LAGU DAN KARAKTER MASYARAKAT BETAWI
LAGU
DAN KARAKTER MASYARAKAT BETAWI
TERBENTUKNYA
ETNIK BETAWI
Etnik Betawi adalah sebutan
sosio-kultural yang ditujukan kepada kelompok masyarakat yang mendiami Kawasan
Jakarta dan sekitarnya selama beberapa abad terakhir. Etnik Betawi memiliki sejumlah
unsur kebudayaan yang khas seperti Bahasa, kuliner, adat istiadat, kebiasaan
dan lain sebagainya. Terdapat beberapa pendapat mengenai asal-usul
masyarakat Betawi.
Pertama ; pendapat yang
menyebutkan bahwa masyarakat Betawi sudah ada semenjak sebelum kedatangan agama
Hindu dari India. Dengan demikian, Betawi bukalnlah produk kolonial, tetapi
hasil proses sosiokultural yang berlangsung sudah lama
Pebdapat pertama ini bahkan
menganggap orang Betawi pernah mendirikan kekuasana politik berbentuk kerajaan
yang dikenal dengan nama kerajaan Salakanagara yang berpusat di Condet, Jakarta
Timur sekarang. Hal ini didasarkan atas naskah Wangsakerta.
Kedua ; pendapat yang
menyebutkan bahwa orang Betawi muncul Ketika era kekuasaan kolonial Belanda di
Batavia khususnya pada masa VOC.
Pengetahuan mengenai
asal-usul Betawi didominasi oleh pandangan bahwa nama Betawi merupakan
keturunan budak atau bangsa Asia kelas rendah yang banyak terdapat di Batavia.
Secara sosiologis, Betawi lahir dari hasil perkawinan campur dari berbagai
keturunan, termasuk Cina, Bali, Jawa, Sunda serta etnik lainnya dan membentuk
identitas etnik sendiri.
Dalam perkembangannya, etnik
Betawi semakin besar jumlahnya dan menenpati beberapa wilayah yang meliputi
Jakarta sekarang dan Kawasan sekitarnya. Dewasa ini proses perkawinan campuran
atau amalgamasi orang Betawi makin masif.
Keturunan Betawi sekarang
ini sudah banyak yang menikah dengan orang dari kelompok etnik lainnya seperti
Minangkabau, Batak, Lampung, Bugis, dan lain sebagainya.
ANTROPOLOGI
BUDAYA
Kajian mengenai lagu atau syair merupakan bagian dari
kajian antropologi budaya. Kebudayaan merupakan salah satu aspek kehidupan
manusia ynag mendapat perhatian istimewa dalam ilmu antropologi, khususnya
antropologi budaya. Istilah budaya dan kebudayaan nampaknya tidak terlalu
dibedakan dalam antropologi.
Sifat khas kebudayaan suatu bangsa tidak muncul secara
kebetulan saja. Semuanya merupakan kesatuan dan terbentuk selama berabad-abad
lamanya. Menurut Stuart Chase, kebudayaan antara lain berfungsi memungkinkan
sebuah kelompok mempertahankan keberlangsungan hidup atau eksistensinya.
Keberadaan kebudayaan dalam kehidupan manusia ada;lah
fungsional dalam struktur-struktur kegiatan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup
manusia, sebagai manusia. Yaitu sebagai acuan dalam manusia berhubungan dan
mengidentifikasi berbagai kategori yang ada dalam lingkungan hidup dan menjadi
acuan bagi tindakan-tindakan pemenuhan kebutuhan hidup tersebut.
Istilah perbedaan kebudayaan memiliki arti dalam Bahasa
Inggris cultural difference. Konsep ini serupa dengan konsep relativisme
kebudayaan. Sebagaimana konsep relativisme kebudayaan, konsep perbedaan budaya
menganggap bahwa kebudayaan itu bersifat relative dan tidak bersifat mutlak.
Apa yang dianggap benar dan baik oleh sebuah kebudayaan belum tentu dianggap
serupa oleh kebudayana lain, bahkan bisa jadi malah sebaliknya, apa yang
dianggap benar menurut sebuah kebudayaan justru dianggap salah oleh kebudayaan
lain. Konsep ini selaras dengan prinsip dasar antropologi yang lebih menekankan
pada sudut pandang pemilik kebudayaan atau prinsip emik.
