PENGOBATAN TRADISIONAL MASYARAKAT BETAWI
PENGOBATAN
TRADISIONAL MASYARAKAT BETAWI
SISTEM
KESEHATAN DAN ADAPTASI LINGKUNGAN
Manusia dalam menghadapi lingkungannya selalu
menggunakan berbagai model tingkah laku yang selektif (selected behaviour)
sesuai dengan tantangan lingkungan yang dihadapinya. Model tingkah laku
tersebut didasarkan atas norma, nilai, dan kosep pengetahuan yang diperoleh dan
dikembangkan serta diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Secara umum dinilai, norma dan berbagai konsep
pengetahuan yang mendasari tingkah laku dan tindak tanduk manusia ini dikenal
sebagai sistem kebudayaan. Strategi adaptasi dalam penguasaan lingkungan dengan
menggunakan kebudayaan tersebut
senantiasa diuji oleh waktu atau dengan kata lain oleh sejarah
perkembangan peradaban manusia.
Dengan demikian, strategi adaptasi itu juga selalu
mengalami perubahan, karena adanya unsur dinamik yang senantiasa melekat pada
strategi itu sendiri. Dinamika perubahan ini akan terasa lebih besar apabila
sering terjadi pertemuan antarbudaya atau interaksi sosial antarpendukung
kebudayaan.
Salah satu strategi adaptasi manusia untuk menguasai
lingkungannya ialah strategi di bidang kesehatan. Strategi ini tumbuh dan
berkembang dalam usaha manusia untuk menghindari dan menanggulangi penyakit.
Dalam menghadapi penyakit ini manusia telah mengembangkan suatu pengetahuan
yang luas dan kompleks yang mencakup kepercayaan, teknik, peranan, norma,
nilai, ideologi, sikap, kebiasaan, ritus, dan berbagai lambang atau simbol yang
satu sama lain bertalian erat dan membentuk suatu kekuatan.
Inilah yang melahirkan sistem kesehatan yang merupakan
keseluruhan pengetahuan, kepercayaan, keterampilan, dan praktek yang secara
komperhensif mencakup seluruh aktivitas klinis dan non klinis serta melibatkan
institusi formal dan informal, dan aktivitas lain. Strategi ini bertujuan untuk
memelihara tingkat kesehatan dalam rangka mengukuhkan fungsi kemasyarakatan
secara optimal.
Tingkah laku dalam menghadapi masalah kesehatan
bukanlah sesuatu perilaku yang acak (random behaviour), tetapi suatu tingkah
laku yang selektif, terencana, dan berpola dalam suatu sistem kesehatan yang
merupakan bagian integral dari budaya masyarakat yang bersangkutan.
Tingkah laku yang selektif tersebut merupakan suatu
strategi adaptasi sosial-budaya yang timbul sebagai respon terhadap ancaman
penyakit. Perilaku tersebut berpola dalam pranata sosial dan tradisi budaya
yang ditujukan untuk meningkatkan kesehatan.
Kebutuhan kesehatan bagi manusia tidak hanya merupakan
kebutuhan individual, tetapi merupakan kebutuhan kolektif. Ancaman penyakit
pada diri seseorang pada gilirannya akan mengancam eksistensi kehidupan
kelompok dan masyarakatnya.
Berbeda halnya dengan hewan, manusia tidak tega
meninggalkan anggotanya yang terserang penyakit. Oleh karena itu dalam
penanggulangan penyakit, terlihat banyak anggota kelompok yang terlibat agar si
sakit dapat sembuh dan dapat pula kembali memasuki peranan dan kewajibannya.
Sistem kesehatan merupakan suatu kumpulan ide, nilai,
serta praktek yang teratur dan berarti, terutama dalam konteks budaya tertentu
dari mana sistem itu berkembang. Sistem kesehatan merupakan satu kesatuan
hikarki yang tidak dapat dipisah-pisahkan.
Tindakan penyembuhannya berkaitan erat dengan ide
tentang sebab sakit dan bentuk penggolongan penyakit. Kesatuan hirarkis ini
ditujukan terhadap masalah penanggulangan keadaan sakit secara tepat guna.
PENGOBATAN
TRADISIONAL MASYARAKAT BETAWI
Orang Betawi mengenal dukun
sebagai tenaga pengobatan tradisional yang dianggap sebagai orang pintar dan
masih mendapatkan peran penting dalam spesifikasinya
seperti dukun bayi, dukun sembur, dukun urat dan lain sebagainya. Mereka
biasanya mendapatkan keahlian biasanya tanpa melalui pendidikan formal. Mereka
mendapatkan keahlianya disamping karena bakat lahir juga karena warisan dari
pendahulu mereka atau mendapatkan secara tiba-tiba yang disebut karomah.
