NILAI BUDAYA DALAM KULINER MASYARAKAT BETAWI
NILAI
BUDAYA DALAM KULINER MASYARAKAT BETAWI
KARATERISTIK
SOSIOKULTURAL MASYARAKAT BETAWI
Masyarakat Betawi merupakan
kelompok masyarakat suku bangsa yang relatif lebih muda dibandingkan dengan
masyarakat suku bangsa lainnya. Asal usul masyarakat Betawi seringkali diliputi
oleh banyak kontroversi.
Ada pendapat yang menyebut
bahwa asal usul orang Betawi sudah ada sejak zaman prasejarah. Ketika itu
mereka disebut sebagai proto Betawi, atau cikal-bakal orang Betawi . Pendapat
ini dikemukakan oleh seorang sejarawan, Ridwan Saidi.
Lance Castles menyatakan
pendapat lain. Dia menyebut orang-orang Betawi pada mulanya berasal dari
kalangan budak yang didatangkan ke Batavia sejak zaman kekuasaan VOC, terutama
yang berasal dari Bali. Yang jelas orang Betawi merupakan keturunan dari hasil
percampuran etnis yang sudah berlangsung selama berabad sebelumnya.
Beberapa kelompok etnik yang
membentuk masyarakat Betawi menurut Suswandari antara lain ;
-Ambon
-Bali
-Banda
-Bugis
-Bima
-Buton
-Flores
-Jawa
-Melayu
-Sunda
-Sumbawa
Sedangkan, H.M.Vlekke
menyebutkan bahwa orang-orang Betawi
berasal dari orang-orang Jawa yang dikirim oleh Sultan Agung selaku
penguasa Mataram. Ketika itu Sultan Agung berupaya merebut benteng VOC di
Batavia. Oleh karena itu dikirimlah pasukan dari Jawa untuk menaklukkan VOV.
Ketika usaha tersebut
mengalami kegagalan, sebagoan orang-orang Jawa tersebut memutuskan tidak
Kembali ke desa mereka, mereka memutuskan untuk menetap di wilayah pinggiran
Batavia.
Masyarakat Betawi memiliki
sejumlah karakteristik yang menjadi kekhasan bagi mereka, diantaranya adalah :
• Tidak memiliki tradisi merantau atau bertransmigrasi
karena mereka berpendapat Jakarta adalah tanah leluhur mereka
• Mereka sangat toleran terhadap pendatang
• Masyarakat Betawi tidak pernah memiliki kerajaan dan
raja. Hal itu mengakibatkan masyarakat Betawi tidak terkungkung dengan
feodalisme
• Masyarakat Betawi hanya mau diatur oleh
aturan-aturan keagamaan, mengingat masyarakat Betawi termasuk masyarakat yang
kental keberagamaannya
• Orang Betawi pada umumnya tidak mengenyam pendidikan
yang memadai
NILAI
BUDAYA DALAM KULINER MASYARAKAT BETAWI
Masyarakat etnik atau
kelompok suku bangsa memiliki sejumlah ciri yang membedakannya dengan kelompok
suku bangsa lainnya. Salah satu faktor yang membedakannya antara lain kuliner
atau masakan dan minuman. Setiap suku bangsa memiliki makanan khas yang menjadi
ciri khasnya. Makanan atau kuliner tersebut sedemikian unik sehingga berfungsi
mengidentifikasi sebuah kelompok.
Masyarakat Betawi memiliki
sejumlah makanan atau kuliner tradisional. Makanan tradisional tersebut tetap
bertahan ditengah gempuran arus globalisasi yang membuka luas masuknya
unsur-unsur kebudayaan asing atau kebudayaan luar.
Beberapa contoh kuliner yang
dikenal dalam masyarakat Betawi antara lain sebagai berikut :
• Kerak telor
• Roti buaya
• Nasi uduk
• Sayur asem
• Asinan
• Bir pletok
• Dodol
• Kue kembang goyang
Makanan-makanan atau kuliner
tradisional di atas bukan sekedar makanan untuk mengenyangkan perut semata,
melainkan menjadi simbol yang memiliki makna budaya tertentu. Adapun makna yang
terkandung dalam makanan tradisional masyarakat Betawi antara lain relijius.
Nilai relijius ini tercermin
dari status kehalalan makanan yang dibuat. Masyarakat Betawi merupakan
masyarakat yang dapat dikatakan seluruhnya menganut agama Islam. Bukan semata-mata
Islam, akan tetapi masyarakat Betawi juga dikenal sebagai masyarakat yang
benar-benar memperhatikan aspek agama dalam kehidupan, termasuk dalam hal
makanan.
Masyarakat Betawi tidak
pernah menggunakan unsur-unsur yang haram dalam makanannya. Ketika pada era kolonial,
penjajah membawa tradisi meminum-minuman keras dari bahan yang beralkohol,
masyarakat Betawi kemudian membuat sebuah minuman yang mereka namakan bir
pletok.
Walaupun namanya bir, namun
minuman tersebut sama sekali tidak memabukkan karena tidak mengandung unsur
alcohol di dalamnya. Bir pletok merupakan minuman yang terbuat dari unsur-unsur
seperti rempah-rempah yang dibuat secara tradisional melalui home industri. Bir
pletok dengan demikian juga memiliki kandungan makna medis yang fungsional bagi
kesehatan manusia.
Unsur kebersamaan juga
merupakan nilai yang terkandung dalam kuliner Betawi. Sebagai contoh, proses
pembuatan dodol Betawi atau dodol cina dilakukan secara Bersama-sama atau
gotong royong yang melibatkan banyak orang. Hal itu bertujuan agar terwujud
keguyuban dalam masyarakat. Pembuatan dodol dilakukan sambil mengombrol
diantara anggota masyarakat.
Selain itu berbagai kuliner
Betawi juga memiliki kandungan makna yang bersifat politis dan juga ekonomis,
yaitu melambangkan status sosial dan memiliki makna politis sebagai bentuk legitimasi.
REFERENSI :
Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
Jakarta : Djambatan, 1988
Suswandari, Kearifan Lokal Etnik Betawi, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2017
Komentar
Posting Komentar