KATEGORISASI MASYARAKAT BETAWI

 

KATEGORISASI MASYARAKAT BETAWI

Masyarakat Betawi merupakan salah satu masyarakat suku bangsa yang ada di Indonesia. Masyarakat Betawi dikenal sebagai kelompok masyarakat yang pada awalnya mendiami Kawasan Kota Jakarta (dulunya Batavia). Berdasarkan sumber-sumber Belanda, masyarakat Betawi merupakan campuran dari berbagai kelompok etnik dan identitas lainnya yang sudah berasimilasi dalam rentang waktu yang lama.

Sejumlah unsur yang turut membentuk idetitas suku Betawi antara lain adalah unsur dari suku Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, Bugis, Bali dan lain sebagainya sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Betawi merupakan masyarakat campuran.

Pengaruh dari percampuran kebudayaan itu masih terlihat dari identitas dan simbol-simbol yang digunakan oleh orang Betawi. Misalnya sebutan baba menunjukkan adanya pengaruh Tionghoa, sebutan ana (berasal dari kata ana ; Arab) menunjukkan pengaruh Arab, akhiran in (masukin, dengerin, tolongin, dan lain sebagainya) menunjukkan adanya pengaruh Bali.

Dapat dikatakan semua orang Betawi menganut agama Islam. Islam telah menjiwai dan mendarahdaging dalam masyarakat dan kebudayaan Betawi. Agama Islam dan adat kebudayaan Betawi telah sedemikian sehingga membentuk kesatuan yang harmonis. Sebagian besar unsur kebudayan Betawi banyak yang terwarnai oleh ajaran-ajaran agama Islam.

Berbagai ritual kebudayaan masyarakat Betawi mulai dari perkawinan, kehamilan, kelahiran, khitanan, ritual menuju kedewasaan, sampai ritual kematian banyak ditandai oleh unsur-unsur ajaran Islam seperti pembacaan surat Al Fatihah, surat Yasin, Tahlil dan lain sebagainya.

Dari segi profesi, orang Betawi memiliki keragaman, mulai dari yang berprofesi sebagai petani, peternak, pedagang, sampai pegawai kantoran. Akan tetapi masih banyak orang Betawi yang bergerak di sektor perekonomian informal. Hal itu disebabkan karena faktor Pendidikan. Banyak orang Betawi yang kurang mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang pendidikan tinggi di universitas. Kondisi perekonomianlah yang nampaknya menjadi faktor penghambat.

Faktor pendidikan inilah yang menjadikan orang Betawi mengalami proses marjinalisasi atau proses peminggiran, baik secara ekonomi, sosial, budaya dan politik. Orang Betawi yang dulunya adalah pemilik lahan di banyak tempa di Jakarta, lambat laun mengalami perubahan.

Terjadi perubahan kepemilikan lahan di Jakarta yang sebelumnya dimiliki oleh orang Betawi kepada orang pendatang. Kondisi ini menjadi ironi, dewasa ini banyak anak-anak dari orang Betawi yang tidak memiliki tanah. Mereka terpaksa hidup mengontrak padahal dulunya orangtua mereka adalah pemilik lahan yang cukup luas.

Masyarakat Betawi merupakan kelompok masyarakat yang relatif belum lama dibandingkan dengan masyarakat suku bangsa lainnya.Masyarakat Betawi muncul pertama kali pada era kolonialisme Belanda pada abad 17 Masehi. Walaupun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kemunculan suku Betawi sudah jauh sebelumnya, yaitu ketika berdirinya Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat pada awal abad masehi.

