PERISTIWA TALANGSARI
PERISTIWA
TALANGSARI
PENGANTAR
Talangsari III adalah nama sebuah dusun di Kelurahan
Rajabasa Lama, Kecamatan Way Jepara, Lampung Tengah. Peristiwa Talangsari yang
terjadi pada tanggal 5-7 Februari 1989 merupakan sebuah tragedi kemanusiaan.
Ratusan orang menjadi korban akibat peristiwa tersebut.
Yang menjadi korban bukan saja orang dewasa akan tetapi perempuan dan
anak-anak. Menurut Al Chaidar yang menjadi korban sebanyak 27 sampai 31 orang
tewas sedangkan menurut pemerintah jumlah korban tewas 9 orang.
Peristiwa Talangsari merupakan sebuah ironi sejarah,
mengingat pada waktu itu, diakhir dekade 1980-an, hubungan pemerintah Orde Baru
dan umat Islam boleh dikatakan sudah relatif baik. Pada saat itu pemerintah
Orde Baru menjalankan akomodasi terhadap umat Islam. Sejumlah kebijakan yang
dikeluarkan oleh pemerintah Soeharto memberikan angin segar kepada umat.
Misalnya pemerintah memasukkan pendidikan agama ke dalam
kurikulum pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah juga mengizinkan
pembentukan Bank Muamalat yang merupakan bank syariah pertama di Indonesia.
Pemerintah juga mensponsori berdirinya Ikatan Cendekiawan
Muslim Indonesia, yaitu wadah bagi sejumlah akademisi dan kalangan cendekiawan
muslim yang diketuai oleh B.J.Habibie yang merupakan orang kepercayaan Presiden
Soeharto.
Peristiwa Talangsari adalah peristiwa bentrok senjata
antara pemerintah melalui Operasi Garuda Hitam yang dipimpin oleh Hendropriyono
dan sebuah komunitas keagamaan yang dipimpin oleh seorang tokoh agama lokal,
Anwar Warsidi. Pemerintah Orde Baru sendiri menyebut kelompok Warsidi dengan
sebutan Gerakan Pengacau Keamanan (GPK).
Pada saat itu aparat militer melakukan penyerbuan terhadap
komunitas yang dipimpin oleh Anwar Warsidi tersebut setelah sebelumnya terjadi
insiden penembakan yang berakibat kematian yang dilakukan oleh jamaah Anwar Warsidi
terhadap seorang Komandan Koramil Way Jepara, Kapten Soetiman.
Kapten Soetiman terbunuh setelah anggota jamaah Warsidi
melakukan serangan mendadak terhadap rombongan aparat yang hendak melakukan
negosiasi dengan Warsidi dan kelompoknya.
KELOMPOK
WARSIDI
Komunitas keagamaan yang dipimpin oleh Anwar Warsidi yang
dikenal dengan nama Jamaah Mujahiddin Fisabilillah awalnya merupakan kelompok
keagamaan kecil yang beranggotakan sejumlah pengikut. Kelompok ini menjadi
radikal setelah kedatangan sejumlah orang dari Jakarta, yaitu Nur Hidayat, Ahmad
Fauzi, Wahidin, dan Sudarsono.
Keempat orang dari Jakarta tersebut kemudian memprovokasi
kelompok jamaah Warsidi dengan menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah
bertindak zalim terhadap umat Islam.
Setelah itu jamaah Warsidi kemudian menjadi semakin politis.
Mulai muncullah gagasan yang hendak menghidupkan kembali Negara Islam Indonesia
yang pernah diperjuangkan oleh Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo pada dekade
1950-an.
Kelompok Nurhidayat sendiri adalah sebuah kelompok sempalan
dari Negara Islam Indonesia (NII). Setelah ditangkapnya Kartosuwiryo pada tahun
1961 dan dihukum mati pada tahun berikutnya, kelompok NII tercerai berai.
Muncul berbagai kelompok sempalan yang memiliki pimpinannya masing-masing.
Pemikiran Nurhidayat kemudian menjadikan jamaah Warsidi
menjadi radikal. Mereka kemudian mengembangkan sejumlah doktrin dan pemikiran
yang radikal sebagaimana berikut :
❶mengkafirkan
orang-orang yang yang tidak sealiran dengan mereka
❷menganggap
pemerintah Indonesia kafir karena tidak menegakkan Hukum Islam
❸menolak
Pancasila yang dianggap telah menjauhkan umat Islam dari agamanya
❹memiliki
keyakinan bahwa melakukan perlawanan terhadap pemerintah merupakan bentuk Jihad
Fisabilillah dan kalau meninggal akan dianggap mati syahid
❺haram
hukumnya menjadi pegawai negeri dan haram juga hukumnya memakan uang gaji dari
pegawai negeri
❻pemerintah
dianggap kerjanya hanya mengkorup uang rakyat
Kelompok jamaah Warsidi akhirnya semakin radikal. Mereka
menentang program-program pembangunan yang diselenggarakan oleh pemerintah.
Mereka bahkan mengancam Sukidi, Kepala Dusun Talangsari II Way Jepara, Lampung
Tengah dan warga setempat.
Hal ini kemudian mendorong Sukidi melaporkan kegiatan
Warsidi kepada Amir Puspa Mega, Kepala Desa Rajabasa Lama dan kemudian
melanjutkan ke otoritas di atasnya, yaitu Kecamatan Way Jepara yang kemudian
berujung terjadinya bentrok ketika aparat sipil dan koramil hendak melakukan
peninjauan terhadap jamaah Warsidi tersebut.
Selain itu kelompok jamaah Warsidi juga melakukan sejumlah
aksi seperti :
√ melakukan pembajakan terhadap sebuah angkutan desa yang
menewaskan seorang Pratu Budi Waluyo
√ melakukan penyerangan terhadap kantor Korem 043 Garuda
Hitam dengan melemparkan bom molotov
LATAR
BELAKANG SOSIO-EKONOMI DAN POLITIK
Selain faktor –faktor di atas, Peristiwa Talngsari memiliki
akar dalam sejarah sosio-ekonomi dan politik/ideologis di kawasan Lampung,
khususnya Lampung Tengah. Beberapa hal yang melatarbelakangi peristiwa tersebut
antara lain :
♦ dibukanya kawasan Lampung sebagai daerah transmigrasi oleh
pemerintah
♦ sejarah Lampung ditandai oleh adanya konflik-konflik
agrraia yang sudah berlangsung lama
♦ adanya marjinalisasi ekonomi akibat pembangunan dan
proses modernisasi
♦ munculnya gagasan untuk menghidupkan kembali Darul Islam
(revivalisme)
REFERENSI
:
Al Chaidar, Lampung Bersimbah Darah, Menelusuri Kejahatan
“Negara Intelejen” Orde Baru Dalam Peristiwa Jamaah Warsidi, Madani Press, 2000
Widjiono Wasis, Geger Talangsari, Serpihan Gerakan Darul
Islam, Jakarta : Balai Pustaka, 2001
Komentar
Posting Komentar