PERMAINAN TRADISIONAL MASYARAKAT BETAWI
PERMAINAN
TRADISIONAL MASYARAKAT BETAWI
POTRET
SOSIO KULTURAL MASYARAKAT BETAWI
Masyarakat Betawi merupakan kelompok masyarakat yang
relatif belum lama dibandingkan dengan masyarakat suku bangsa lainnya. Masyarakat
Betawi muncul pertama kali pada era kolonialisme Belanda pada abad 17 Masehi.
Walaupun ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kemunculan suku Betawi sudah
jauh sebelumnya, yaitu ketika berdirinya Kerajaan Salakanagara di Jawa Barat
pada awal abad masehi.
Masyarakat Betawi merupakan salah satu masyarakat suku
bangsa yang ada di Indonesia. Masyarakat Betawi dikenal sebagai kelompok
masyarakat yang pada awalnya mendiami Kawasan Kota Jakarta (dulunya Batavia).
Berdasarkan sumber-sumber Belanda, masyarakat Betawi merupakan campuran dari
berbagai kelompok etnik dan identitas lainnya yang sudah berasimilasi dalam
rentang waktu yang lama.
Sejumlah unsur yang turut membentuk idetitas suku
Betawi antara lain adalah unsur dari suku Jawa, Sunda, Tionghoa, Arab, Bugis,
Bali dan lain sebagainya sehingga dapat dikatakan bahwa masyarakat Betawi
merupakan masyarakat campuran.
Pengaruh dari percampuran kebudayaan itu masih
terlihat dari identitas dan simbol-simbol yang digunakan oleh orang Betawi.
Misalnya sebutan baba menunjukkan adanya pengaruh Tionghoa, sebutan ana
(berasal dari kata ana ; Arab) menunjukkan pengaruh Arab, akhiran in (masukin,
dengerin, tolongin, dan lain sebagainya) menunjukkan adanya pengaruh Bali.
Dapat dikatakan semua orang Betawi menganut agama
Islam. Islam telah menjiwai dan mendarahdaging dalam masyarakat dan kebudayaan
Betawi. Agama Islam dan adat kebudayaan Betawi telah sedemikian sehingga
membentuk kesatuan yang harmonis. Sebagian besar unsur kebudayan Betawi banyak
yang terwarnai oleh ajaran-ajaran agama Islam.
Berbagai ritual kebudayaan masyarakat Betawi mulai
dari perkawinan, kehamilan, kelahiran, khitanan, ritual menuju kedewasaan,
sampai ritual kematian banyak ditandai oleh unsur-unsur ajaran Islam seperti
pembacaan surat Al Fatihah, surat Yasin, Tahlil dan lain sebagainya.
Dari segi profesi, orang Betawi memiliki keragaman,
mulai dari yang berprofesi sebagai petani, peternak, pedagang, sampai pegawai
kantoran. Akan tetapi masih banyak orang Betawi yang bergerak di sektor
perekonomian informal. Hal itu disebabkan karena faktor pendidikan. Banyak
orang Betawi yang kurang mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang
pendidikan tinggi di universitas. Kondisi perekonomianlah yang nampaknya
menjadi faktor penghambat.
Faktor pendidikan inilah yang menjadikan orang Betawi
mengalami proses marjinalisasi atau proses peminggiran, baik secara ekonomi,
sosial, budaya dan politik. Orang Betawi yang dulunya adalah pemilik lahan di
banyak tempa di Jakarta, lambat laun mengalami perubahan.
Terjadi perubahan kepemilikan lahan di Jakarta yang
sebelumnya dimiliki oleh orang Betawi kepada orang pendatang. Kondisi ini
menjadi ironi, dewasa ini banyak anak-anak dari orang Betawi yang tidak
memiliki tanah. Mereka terpaksa hidup mengontrak padahal dulunya orangtua
mereka adalah pemilik lahan yang cukup luas.
PERMAINAN
TRADISIONAL MASYARAKAT BETAWI
Manusia merupakan makhluk
bermain (homo ludens). Bermain merupakan bagian dari tabiat naluriah manusia.
Manusia melakukan aktivitas bermain bukan saja ketika masih kecil, ketika sudah
dewasa bahkan tua sekalipun, manusia tetap melakukan aktivitas bermain.
Manurut sosiolog, George
Herbert Mead, bermain merupakan perilaku yang penting dalam menumbuhkembangkan
kepribadian. Tanpa bermain, manusia akan tumbuh tidak sempurna dan pada
akhirnya gagal dalam menjalankan perannya di kehidupan masyarakat.
Masyarakat Betawi juga
mengenal dunia permainan. Bahkan dapat dikatakan, permainan merupakan bagian
dari kebudayaan masyarakat Betawi secara keseluruhan. Permainan dalam
masyarakat Betawi bukan semata dalam rangka kesenangan semata. Terdapat banyak
kandungan nilai moral dalam setiap permainan masyarakat suku Betawi.
Masyarakat Betawi merupakan
masyarakat yang memegang teguh tradisi yang selama ini menjadi bagian dari
kebudayaan Betawi. Salah satu unsur kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat
Betawi adalah permainan tradisional. Masyarakat Betawi memiliki sejumlah permainan
tradisional diantaranya sebagai berikut :
• Galasin
• Dampu
• Congklak
• Tok kadal
• Petak umpet
• Wak wak gung
• Maen bekel
• Maen karet
• Layangan
• Petasan, bentengan
• Meriam sundut
Permainan-permainan
tradisional masyarakat Betawi tersebut memiliki kandungan makna yang mendalam.
Permainan-permainan tradisional tersebut bukan semata hiburan belaka, melainkan
memiliki nilai tertentu yang menjadi bagian dari kearifan lokal.
Permainan tradisional
masyarakat Betawi dapat dikatakan memiliki keunggulan dibandingkan dengan
permainan-permainan modern atau kekinian. Permainan modern bahkan seringkali
dikritik karena menimbulkan dampak sosial bdaya dan medis, termasuk ekonomis
yang merugikan masyarakat.
Misalnya permainan melalui
gawai dikhawatirkan akan menghambat perkembangan kepribadian anak. Kepribadian
anak dirusak oleh gawai sehingga anak tidak berkembang sebagai manusia yang
utuh. Melalui permainan online, seringkali muncul pribadi-pribadi yang asosial
dan antisosial. Sebaliknya permainan tradisional Betawi yang menyaratkan adanya
interaksi sosial akan mendorong pertumbuhan fisik dan mental anak menjadi
pribadi yang utuh.
Beberapa nilai yang
terkandung dalam permainan anak-anak dalam masyarakat Betawi adalah sebagai
berikut :
• Kebersamaan
• Keterampilan fisik
• Sportivitas
• Kreativitas
• Imajinatif
• Peduli lingkungan
• Kejujuran
• kompetisi
• Pemisahan gender
• Toleransi
• Kecerdasan emosi
REFERENSI :
Koentjaraningrat, Manusia dan Kebudayaan di Indonesia,
Jakarta : Djambatan, 1988
Suswandari, Kearifan Lokal Etnik Betawi, Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2017
Komentar
Posting Komentar