FAKTOR PENYEBAB LEPASNYA TIMOR TIMUR DARI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
FAKTOR
PENYEBAB LEPASNYA TIMOR TIMUR DARI NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA
PENGANTAR
Lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
merupakan sebuah ironi bahkan tragedi terutama bagi mereka yang sudah bertarung
nyawa dalam rangka pengintegrasian Timor ke dalam Negara Kesatuan Republik
Indonesia.
Bagi mereka yang telah berjuang melawan Fretilin pada
dekade 1970-an, lepasnya Timor Timur dianggap sebagai sebuah pengingkaran
terhadap segala bentuk perjuangan mereka pada saat itu.
Lepasnya Timor Timur merupakan sebuah keputusan politik
yang diambil oleh Presiden B.J.Habibie, yang merupakan presiden pertama pada
masa Refomasi.
Habibie yang memerintah setelah Soeharto lengser keprabon mandeg pandito pada 21
Mei 1998 merasa terbebani oleh adanya aspirasi untuk melaksanakan demokrasi di
Indonesia.
Selain itu, bagi pemerintah Habibie, masalah Timor Timur
merupakan batu gankalan dalam politik diplomasi Indonesia di luar negeri.
Pemerintah Indonesia dianggap telah melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia,
terutama ketika terjadinya Peristiwa Santa Cruz di Dili pada 12 November 1991.
Peristiwa tersebut telah mencoreng wajah Indonesia di dunia
internasional. Pemerintah Indonesia dianggap tidak mampu mengatasi persoalan
Timor Timur dengan pendekatan selain pendekatan militer.
Referendum atau jajak pendapat yang ditawarkan oleh
pemerintah Habibie dengan UNTAET sebagai pelaksananya menghasilkan keputusan
yang tidak mengenakkan bagi pemerintah Indonesia. Lebih dari 70 % rakyat Timor
Timur menolak tawaran pemerintah mengenai Otonomi Khusus.
Setelah itu, dengan melalui jasa Perserikatan Bangsa Bangsa
Timor-Timur perlahan-lahan lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia
setelah disahkan oleh Sidang MPR.
LATAR
BELAKANG LEPASNYA TIMOR TIMUR
Lepasnya Timor-Timur dari Negara Kesatuan Republik
Indonesia disebabkan atau dilatarbelakangi oleh sebab yang bersifat
multidimensi. Terdapat banyak faktor yang jalin menjalin yang memberikan ruang
yang kondusif bagi terjadinya hal tersebut.
Berikut ini adalah kelemahan-kelemahan pendekatan yang
dilakukan oleh pemerintah yang menjadi faktor-faktor yang melatarbelakangi
lepasnya Timor Timur :
❶ Pengutamaan pendekatan militer ketimbang
pendekatan operasional :
Semenjak terintegrasikannya Timor Portugis, pemerintah
Indonesia cenderung
mengutamakan pendekatan militer dan keamanan dalam
mengendalikan dinamika sosial politik di Timor Timur.
Bahkan setelah Timor
Timur lama terintegrasi ke dalam NKRI tetap saja pendekatan keamanan menjadi yang
utama.
Dampaknya adalah munculnya kondisi saling mencurigai antara
rakyat Timor-Timur dengan aparat pemerintah baik sipil maupun militer. Bahkan pernah
terjadi kasus penembakan yang dilakukan ABRI terhadap warga sipil yang dikira
adalah anggota Falintil, yaitu organisasi militer dari Fretilin.
❷Kurang memahami konsep kontra gerilya ;
Walaupun sudah ditekan sedemikian rupa selama puluhan
tahun, kenyataannya Fretilin masih bisa bertahan. Hal itu disebabkan Fretilin
mengembangkan perlawanan melalui cara gerilya. Cara ini dilakukan dnegan
menyatu dan menyaru dengan rakyat. Konsep gerilya ini memungkinkan Fretilin
dapat hidup di tengah-tengah rakyat dan bahkan mendapatkan bantuan dari rakyat.
Selama ini ABRI kurang mengembangkan hubungan yang harmonis
dengan rakyat seperti memberikan bantuan kepada rakyat, menghormati adat
mereka, dan lain sebagainya.
Menurut Kiki Syahnakri ketika menjabat sebagai
Komandan Korem mengatakan bahwa sebaliknya, tidak sedikit anggota ABRI yang
memperlihatkan sikap angkuh, garang, dan tidak peduli dengan lingkungan.
(Syahnakri, 2013)
Banyak perilaku
aparat seperti aparat pemerintah, TNI, dna Polri yang cenderung arogan. Mereka
memperlihatkan sikap seolah-olah adalah penakluk atau kaum kolonial yang
berhasil menduduki sebuah koloni baru.
❸ Tidak memanfaatkan otoritas adat :
Di masyarakat Timor, lembaga adat merupakan lembaga yang
memiliki pengaruh yang sangat kuat. Pada masa penjajahannya Portugis
mengintegrasikan lembaga adat ke dalam sistem birokrasi pemerintahannya.
