TEORI TEORI ANTROPOLOGI
TEORI
TEORI ANTROPOLOGI
Sebagaimana disiplin keilmuan lainnya, ilmu antropologi
memiliki sejumlah teori yang menjelaskan mengenai manusia sebagai makhluk
biologis maupun manusia sebagai makhluk sosial yang berkebudayaan. Berikut ini
adalah sejumlah teori utama di dalam antropologi.
Teori
ini dikembangkan oleh sejumlah tokoh utama seperti Auguste Comte, Herbert
Spencer dan Emile Durkheim. Tokoh-tokoh lain yang kemudian mengembangkan teori
evolusionisme adalah Lewis Henry Morgan melalui bukunya “Ancient Society”. Menurut Morgan, masyarakat semua baagsa di
dunia sudah atau masih menyelesaikan proses evolusinya melalui kedelapan
tingkat evolusi sebagai berikut :
1.zaman
liar tua ; sejak manusia ada sampai ia menemukan api
2.zaman
liar madya ; sejak manusia menemukan api hingga menemukan busur-panah
3.zaman
liar muda ; sejak manusia menemukan senjata busur-panah sampai ia menemukan
kepandaian membuat tembikar
4.zaman
barbar tua ; sejak manusia membuat tembikar sampai mulai beternak dan
bercocoktanam
5.zaman
barbar madya ; sejak manusia beternak dan bercocoktanam hingga ia menemukan
keterampilan membuat peralatan dari logam
6.zaman
barbar muda ; sejak manusia memiliki keterampilan membuat peralatan dari logam
sampai mengenal tulisan
7.zaman
peradaban purba
8.zaman
peradaban masa kini
Selai
itu juga terdapat Edward Burnet Tylor
dalam bukunya “Researches into the Early History of Mankind”Tylor antara lain
mengemukakan berdasarkan data-data statistik proses evolusi dari masyarakat matriarchate menjadi masyarakat yang
berpola patriarchate.
Teori
atau perspektif evolusionisme ini dipengaruhi oleh pemikiran dari seorang ahli
biologi yaitu Charles Darwin. Teori ini muncul dilatarbelakangi oleh kemajuan
yang dialami oleh masyarakat Eropa pada abad 18-19 M. Beberapa premis utama dan
teori ini antara lain sebagai berikut :
-sebagaimana
organisme, masyarakat berkembang dari bentuk yang sederhana menuju bentuk yang
lebih kompleks
-memiliki
kandungan rasisme yang menganggap ada kebudayaan yang lebih tinggi dan yang
lebih rendah
-memberikan
stereotipe kepada kelompok masyarakat tertentu seperti sebutan ‘primitif”,
‘terbelakang’ dan lain sebagainya
-bertujuan
mendukung dan melanggengkan kolonialisme Eropa
Teori
ini memiliki kelemahan, diantaranya adalah bahwa tidak selalu kebudayaan
mengalami perkembangan ke arah kemajuan, terdapat pula kebudayaan yang
mengalami kemunduran
2.
TEORI NEO EVOLUSIONISME
Teori Neo Evolusionisme merupakan pengembangan dari
teori evolusi. Ada tiga kerangka besar teori Neo Evolusi sebagai berikut :
-Teori Neo Evolusi yang dikembangkan oleh Gordon
Childe mengenai peristiwa perubahan besar dalam sejarah kebudayaan manusia yang
pada umumnya bersifat universal (universal evolution)
-Teori Neo Evolusi yang dikembangkan oleh Leslie White
tentang tahap-tahap kemajuan manusia dalam teknologi untuk menguasai
sumber-sumber energi yang semakin kompleks
-Teori Neo Evolusi yang dikembangkan oleh J.Steward yang menganalisa proses evolusi
kebudayaan yang berevolusi seragam dan ada pula yang tidak seragam dikarenakan
perbedaan lingkungan ekologinya (multilinealevolution)
-Teori Neo Evolusi yang dikembangkan oleh R.Naroll dan R.L.Charneiro mengenai perbedaan
sifat dan laju evolusi dari unsur-unsur kebudayaan yang mengakibatkan proses
perubahan (diferential evolution)
3.
