MASALAH TIMOR TIMUR DAN INTEGRASI BANGSA
MASALAH
TIMOR TIMUR DAN INTEGRASI BANGSA
PENGANTAR
Masalah Timor-Timur selalu
menjadi duri dalam daging bagi pemerintahan Orde Baru. Permaslahannya
adalah terletak dari proses bergabungnya Timor Timur yang sebelum itu dikenal
dengan nama Timor Portugal ke dalam wilayah Republik Indonesia.
Menurut sejumlah negara proses tersebut tidak sesuai dengan
prosedur hukum internasional. Bahkan sejumlah pihak menuding pemerintah
Indonesia melakukan pelanggaran hukum internasional dengan mengirim operasi
militer untuk menduduki Timor Portugal tersebut.
Anehnya, Amerika Serikat yang pada mulanya mendukung
integrasi Timor Portugal ke dalam wilayah Indonesia, akhirnya berubah sikap.
Amerika Serikat kemudian justru turut mendorong penyelesaian masalah Timor
Timur.
Sikap Amerika tersebut juga dilakukan oleh Australia.
Perubahan sikap kedua negara Barat tersebut terkait masalah Timor Timur
disebabkan atau dilatarbelakangi oleh sejumlah faktor :
❶
Setelah berakhirnya Perang Dingin yang ditandai oleh runtuhnya Uni Soviet dan
Tirai Besi, Komunisme dianggap Amerika tidak lagi menjadi ancaman global.
Sebaliknya, di era 1970-an, Komunisme masih dianggap
sebagai ancaman bagi kepentingan Amerika dan negara-negara Barat. Hal itulah
yang mendorong Amerika “merestui” tindakan militer Indonesia atas Timor Portugal
pada tahun 1975.
❷Terjadinya
perubahan politik di Amerika Serikat
❸
Australia memiliki kepentingan ingin menguasai Celah Timor (Timor Gap) yang
disinyalir memiliki cadangan minyak yang melimpah
Sikap yang sama juga dilakukan oleh Belanda. Walaupun tidak
memiliki kepentingan secara langsung dalam masalah Timor Timur, Jan Pronk
sebagai Ketua IGGI (Inter Govermental Group On Indonesia) pernah mengancam akan
menunda pemberian hutang kepada Indonesia selama masih ada persoalan Hak Asasi
Manusia di Timor Timur.
Pernyataan tersebut menjadikan Presiden Soeharto meradang.
Indonesia kemudian memberikan peringatan keras terhadap pernyataan itu,
sehingga akhirnya IGGI dibubarkan dan digantikan dengan CGI (Consultatif Group
On Indonesia)
Pemerintah Indonesia sendiri memiliki sejumlah alasan dan
argumentasi tentang mengapa Timor Portugal harus bergabung dengan Indonesia,
diantaranya adalah :
♦ Merdekanya Timor Portugal dianggap tidak realistis. Timor
Portugal tidak memiliki dukungan ekonomi
♦ Portugal sebagai penjajah Timor dianggap tidak
bertanggungjawab dengan tidak mengurus koloninya dengan baik
♦ kondisi Timor Portugal pada saat itu sedang mengalami
anarki dan chaos serta berpotensi mengancam keamanan Indonesia khususnya
wilayah Timor Barat
♦ Timor Portugal cenderung hendak dikuasai oleh golongan
kiri
♦ Timor Timur dianggap memiliki banyak kesamaan dengan saudara
mereka di Timor Barat, diantaranya adalah kesamaan suku bangsa, agama,
keturunan, dan juga kebudayaan
♦ Secara historis Timor imur pernah dipersatukan secara
administratif dengan daerah Indonesia lainnya pada masa Pendudukan Jepang
KONDISI
DI TIMOR TIMUR
Kondisi Timor-Timur sendiri selalu mengalami pergolakan
walaupun sudah terintegrasi ke dalam wilayah Indonesia sejak tahun 1976. Hal
itu disebabkan karena masih adanya kelompok perlawanan seperti Fretilin yang
menganut ideologi kiri. Walaupun terus didesak oleh ABRI, nyatanya Fretilin
tetap terus hidup dan melakukan perjuangan bersenjata melalui perang gerilya.