Masyarakat Betawi dikenal sebagai masyarakat yang memiliki sejumlah karakteristik sebagai berikut ;

-percaya diri

-optimis

-humoris

-agamis

-terbuka

-pekerja keras

Dalam perkembangannya, etnik Betawi semakin besar jumlahnya dan menempati beberapa wilayah di tempat yang sekarang ini disebut dengan Jakarta. Menurut Yasmin Zaki Shahab, dalam Suswandari (2017) masyarakat Betawi diketegorikan ke dalam beberapa kelompok berdasarkan tempat tinggalnya, sebagaimana berikut :

Betawi Tengah :

Yang dikategorikan sebagai masyarakat Betawi Tengah adalah yang mendiami wilayah pusat kota , pusat pemerintahan dan pusat bisnis seperti Gambir, Menteng, Senen, Kemayoran, Sawah Besar, Taman Sari, Tanah Abang, dan Mester (Jatinegara). Orang-orang Betawi yang tinggal di kawasan ini sering juga disebut sebagai orang gedongan, karena mereka memiliki tingkat kehidupan yang relatif lebih baik.

Betawi Pinggir :

Mereka adalah yang mendiami wilayah di sekitar pasar, dari Kawasan pertanian Pasar Rebo, Pasar Minggu, Pulo Gadung, sampai Cilincing, Kebayoran Lama, Condet, Mampang Prapatan, Cengkareng, dan Kebon Jeruk. Kawasan ini merupakan kawasan pinggiran.

Kebanyakan penduduk hidup dari pertanian karena memang wilayahnya subur dan banyak terdapat sumber air. Pandangan tentang pendidikan tidak menjadi prioritas bagi masyarakat Betawi Pinggir pada masa itu.

Betawi Udik :

Mereka mendiami kawasan Cengkareng, Batu Ceper, Cileduk, Ciputat, Sawangan, Cimanggis, Pondok Gede, Bekasi, Cilandak, Kramat Jati, dan Cakung. Daerah tersebut merupakan daerah pedesaan dan berbatasan dengan daerah yang bebahasa Sunda. Kalangan Betawi Udik ini kemudian dibagi lagi menjadi dua kelompok :

→ kelompok yang dipengaruhi oleh budaya Sunda yang tinggal di kawasan Timur dan Selatan Jakarta, Bekasi, dan Bogor.

→ Kelompok yang dipengaruhi oleh budaya Cina yang tinggal di Utara dan Barat Jakarta serta Tangerang.

Betawi Pesisir :

Mereka mendiami wilayah sekitar Teluk Naga, Mauk, Japad, Tanjung Priok, Marunda, Kalapa, dan Kepulauan Seribu.(Suswandari, 2017)

Dewasa ini masyarakat Betawi telah mengalami perubahan yang sangat besar. Agak sulit rasanya untuk mengidentifikasi orang-orang yang dapat dikatakan murni sebagai orang Betawi. Sebagai dampak dari sikapnya yang terbuka, banyak orang Betawi yang kini menikah dengan orang-orang dari berbagai suku bangsa yang ada seperti Jawa, Sunda dan bahkan Batak. Akibatnya adalah hasil keturunan dari perkawinan campuran itu makin tidak teridentifikasi sebagai “orang Betawi”

Apabila dilihat dari aspek geografis, dewasa ini orang-orang Betawi makin sedikit yang menempati wilayah Kota Jakarta. Akibat dari makin mahalnya biaya hidup di Jakarta, maka banyak orang Betawi yang memilih tinggal di Kawasan sekitar pinggiran Jakarta seperti Depok, Bekasi dan Tangerang. Bahkan kini orang Betawi makin berberak menjauhi Jakarta dengan tinggal di Kawasan pinggiran Bogor seperti Citayam, Bojonggede, Tajurhalang, Tambun di Bekasi Selatan bahkan Cikarang dan Karawang.

 

REFERENSI :

 

Alwi Shahab, Betawi, Queen Of The East, Jakarta : Republika,2002

Alwi Shahab, Robin Hood Betawi, Jakarta : Republika, 2001

Bernard.H.M.Vlekke, Nusantara ; Sejarah Indonesia,Jakarta ; Gramedia,2008

Lance Castlles, Profil Etnik Jakarta, Depok : Masup Jakarta, 2007

Ridwan Saidi, Babad Tanah Betawi, Jakarta : Gria Media,2002

Suswandari, Kearifan Lokal Etnik Betawi, Yogyakarta : Pusatka Pelajar, 2017

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini