PENELITIAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA
PENELITIAN
KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Antropologi dipelajari oleh masyarakat hampir di semua
negara di dunia, sehingga dalam perkembangannya pernah dikenal berbagai istilah
yang berhubungan dengannya. Dahulu di negara-negara Eropa Barat dikenal istilah
Etnografi, yang berarti uraian tentang berbagai suku bangsa di luar Eropa
seperti kehidupan suku-suku bangsa yang ada di Asia, Afrika, Amerika dan
Oceania.
Selanjutnya dikenal pula dengan etnologi yang berarti
ilmu mengenai bangsa-bangsa. Di Inggris dan Amerika Serikat istilah ini banyak
digunakan. Tetapi kemudian Etnologi berkembang menjadi salah satu cabang dari
Antropologi yang khusus mempelajari sejarah perkembangan kebudayaan manusia.
Di Jerman dan Belanda digunakan istilah Volkerkunde
atau Volkenkunde yang artinya ilmu bangsa-bangsa dan istilah Kulturkunde yang
berarti ilmu kebudayaan. Meskipun memiliki istilah yang berbeda-beda, namun
semuanya itu mempunyai pengertian dan pengkajian dalam bidang yang sama, yaitu
menjadikan umat manusia sebagai objek penelitian dan pusat penelitiannya.
Antropologi sebagai ilmu murni dan ilmu terapan. Antropologi
sebagai ilmu yang mempelajari manusia melalui ciri-ciri fisik, adat istiadat
dan budaya. Jika dilihat dari aspek keilmuan, Antropologi sebagai ilmu yang
berada dipersimpangan antara ilmu sosial dan ilmu humaniora.
Antropologi
bersifat unik karena ia memiliki keragaman dalam hal pendekatan Analisa
kehidupan sosial masyarakat. Antropologi sebagai ilmu dengan pendekatan
komparatif (sinkronik) dan non komparatif (diakronik)
Selain itu keunikan antropologi dapat dilihat dari
prinsip-prinsip utama yang dimilikinya. Antropologi sebagai ilmu yang berada
diantara perspektif etik dan emik. Istilah emik berasal dari istilah
linguistik, yaitu fonemik (phonemic). Secara sederhana, emik mengacu pada sudut
pandang masyarakat yang diteliti.
Emik dapat dipahami sebagai cara untuk memahami dan
melukiskan suatu kebudayaan dengan mengacu pada sudut pandang atau perspektif
masyarakat pemilik kebudayaan yang dikaji. Apabila mengkaji suatu kebudayaan
menggunakan prinsip emik, temuan yang dihasilkan akan bersifat khas budaya atau
menghasilkan temuan yang berbeda pada konteks budaya yang berbeda pula.
Penelitian yang bersifat emik mengarah pada penelitian
eksplorasi, yakni mencari sebanyak mungkin konsep-konsep yang sudah dikenal dan
akrab dengan masyarakat itu sendiri sedangkan penelitian yang bersifat etik
lebih mengedepankan pendapat si peneliti karena konsep-konsep yang ada telah
dipersiapkan terlebih dahulu dalam memahami masyarakat.
Pendekatan emik semula dianggap sukses dalam konteks
menggali ide, pendapat, perasaan, sikap dan perasaan dan pendapat yang telah
berkembang dalam suatu kelompok masyarakat. Oleh karena itu orang di luar
masyarakat tersebut yang dapat dengan mudah memahami perilaku dan cara berfikir
yang berbeda dari cara yang ada dalam kebiasaan kelompoknya sendiri.
Pengetahuan emik dapat diperoleh melalui wawancara
maupun metode observasi, karena ada kemungkinan pengamat yang objektif dapat
menarik kesimpulan dari persepsi masyarakat yang diteliti.
PENELITIAN KEBUDAYAAN DI INDONESIA
Indonesia merupakan bangsa yang kaya akan ragam
budaya, Bahasa, ras dan unsur kebudayaan lainnya. Itulah sebabnya, Indonesia
sejak dahulu telah menjadi sasaran penelitian banyak ilmuan sosial baik dari
dalam negeri maupun dari luar negeri. Dari luar Indonesia terdapat sejumlah
ilmuan yang secara aktif melakukan kajian dan penelitian mengenai masyarakat
suku bangsa dan kebudayaannya di Indonesia.
Adapun tokoh pertama yang
merintis penelitian antropologi di Indonesia adalah Marsden. Marsden dikenal karena penelitian lapangan
deskriptifnya mengenai suku-suku bangsa di Pulau Sumatera yang dituangkan dlaam
bukunya yang berjudul Sejarah Sumatera.
Marsden menulis History of Sumatera yang merupakan karya
penting dalam menganalisa masyarakat dan kebudayaan di Sumatera. Karyanya
tersebut dibuat ketika berlangsungnya proses kolonialisme dan imperialisme di
Indonesia, khususnya di Pulau Sumatera.
Karya Marsden ini dianggap
sebagai prestasi besar dalam kajian mengenai masyarakat di luar Eropa. Marsden
menulis melalui pendekatan observasi dengan mendeskripsikan kehidupan sosial
antropologis masyarakat Sumatera pada abad 18 M.
Pada rentang tahun
1811-1816, terdapat tokoh yang Bernama Thomas Stanford Raffles. Rafless adalah
Letnan Gubernur Hindia Belanda yang merupakan wakil dari Guernur Jenderal
English East India Compagnie yang berkedudukan di Calcutta, India.
Raffles sangat menyukai
masyarakat Jawa dan kebudayaannya. Ia kemudian mengorganisir sejumlah bangsawan
dan cendekiawan Jawa untuk melakukan penyelidikan mendalam mengenai masyarakat
dan kebudayaan Jawa. Hasil penelitiannya kemudian memunculkan sebuah masterpiece
yang berjudul History of Java.
Seiring dengan politik pasifikasi Belanda terhadap Aceh,
muncul tokoh yang bernama Snouck Hurgronje.
Snouck Hurgronje merupakan
seornag orientalis dan indolog yang secara resmi ditugaskan oleh pemerintah
Kolonial Hindia Belanda untuk melakukan penyelidikan mengenai masyarakat dan
kebudayaan Aceh.
Tujuan penelitian tersebut
adalah dalam rangka menuntaskan upaya Belanda menaklukkan perlawanan rakyat
Aceh. Penelitian intensif yang dilakukan Snouck melalui observasi mendalam dan
wawancara etnografis tersebut dituangkan dalam bukunya yang fenomenal yang
berjudul “Masyarakat Aceh”.
Bukunya tersebut merupakan
telaah antropologi budaya lengkap yang ditulis dengan pendekatan empiris. Karya
Snouck tersebut ditulis dalam rangka membantu kolonialisme yang dilakukan oleh
Belanda terhadap kawasan Aceh.
Setelah Indonesia merdeka,
makin banyak tokoh asing yang turut melakukan penyelidikan mengenai kebudayaan
masyarakat Indonesia, di antaranya adalah
Clifford Geertz. Clifford Geertz secara gambling mengupas tuntas mengenai Identitas
primordial dan politik aliran yang ada di Indonesia, khususnya di Jawa.
Dalam penelitiannya di
sebuah kota kecil di Jawa Timur yang dituangkan dlaam bukunya yang berjudul The Religion of Java, Geertz membagi
kebudayaan di Jawa menjadi tiga kelompok, yaitu sub budaya priyayi, sub budaya
santri, dan sub budaya abangan. Selain itu Geertz terkenal dengan karyanya yang
lain seperti Agricultural Involution
(1963), Peddlers and Princes (1963)
dan Negara : The Theatre State in
Nineteenth-Century Bali (1980)
Tokoh lain yang tidak kalah
penting adalah Margaret Mead. Margareth Mead merupakan salah satu pelopor
antropologi budaya dan feminis Amerika di paruh kedua abad ke-20. Salah satu
prinsip Mead adalah keyakinanya bahwa kondisi budaya lebih menentukan daripada
karakteristik genetik dalam perilaku manusia. Mead juga menganut gagasan
mengenai relativitas kebudayaan dan relativitas moral tentang seksualitas.
Mead menentang pelabelan
terhadap sekelompok komunitas dengan sebutan primitif. Menurutnya perkembangan
manusia sangat bergantung pada lingkungan sosialnya. Diantara karya Mead dalah
‘Coming of Age in Samoa’ (Adolensce in Samoa) yang mengkaji mengenai
seksualitas remaja di Kepulauan Polinesia. Mead juga berkontribusi dalam
pembuatan film berbasis etnografi dengan judul Trance dan Learning to Dance in Bali.
REFERENSI :
Clifford Geertz, Politik Kebudayaan, Jakarta :
Kanisius, 1992
John Clammer, Neo Marxisme Antropologi, Yogyakarta :
Sadasiva, 1985
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1, Jakarta
: UI-Press, 2014
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1, Jakarta
: UI-Press, 2007
Louis Firth, Ciri-ciri dan Alam Hidup Manusia, Suatu
Pengantar Antropologi Budaya, Bandung ; Sumur Bandung, 1961
William A.Haviland, Antropologi 1, Jakarta ; Erlangga,
1985
Firth, Ciri-Ciri Alam Hidup Alam Manusia, Suatu
Pengantar Antropologi Budaya, Bandung ; Sumur Bandung, 1961
John Clammer, Neo Marxisme Antropologi, Yogyakarta ;
Sadasiva, 2003
Jonathan Turner, Fungsionalisme, Yogyakarta ; Pustaka
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta ;
Aksara, 1062
Parsudi Suparlan, Dari Masyarakat Majemuk Menuju
Masyarakat Multikultural, Jakarta ; YPKIK, 2008
Komentar
Posting Komentar