilmu sosiologi yang dianggap telah menjadi instrument dari kelas yang berkuasa, akan tetapi Teori Kritispun tidak lepas dari berbagai kritik, baik terkait dengan metodenya maupun realita yang dihadapinya. Berikut ini adalah sejumlah kritik terhadap Teori Kritis :

♦ Teori Kritis dianggap telah memorak-porandakan legitimasi ilmiah sosiologi, yang telah dengan susah payah berusaha mendapatkan pengakuan sosiolosi akademik sebagai satu disiplin.

♦ Teori Kritis dianggap bersifat nonkuantitatif sehingga gagal meraih standar metodologis sains

♦ Teori Kritis dinyatakan bersifat politis, menolak adopsi standar bebas nilai positif

♦ Teori Kritis  tidak memiliki “data”

♦ Teori Kritis  dianggap mempertahankan spekulasi murni

♦ Teori Kritis dianggap tidak menilai tinggi legitimasi disipliner

♦ Teori positivis menyalahkan Teori Sosial Kritis karena mendeligitimasi sosiologi pada saat ia memerlukan semua bantuan institusional yang seharusnya ia peroleh.

♦ Teori Kritis tidak dianggap sebagai “sosiologi sejati”

♦ Teori Kritis dianggap berada di luar batas, tidak relevan dan”subversif”

♦ Teori Kritis dianggap mundur ke ruang filsafat

♦ Teori Kritis dianggap seringkali tidak membumi

♦ Teori Kritis dianggap gagal untuk memberikan bukti empiris atas teorinya

♦ Teori Kritis dianggap sering kali menggunakan bahasa yang samar sekaligus tidak terpahami

♦ Alih-alih mampu menjelaskan realitas sosial secara total dan kontekstual, Teori Kritis justru dituduh terlalu ahistoris, menelaah berbagai peristiwa tanpa banyak memperhatikan konteks historis dan komparatifnya

♦ walaupun teori kritis berupaya menjembatani antara teori dan praktik, namun pada kenyataannya, teori kritis juga gagal menjembataninya.Teori Kritis dianggap gagal dalam mengintegrasikan keduanya

♦ Menurut George Ritzer Teori Kritis dianggap hampir tidak dapat dipahami oleh kebanyakan masyarakat

♦ Dalam komitmennya untuk mempelajari kultur dan superstruktur, Teori Kritis membahas sejumlah topik yang sangat esoteris dan tidak banyak membicarakan tentang perhatian pragmatis sehari-hari.

♦ Teori Kritis disebut sebagai “paradigm yang gagal”.Hal itu disebabkan karena pada akhirnya Teori Kritis diketahui memiliki ide-ide dasarnya dari Marxisme,sosiologi neo-Marxian, dan bahkan sosiologi arus utama yang selalu menjadi sasaran kritiknya.

♦ Teori Kritis dianggap gagal dalam mewujudkan impiannya mentransformasi masyarakat dan melakukan emansipasi sosial. Sistem kapitalisme modern terbukti dapat menunjukkan dirinya sebagai sistem yang kenyal dan kokoh serta memiliki kemampuan yang tinggi dalam beradaptasi.

♦ Teori Kritis dianggap memiliki kelemahan dalam hal keterbatasan teori dan metodologi mereka sendiri

♦ Teori Kritis dikritik karena Marxisme itu sendiri sebagai akar dari Teori Kritis dinilai salah. Ramalan-ramalan Marx bahwa Kapitalisme “sedang menggali lubang kuburnya” sendiri tidak pernah terwujud, demikian pula dengan perjuangan kelas dan masyarakat tanpa kelas yang diidamkan oleh Marx.

PERKEMBANGAN TEORI KRITIS SELANJUTNYA

Teori Kritis dalam perjalannya banyak mengalami perubahan arah, diantaranya dapat dilihat dari pemikiran Jurgen Habermas. Pemikiran Habermas diketahui telah mengalami perubahan. 

Dari pengembangan sebuah teori kritis masyarakat kemudian berubah ke arah penelitian kondisi-kondisi “ material” perwujudan komunikasi yang bebas dari represi. Pada akhirnya teori Kritis Habermas lebih diarahkan pada perumusan sebuah teori komunikasi.(Hardiman, 1990)

Pengembangan teori Kritis yang dilakukan oleh Habermas tersebut merupakan salah satu upayanya untuk mengeluarkan Teori Kritis dari jalan buntu. Sudah sejak lama Teori Kritis mengalami kemandekan yang menghambat perkembangannya. 

Teori Kritis juga banya ditinggalkan oleh para peneliti sosial karena dianggap mengulangi berbagai kesalahan metodologis sebagaimana teori-teori sosiologi yang sebelumnya menjadi sasaran kritik dari Teori Kritik itu sendiri.

Kemandekan dan jalan buntu yang dihadapi oleh Teori Kritis menunjukkan sekali lagi bagaimana suatu teori yang mendasarkan diri pada warisan Marxisme gagal mendorong praxis perubahan kualitatif masyarakat modern dengan dasar teori itu sendiri.

Akan tatapi bgaaimanapun juga Teori Kritis telah memberikan sumbangan terhadap perkembangan ilmu sosial khususnya sosiologi dalam upayanya mengkritik positivisme dan saintisme di lapangan epistemologi.





REFERENSI :

Anthony Giddens, Social Theory Today, Yogyakarta : Pustaka Pelajar,2008

Bagong Suyanto, Sosiologi Ekonomi, Kapitalisme dan Konsumsi di Era Masyarakat Post-Modernisme,Jakarta : Kencana,2013

Ben Agger, Teori Sosial Kritis, Kritik, Penerapan dan Implikasinya,Yogyakarta : Kreasi Wacana,2017

Francisco Budi Hardiman, Kritik Ideologi, Pertautan Pengetahuan Dan Kepentingan,Yogyakarta : Kanisius,1990

George Ritzer, Teori Sosiologi Modern, Jakarta : Kencana, tanpa tahun

Herbert Marcuse, Manusia Satu Dimensi, Bentang : Yogyakarta, tanpa tahun

John Elster, Marxisme, Analisa Kritis, Jakarta : Prestasi Pustaka Raya, 2010

Nengah Bawa Atmaja dan Luh Putu Sri Ariyani, Sosiologi Media, Perspektif Teori Kritis, Depok  : Rajawali Press,2018

Novri Susan, Pengantar Sosiologi Konflik, Jakarta : Kencana,2009


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN ORDE BARU

PROGRAM TRANSMIGRASI PADA MASA ORDE BARU