Pengobatan ala Betawi banyak
yang dipengaruhi oleh nilai-nilai ajaran Islam. Hal itu tidak mengherankan
disebabkan karena telah terjadi proses interaksi yang panjang antara agama
Islam dan kebudayaan asli Betawi sehingga menghasilkan adanya harmonisasi
antara keduanya. Di antara pengaruh ajaran Islam dalam sistem pengobatan atau
sistem kesehatan Betawi adalah digunakannya ayat-ayat suci al Quran dan hadis
Nabi sebagai semacam “mantra” untuk menyembuhkan berbagai penyakit.
Termasuk diselenggarakannya
ritual pembacaan surat-surat dalam al Quran terutama surat Al Fatihah, al
Baqoroh, surat Yasin dan surat al Ikhlas, surat al Falaq dan surat an Nas. Ritual
ini yang disertai dengan pembacaan tahlil
oleh jamaah dan anggota keluarga yang dipimpin oleh seorang tokoh agama
setempat atau ustad yang biasanya juga merangkap sebagai imam masjid.
Pembacaan yasin dan tahlil
ini dilakukan untuk beberapa kepentingan seperti upacara nujuh bulanan, aqeqah
anak yang baru lahir, khitanan atau sunat, pindah rumah dan acara syukuran
lainnya. Pengobatan yang dimaksud dalam konteks ini adalah pengobatan yang
berdimensi nonmaterial, yaitu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan
terkait dengan penyakit baik fisik maupun non fisik.
Pengobatan tradisional
Betawi juga ditujukan untuk menyembuhkan orang yang dianggap terkena gangguan
roh halus seperti kesurupan. Fenomena ‘kesurupan” dianggap sebagai fenomena Ketika
seseornag “kemasukan” roh jahat yang menimbulkan sejumlah manifestasi seperti
berteriak-teriak, berbicara melantur dan tidak jelas bahkan Tindakan agresif
tertentu seperti melakukan serangan fisik kepada orang-orang yang ada di
sekitarnya.
Orang atau dukun (bisa juga
tokoh agama seperti ustad) melakukan pengobatan dengan cara membaca semacam
mantra atau doa tertentu seraya memegang sebagian anggota tubuh dari pasien
yang mengalami kesurupan. Kadang kala orang yang mengobati menyemburkan air
putih dari mulutnya ke pasien setelah air tersebut dibacakan mantra atau
doa-doa khusus.
Terkait dengan ramuan makanan
atau minuman tertentu yang menjadi bagian dari sistem pengobatan, pengobatan
tradisional Betawi menggunakan ramuan yang terdiri dari beberapa bahan alam atau herbal seperti kunyit,
kencur, jahe, pala, daun belimbing wuluh, daun sirsak, daun sirih dan lain
sebagainya.
Ramuan herbal tersebut
biasanya digunakan untuk sejumlah penyakit seperti ;
-Sakit lambung, yaitu denagn
campuran gula merah, lada dan air
-Mimisan dengan menggunakan
gulungan daun sirih yang dimasukkan ke dalam lubang hidung
-Asma dengan menggunakan
ramuan kencur, bawang merah dan daun belimbing wuluh
-Campak diobati dengan
ramuan daun jeruk dicampur dengan kunyit
Untuk pengobatan pasca
melahirkan, selama masa tersebut dibuat sayur papasan yang berisi sayur katuk,
sayur bayam atau sayur kangkong serta ramuan khas Betawi seperti sambetan, jamu
daun sembung, jamu air godogan, air daun kumis kucing dan jamu kayu rapat
REFERENSI :
Solita Sarwono, Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep
Beserta Aplikasinya, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1993
Sianipar, et, al, Dukun, Mantra dan Kepercayan
Masyarakat, Jakarta : Grafikatama Jaya, 1992
Alwi Shahab, Betawi, Queen Of The East, Jakarta :
Republika,2002
Alwi Shahab, Robin Hood Betawi, Jakarta : Republika,
2001
Bernard.H.M.Vlekke, Nusantara ; Sejarah
Indonesia,Jakarta ; Gramedia,2008
Lance Castlles, Profil Etnik Jakarta, Depok : Masup
Jakarta, 2007
Ridwan Saidi, Babad Tanah Betawi, Jakarta : Gria
Media,2002
Suswandari, Kearifan Lokal Etnik Betawi, Yogyakarta :
Pusatka Pelajar, 2017
Komentar
Posting Komentar