Lagu atau musik termasuk ke dalam unsur kebudayaan
universal khususnya mengenai kesenian. Setiap masyarakat memiliki ekspresi
estetika berupa kesenian seperti seni lukis, seni suara, seni pertunjukan, seni
rupa, dan lain sebagainya.
Beragam seni dipilahkan dalam jenis seni tari, seni
rupa, seni sastra, film, seni musik/suara, seni teater, dan seni kriya, dan
seni tari budaya Indonesia. Jumlah kesenian berdasarkan jenisnya mencapai
puluhan ribu. Khusus pada seni pertunjukan sebagai bagian kesenian yang
menyertakan perancang, pekerja teknis serta penampil (performers), yang mengelola,
mewujudkan serta mengujarkan sesuatu gagasan kepada pemirsa (audiences); baik
dalam wujud lisan, musik, tata rupa, ekspresi serta gerakan badan ataupun
tarian.
Lagu atau musik memiliki keterkaitan dengan kepribadian
kolektif. Keribadian sebuah kolektivitas atau sebuah kelompok dapat dilihat
dari unsur-unsur kebudayaan yang mereka miliki , salah satunya adalah lagu.
Lagu dalam kajian antropologi bukan sekedar hiburan semata. Lagu dan syair di dalamnya
ternyata menggambarkan kondisi mental-psikologi sebuah masyarakat.
LAGU
DAN KARAKTER MASYARAKAT BETAWI
Masyarakat Betawi termasuk salah satu masyarakat yang
kerap mengembangkan seni lagu. Hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Betawi
memiliki nilai budaya yang tinggi. Terdapat banyak lagu dan syair termasuk
pantun, puisi dan peribahasa yang dikembangkan oleh para budayawan dan musisi
Betawi.
Lagu daerah Betawi yang merupakan adaptasi dari pantun
dan puisi, menonjolkan nilai estetika yang tinggi. Dengan demikian, tidaklah
benar apabila terdapat stigma bahwa orang Betawi tidak berpendidikan dan kurang
beretika, terbukti mereka justru mengembangkan lagu-lagu dengan syair yang
indah dan bermartabat, namun tetap mudah didengar.
Inilah yang kemudian menyebabkan lagu-lagu Betawi
hingga saat ini masih bertahan dan tidak hanya dinyanyikan orang Betawi tapi
juga dari etnik lainnya. Lagu-lagu daerah Betawi menyimpan pesan dan nasehat
karena pendengarnya tentang baik dan buruk, serta benar dan salah. Dengan
adanya lagu ini karakter ‘nyablak’ yang sering distereotipkan kepada orang
Betawi tidak Nampak, karena mereka justru menggunakan kata-kata kiasan yang
halus untuk menyampaikan maksud kepada orang lain.
Salah satu karakter dalam lagu Betawi adalah syairnya
yang merupakan adaptasi dari puisi dan pantun. Oleh karena itu lagu-lagu
tradisional Betawi terikat oleh rima, jumlah suku kata dan larik. Selain itu
lagu tradisional Betawi mencerminkan keceriaan. Beberapa lagu daerah Betawi
popular adalah jail-jali, lenggang kangkong, keroncong kebayoran, kicir-kicir,
ondel-ondel, ronggeng Jakarta, sirih kuning dan surilang.
Berbagai lagu dan syair tersebut memiliki makna
simbolik yang tercermin dalam syair-syair dan juga ornamen musik yang
digunakan. Berikut ini adalah sejumlah contoh lagu Betawi dengan makna simbolik
di dalamnya :
-Jail-jali ; terkandung
unsur estetika
-Sirih kuning ;memuat nilai
etika
-Kompor meleduk ; menggambarkan
sikap nyablak atau apa adanya
-Keroncong ; menunjukkan sikap
terbuka
-Kicir-kicir ; menyimbolkan
nilai kebersamaan
-Lenggang kangkong ; merupakan
satire kehidupan sosial atau kritik sosial
REFERENSI :
Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
Jakarta : Djambatan, 1988
Suswandari, Kearifan Lokal Etnik Betawi, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2017
Komentar
Posting Komentar