TEORI DIFUSIONISME
Teori inidikemukakan oleh Eliot Smith, W.H.R.Rivers
dan F.Graebner. Beberapa premis utama dan ciri khas teori ini antara lain
sebagai berikut :
-kebudayaan manusia itu asal muasal atau pangkalnya
adalah satu
-kebudayaan induk tersebut kemudian mengalami difusi atau persebaran ke segala
arah dari pusat asal muasalnya dan pecah ke dalam banyak kebudayaan baru karena
pengaruh keadaan lingkungan dan waktu
-Dalam proses memecah tersebut bangsa-bangsa pemangku
kebudayaan baru tadi tidak tetap tinggal terpisah
-sepanjang masa di muka bumi ini senantiasa terjadi
gerak perpindahan bangsa-bangsa yang saling berhubungan serta saling
memengaruhi
-tugas terpenting ilmu etnologi antara lain untuk
mencari kembali sejarah gerak perpindahan bangsa-bangsa itu, proses
pengaruh-memengaruhi, serta persebaran kebudayaan manusia dalam jangka waktu
beratus-ratus ribu tahun yang lalu, mulai saat terjadinya manusia hingga
sekarang
-menganggap bahwa peradaban Mesir kuno merupakan asal
muasal kebudayaan yang kemudian berkembang ke segala penjuru dunia
-menentang paham evolusionisme
Teori ini memiliki kelemahan, diantaranya adalah
terdapat kenyataan empirik bahwa ada kebudayaan yang terisolir atau independen
yang tersekat dari kebudayaan-kebudayaan lainnya.
4.TEORI
HISTORISISME
Teori ini dikembangkan oleh Franz Boaz. Boaz merupakan
seorang antropolog Amerika yang dikenal sebagai tokoh sentral dalam
antropologi. Teori ini menolak perspektif baik evolusionisme maupun
difusionisme. Beberapa premis umum dan karakteristik teori ini antara lain
sebagai berikut :
-menilai bahwa setiap kebudayaan itu unik
-menilai bahwa masyarakat harus dipahami dari sudut
pandang masyarakat itu sendiri
-menganggap bahwa perkembangan kebudayaan masyarakat
di dunia harus dianalisa dari sejarah perkembangannya
Teori Historisisme ini melahirkan pandangan emik dan
konsep relativitas budaya.
5.TEORI
FUNGSIONALISME
Teori fungsionalisme diletakkan dasar-dasarnya oleh
Emile Durkheim, seorang ilmuan sosial dari Prancis. Pemikiran Durkheim selain
turut mengembangkan ilmu antropologi juga dikenal sebagai tokoh utama di dalam
ilmu sosiologi.Selain itu juga terdapat tokoh lainnya yang tidak kalah penting
seperti Bronislaw Malinowski dan Radcliffe Brown. Pemikiran fungsionalisme
Malinowsky secara tidak disengaja tumbuh seiring dengan penelitian etnografinya
terhadap masyarakat di Kepulauan Trobiand di sebelah tenggara Papua Nugini
dalam bukunya yang berjudul Argonauts of
the Western Pasific (1922) Pemikiran fungsionalisme Malinowski terkait
mengenai metode untuk mendeskripsikan berbagai kaitan yang berfungsi dari
unsur-unsur kebudayaan dalam suatu sistem sosial yang hidup.
Beberapa pemikiran dari teori fungsionalisme antara
lain sebagai berikut :
-masyarakat dapat dipahami jika fungsi suatu pola bisa
ditemukan
-menganggap bahwa setiap unsur kebudayaan berguna bagi
masyarakat di mana unsur tersebut berada
-menekankan bahwa perilaku dan kepercayaan merupakan
bagian dari kebudayaan masyarakat sehingga mempunyai peran mendasar dalam
kebudayaan yang bersangkutan
6.
TEORI ANTROPOLOGI SIMBOLIS
Pendekatan antropologi simbolis dikembangkan oleh
Clifford Geertz. Pemikirannya mengenai antropologi simbolis dipengaruhi oleh
pemikiran Max Weber dan Talcott Parson. Salah satu contoh analisa antropologi
simbolis dituangkannya dalam karnyanya yang berjudul Agricultural Involution
(1968)
Di dalam mendefinisikan kebudayaan, ahli antropologi
simbolik berbeda dengan aliran evolusionisme yang mendefinisikan kebudayaan
sebagai hasil cipta, rasa dan karsa manusia atau hasil kelakuan. Menurut
perspektif antropologi simbolik kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan
manusia yang dijadikan sebagai pedoman bagi kehidupan manusia.
