PERISTIWA PEMBAJAKAN PESAWAT GARUDA DC 9
PERISTIWA
PEMBAJAKAN PESAWAT GARUDA DC 9
PENGANTAR
Peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC 09 Woyla pada hari sabtu tanggal 28 Maret 1981 merupakan
peristiwa yang menghentakkan perhatian publik, bukan saja di Indonesia tetapi
juga di dunia.
Peristiwa itu terjadi ketika Presiden Soeharto sedang
berada di puncak kejayaannya. Kekuasaan Soeharto ketika itu sedemikian besar
dengan dukungan baik dari aparat militer maupun dinas intelejen yang ketika itu
sangat ditakuti oleh rakyat.
Ketika itu pemerintah dengan ketat melakukan pengawasan dan
kontrol yang ketat terhadap semua aspek kehidupan masyarakat. Pemerintah bahkan
memiliki mata dan telinga sampai di tataran akar rumput dengan adanya Badan
Pembina Desa atau Babinsa, yang tugasnya mengawasi kegiatan masyarakat sehari-
hari.
Peristiwa pembajakan tersebut bukan kali pertama terjadi.
Sebelumnya pernah terjadi aksi pembajakan, diantaranya adalah :
→ pembajakan pesawat Vickers Viscount 613 Merpati Airlines
dari Surabaya menuju Jakarta pada tanggal 4 April 1972. Pelakunya merupakan
pelaku tunggal yang bernama Hermawan yang mengancam dengan menggunakan granat
tangan.
Ia memaksa pesawat mendarat di Bandara Adisucipto,
Yogyakarta dan meminta tebusan uang 50 juta rupiah. Pembajakan berakhir ketika
ia ditembak mati oleh kapten pilot yang mendapatkan senjata dari aparat yang
berada di luar pesawat.
→ pembajakan pesawat Garuda DC-9 pada 5 September 1977 yang
tengah terbang dari Jakarta ke Surabaya. Pembajak tunggal bernama Triyudo yang
melakukan tindak pembajakan tersebut dengan tujuan ingin menegakkan keadilan di
muka bumi dengan caranya sendiri. Ia kemudian berhasil ditangkap dan dijatuhi
hukuman satu tahun enam bulan.
KRONOLOGIS
PERISTIWA
Peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-09 dengan tujuan
Medan tersebut dibajak setelah lepas landas dari Palembang. Ketika pesawat sudah
mengudara tiba-tiba sejumlah pembajak mengumumkan kepada seluruh penumpang, kru
pesawat termasuk pilot dan co-pilot bahwa pesawat sudah dibajak. Mereka
mengancam dengan menggunakan senjata pistol dan granat tangan.
Di bawah ancaman, pembajak akhirnya berhasil memaksa pilot
mendaratkan pesawatnya ke Penang, Malaysia. Setelah mendapat tambahan avtur
pesawat akhirnya kembali terbang dan kemudian mendarat di bandara Don Muang,
Thailand.
Para pembajak terdiri dari beberapa orang, yaitu Mahrizal
yang bertindak sebagai pimpinan pemberontak, Au Sofyan atau Soyfan Effendi,
Zulfikar, Abdullah Mulyono, dan Wendy.
Tuntutan pembajak yang mereka ajukan kepada pemerintah
Indonesia antara lain mereka menuntut semua kawan-kawan mereka yang ditahan
terkait kasus penyerangan markas polisi di Cicendo yang berjumlah 80 orang,
Bandung agar segera dibebaskan.
Selain itu mereka juga menuntut tebusan sejumlah uang
sejumlah 1,5 juta dollar AS. Mereka juga menuntut agar diterbangkan ke Colombo,
Srilanka. Mereka sendiri berencana melakukan penerbangan berikutnya dengan
tujuan Lybia.
Menanggapi tuntutan tersebut pemerintah bertekad tidak akan
memenuhi keinginan para pembajak. Pemerintah setelah mendapatkan masukan dari
sejumlah pihak terkait akhirnya memilih opsi operasi pembebasan tawanan secara
militer.
Pemerintah kemudian membentuk satuan tugas untuk
membebaskan sandera dan pesawat dengan menugaskan satu kesatuan Kopasanda yang
dipimpin oleh Letnan Kolonel Sintong Panjaitan.
Pemerintah Indonesia juga bersikap tegas terhadap
pemerintah Thailand. Pemerintah Indonesia bersikeras bahwa penanganan kasus
pembajakan ini harus ditangani oleh pihak Indonesia. Sebelumnya pemerintah
Thailand ingin agar kasus ini ditangani oleh angkatan bersenjata Thailand.
Setelah aksi pembajakan berlangsung beberapa hari akhirnya
pasukan komando bergerak. Operasi militer tersebut berlangsung dalam waktu yang
relatif singkat, yaitu 3 menit, dari 3 menit 30 detik dari waktu yang
diperkirakan semula.
Aksi pembebasan tersebut mengakibatkan semua pembajak
tertembak mati, sedangkan dari pihak tentara satu orang tewas tertembak, yaitu
Ahmad Kirang. Selain itu pilot pesawat, Herman Rante juga terbunuh setelah
ditembak oleh Abu Sofyan di bagian kepala.
LATAR
BELAKANG
Peristiwa pembajakan pesawat Garuda DC-09 bukanlah peritiwa
tunggal yang terpisah dengan peristiwa lainnya. Pembajakan tersebut terkait
erat dengan Peristiwa Cicendo. Peristiwa Cicendo yang terjadi beberapa bulan
sebelumnya adalah peristiwa penyerbuan markas polisi di Cicendo Bandung yang
dilakukan oleh jamaah pimpinan Imron dengan pimpinannya Salman Hafidz.
Peristiwa Cicendo yang menewaskan tiga anggota polisi dan
dirampasnya beberapa pucuk senjata tersebut bertujuan agar jamaah Imron dapat
memiliki senjata yang rencananya akan mereka gunakan dalam sebuah revolusi
utopis yang sedang mereka rencanakan.
Jamaah Imron sendiri adalah sebuah komunitas keagamaan
ekslusif yang dipimpin oleh seorang otodidak yang bernama Imron Bin Zeid. Imron
yang merupakan seorang orator ulung berhasil menghimpun sejumlah pemuda dari
Jakarta dan Bandung. Mereka kemudian membentuk sebuah kelompok keagamaan dan
membaiat Imron sebagai pemimpinnya.
Jamaah Imron memiliki paham keagamaan radikal. Pemikiran
dan doktrin keagamaannya dipengaruhi kuat oleh Revolusi Iran yang dipimpin oleh
Ayatollah Khomeini pada tahun 1979.
Revolusi yang berhasil menumbangkan monarki Iran pimpinan
Reza Pahlevi tersebut kemudian mengubah Iran sebagai sebuah Republik Teokratik
yang dipimpin oleh para Mullah yang memiliki kekuasaan yang tidak terbatas
(Wilayatul Faqih)
Awalnya Imron sempat menjalin komunikasi dengan kedutaan
besar Iran di Indonesia dan berupaya mendapatkan bantuan khususnya senjata dan
uang. Imron juga menawarkan kepada kedutaan besar Iran akan rencananya menculik
Menteri Minyak Irak, Achmad Yamani yang ketika itu akan melakukan kunjungan ke
Bali dalam sebuah pertemuan OPEC pada awal tahun 1981.
Ketika itu Iran memang sedang terlibat dalam perang dengan
Irak. Akan tetapi tawaran Imron tersebut ditolak oleh Kedutaan Besar Iran yang
tidak mau menanggung resiko atas petualangan Imron tersebut.
Jamaah Imron sendiri memiliki paham keagamaan yang tertutup
dan radikal. Beberapa doktrin dan pemikiran dari jamaah Imron antara lain
sebagai berikut :
❶ menganggap
pemerintah Indonesia telah sesat karena tidak menjalankan Hukum Islam
❷ mengecam
para ulama yang dianggap kompromistis dengan pemerintah seperti Buya Hamka,
Mohammad Natsir, dan Ketua Majelis Ulama Jawa Barat, K.H.Z.E.Muttaqien
❸ mengklaim
menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh dan totalitas (kaffah)
❹ bertujuan
hendak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam seperti Iran
❺ mewajibkan
para pengikutnya melakukan ritual pembaiatan kepada imamnya
Peristiwa pembajakan yang dipimpin oleh Mahrizal tersebut
terjadi pada saat pemerintah Orde Baru sedang mengalami ketegangan dengan umat
Islam. Di era 1970-an akhir sampai akhir dekade 1980-an, pemerintah bertindak
keras dan represif terhadap umat Islam.
Sejumlah kebijakan pemerintah saat itu dianggap tidak
sesuai dengan aspirasi umat Islam, seperti adanya Rancangan Undang-Undang
Perkawinan dan mengenai Aliran Kepercayaan yang diakui secara resmi oleh
pemerintah.
Dekade tersebut juga sedang terjadi serangkaian peristiwa
yang kemudian dikenal dengan istilah Komando Jihad. Peristiwa Komando Jihad
adalah adanya wacana dan kegiatan yang hendak memunculkan kembali Darul Islam,
setelah berakhir pada tahun 1962 dengan dihukum matinya Karotosuwiryo, Imam
Tertinggi Gerakan Darul Islam.
Sebagaimana Peristiwa Komando Jihad, peristiwa pembajakan
dan juga penyerangan markas polisi di
Cicendo meninggalkan sejumlah kontroversi.
Sejumlah pihak menyebut ada
keterlibatan intelejen dalam peristiwa-peristiwa tersebut. Hal ini misalnya
terungkap dalam sidang pengadilan yang mengadili Imron yang digelar setelah
peristiwa drama pembajakan pesawat Garuda
DC-09 berakhir.
Dalam sidang tersebut terungkap keterlibatan seorang
anggota TNI yang bernama Najamuddin. Najamuddin menurut angota jamaah Imron di
pengadilan adalah aparat yang disusupi ke dalam kelompok Imron untuk melakukan
provokasi. Najamuddinlah orang yang mendorong kelompok Imron untuk segera
melakukan aksi kekerasan dengan memberikan akses kepada senjata api.
REFERENSI
:
B.Wiwoho, Operasi WoylaJakarta : Menara Gading, 1981
Emron Pankapi, Hukuman Mati Untuk Imam Imran, Bandung :
Alumni, 1982
Hendro Subroto, Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang
Prajurit Para Komando, Jakarta ; Kompas, 2009
Julius Pour, Benny, Tragedi Seorang Loyalis,
Jakarta : Kata Hasta, 2007
Komentar
Posting Komentar