Pada tahun 1990 Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan
baru terhadap Timor Timur. Setelah dianggap sudah kondusif, Presiden Soeharto
merasa bahwa Timor Timur harus terintegrasi secara sempurna secara
sosio-kultural sebagaimana daerah lain di Indonesia.
Pada tahun 1990 Presiden Soeharto memutuskan bahwa Timor
Timur dinyatakan sebagai daerah terbuka. Dampak dari kebijakan tersebut adalah
membanjirnya arus migrasi penduduk dari Makasar dan Bugis ke Timor Timur.
Menurut Sintong Panjaitan yang ketika itu menjabat sebagai
Panglima Kodam di Timor Timur, kebijakan tersebut dirasa kurang tepat. Menurut
Sintong, kebijakan tersebut dapat menimbulkan bibit-bibit ketegangan dan
permusuhan antaretnis, khususnya antara pendatang dari Bugis-Makasar dan
penduduk asli Timor.
Apalagi menurut Sintong, penduduk Timor menganggap para
pendatang tersebut sebagai kelompok penghisap baru dan menghambat kehidupan
ekonomi mereka. Semenjak dibuka, para pendatang banyak menguasai sektor
perekonomian di Timor-Timur bahkan sampai tingkat kecamatan.(Subroto, 2009)
Perluasan pendidikan yang dilakukan oleh pemerintah pusat
di Timor Timur juga menambah persoalan baru. Meluasnya pendidikan yang tidak
disertai dengan pembukaan lapangan pekerjaan mengakibatkan timbulnya
pengangguran.
Mereka yang sudah lulus sekolah tidak mau bertani lagi.
Para pengangguran tersebut akhirnya membanjiri kota untuk berebut lapangan
kerja dengan para pendatang, akan tetapi sebagian besar kesempatan kerja jatuh
ke tangan pendatang.
Perluasan pendidikan juga menimbulkan persoalan lain. Para
lulusan pendidikan tinggi dari Timor yang menuntut ilmu baik di Universitas di
Timor Timur maupun di Pulau Jawa kemudian tumbuh sebagai kalangan iltelektual.
Mereka cenderung bersifat kritis terutama terhadap persoalan-persoalan di Timor
Timur. Kelompok kritis inilah yang kemudian menjadi kelompok intelektual yang
diantaranya memiliki aspirasi pemisahan Timor Timur dari Indonesia
Kedatangan pendatang juga ditengarai menimbulkan
persoalan-persoalan sosial baru. Salah satunya adalah dengan keberadaan
beberapa hotel dan daerah lokalisasi yang dianggap sebagai sumber demoralisasi
bagi penduduk asli Timor Timur. Hal itu sering memicu terjadinya tindakan di
luar hukum yang dilakukan oleh penduduk asli Timor terhadap para pendatang dan
dapat mendorong terjadinya konflik SARA.
Terbukanya Timor-Timor memiliki dampak lain di bidang
politik. Diantaranya adalah terbukanya Timor-Timur dimanfaatkan oleh sejumlah
Lembaga Swadaya Masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri untuk masuk
secara bebas ke Timor-Timur. Demikian pula dengan sejumlah wartawan asing.
Keberadaan mereka disinyalir tidak saja melakukan
pemberdayaan dan meliput kegiatan masyarakat Timor tetapi juga melakukan tindakan-tindakan
politik tertentu misalnya memberikan dukungan terhadap kelompok Fretilin yang
sikap politiknya tetap tidak berubah, yaitu menginginkan kemerdekaan bagi Timor
Timur.
REFERENSI
Hendro Subroto, Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang
Prajurit Para Komando, Jakarta ; Kompas, 2009
Julius Pour, Benny, Tragedi Seorang Loyalis,
Jakarta : Kata Hasta, 2007
Komentar
Posting Komentar