Untuk memahami budaya, seorang pengkaji tidaklah
berangkat dari pikirannya sendiri tetapi harus berdasr pada apa yang diketahui,
dirasakan, dialami oleh pelaku budaya yang dikajinya atau yang disebut sebagai
“Form The Native Point`s of View, yang merupakan hakikat dari pemahaman
antropologis.
7.TEORI
MARXISME ANTROPOLOGI
Teori ini muncul dilatarbelakangi oleh bermunculannya
negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika yang menghadapi masalah
pembangunan pasca kolonial. Pemikiran ini didasarkan atas Marxisme yang
kemudian dikembangkan antara lain oleh Andree Gunner Frank melalui teori
dependensi atau teori ketergantungan. Teori ini dikenal juga dengan nama
antropologi ekonomi karena menjadikan ekonomi sebagai unit analisis
antropologi. Antropologi Marxis berkembang pesat di Rusia ketika era Soviet
(1922-1991), dimana dilakukan pengumpulan bahan-bahan mengenai aneka ragam
bentuk masyarakat di wilayah terseut untuk bisa didapatkan pemahaman yang
memadai mengenai suku-suku bangsa dan kebudayaan yang ada. Tujuan dari Marxisme
antropologi adalah dalam rangka mewujudkan masyarakat tanpa kelas yang tidak
tersekat-sekat ke dalam kelompok-kelompok kesukuan yang ada.
8.
TEORI STRUKTURAL RADCLIFFE BROWN
Teori-teori struktural dalam antropologi ada beberapa
macam, akan tetapi konsep pertama kalinya dikemukakan oleh Radcliffe Brown. Pemikiran
Brown dipengaruhi oleh psikologi eksperimental, ekonomi, dan filsafat.
Pemikiran Brown antara lain dihasilkan dari penelitian etnografinya
mengenai masyarakat suku di Andaman yang
ia tuangkan dalam bukunya The Andaman
Islander. Karyanya tersebut merupakan contoh dari suatu deskripsi
terintegrasi secara fungsional , di mana berbagai upacara agama dikaitkan
dengan mitologi atau dongeng-dongeng suci yang berkaitan, dan dimana pengaruh
serta efeknya terhadap struktur hubungan antara warga dalam suatu komunitas
desa di Andaman yang terpencil menjadi tampak jelas.
9.TEORI
STRUKTURALISME CLAUDE
LEVI STAUSS
Teori strukturalisme antropologi dikemukakan oleh
Claude Levi Stauss. Strauss adalah seorang antropolog Prancis. Kontribusi
Strauss terutama mengembangkan karya Saussure tentang bahasa ke masalah
antropologi, namun Strauss menerapkan strukturalisme ke bidang yang lebih
luas ke seluruh bidang komunikasi. Pembaruan utamanya adalah bahwa Strauss
mengonseptualisasi ulang sederetan luas fenomena sosial seperti sistem
kekerabatan sebagai sistem komunikasi, dan dengan demikian menyebabkannya dapat
dipertanggungjawabkan untuk analisis stuktural. Strauss menekankan kajiannya
pada bahasa sebagai unit analisis mendasar dalam antropologi struktural.
REFERENSI :
Clifford Geertz, Politik Kebudayaan, Jakarta :
Kanisius, 1992
John Clammer, Neo Marxisme Antropologi, Yogyakarta :
Sadasiva, 1985
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1, Jakarta
: UI-Press, 2014
Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1, Jakarta
: UI-Press, 2007
Louis Firth, Ciri-ciri dan Alam Hidup Manusia, Suatu
Pengantar Antropologi Budaya, Bandung ; Sumur Bandung, 1961
William A.Haviland, Antropologi 1, Jakarta ; Erlangga,
1985
Firth, Ciri-Ciri Alam Hidup Alam Manusia, Suatu
Pengantar Antropologi Budaya, Bandung ; Sumur Bandung, 1961
John Clammer, Neo Marxisme Antropologi, Yogyakarta ;
Sadasiva, 2003
Jonathan Turner, Fungsionalisme, Yogyakarta ; Pustaka
Koentjaraningrat, Pengantar Antropologi, Jakarta ;
Aksara, 1062
Parsudi Suparlan, Dari Masyarakat Majemuk Menuju
Masyarakat Multikultural, Jakarta ; YPKIK, 2008
Komentar
Posting Komentar