Akan tetapi ketika Timor Timur bergabung ke dalam NKRI yang
terjadi justru sebaliknya. Lembaga adat cenderung diabaikan dan dilemahkan
pengaruhnya. Hal ini akibat dikeluarkannya Undang-Undang Pemerintahan Desa.
Undang-undang tersebut meminggirkan peran lembaga adat dalam mengatur kehidupan
sosial masyarakat.
Bahkan pernah terjadi, karena alasan kesetiaannya terhadap
pemerintah Indonesia, kepala desa yang ditunjuk justru berasal dari kalangan
pembantu atau budak daripada pemimpin adat atau raja setempat.
Tentu saja hal ini menimbulkan resistensi dan ketidakpuasan
mereka terhadap pemerintah Indonesia.Dampaknya, instruksi pemerintah kepada
camat dan kepala desa kerpa tidak mengalir dengan baik karena terhambat oleh
resistensi para pemimpin adat, sedangkan masyarakat luas tentu lebih
mendengarkan ketua-ketua adat mereka.
❹Kurang melakukan pendekatan terhadap
Gereja :
Selain lembaga adat, pemerintah pusat juga dinilai abai
dalam melakukan pendekatan terhadap Gereja. Gereja memiliki pengaruh yang
sangat kuat dalam masyarakat Timor mengingat 90 % penduduk Timor Timur menganut
agama Karisten Katolik Roma.
Jangankan membangun komunikasi dengan Gereja, pemerintah
bahkan cenderung kurang dapat membangun hubungan yang harmonis dengan Gereja.
Hal ini berdampak kurangnya dukungan terhadap operasi yang dilakukan oleh ABRI
baik operasi militer maupun operasi teritorial.
❺Kebijakan pemerintah yang terlalu
sentralistik :
Kebijakan sentralistik tersebut mengakibatkan
terpinggirkannya kearifan-kearifan lokal yang ada pada masyarakat Timor Timur,
padahal kearifan lokal tersebut berperan penting dalam menunjang
program-program pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
❻ Tidak menyertakan ilmuan sosial dalam
perencanaan dan rekayasa sosial :
Pemerintah dianggap tidak melibatkan para sosiolog dan
antropolog dalam menyusun dan merencanakan pembangunan di Timor Timur, padahal
peran mereka sangat penting dalam menganalisa aspek-aspek
sosiologis-antropologis yang dapat dimanfaatkan dalam perencanaan pembangunan.
Mereka juga dapat dimanfaatkan untuk memetakan kondisi
serta tatanan sosial masyarakat setempat.
❼Kurangnya keterpaduan dan sinergi antar
aparat :
Misalnya dalam sebuah operasi militer dalam menghadapi
gerilya yang dilakukan oleh Fretilin/Falintil sangat diperlukan adanya
keterpaduan antara operasi polisional dan operasi pemerintahan sipil.
Diperlukan dukungan timbal balik antara operasi
justisi, operasi pembangunan nasional dan operasi militer. Operasi
miiter tidak akan berhasil jika masyarakat masih terpuruk perekonomiannya.
❽ Adanya strategi pembangunan yang tidak
tepat :
Tidak dapat dipungkiri bahwa memang semenjak berintegrasi
pembangunan di Timor Timur berjalan masif di segala bidang. Pemerintah
membangun pelbagai infrastruktur mulai dari rumah sakit, sekolah, universitas,
bandar udara, pelabuhan, dan lain sebagainya.
Akan tetapi, dalam pelaksanaannya pembangunan tersebut
lebih banyak dinikmati oleh kalangan tertentu saja. Misalnya proyek pembangunan
pabrik semen yang hendak didirikan di Timor Timur cenderung merugikan warga.
Pembangunan pabrik tersebut dapat berakibat kurangnya pasokan air tanah bagi
masyarakat sekitar, sedangkan imbal balik yang didapatkan oleh masyarakat
dinilai tidak sebanding dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkannya.
❾ Adanya praktek-praktek korupsi :
Praktek-praktek korupsi yang terjadi pada masa Orde Baru
tidak hanya terjadi di pemerintahan pusat, namun juga marak terjadi di
daerah-daerah tidak terkecuali Timor Timur.Misalnya pembangunan sebuah jembatan
di Maliana sampai diajukan anggarannya oleh tiga lembaga pemerintah, yakni
Depatermen Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Depatermen Pekerjaan Umum, dan
Pemerintah Daerah Timor Timur.
Pembangunan model semacam itu lebih cenderung terkesan
diproyekkan padahal seharusnya yang menjadi sasaran utama pembangunan sebuah
proyek adalah kepentingan dan kebutuhan ril masyarakat.
REFERENSI
:
Hendro Subroto, Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang
Prajurit Para Komando, Jakarta ; Kompas, 2009
Kiki Syahnakri, Timor Timur The Untold Story, Jakarta :
Kompas, 2013
Komentar
Posting Komentar