KONFLIK HORIZONTAL DI NUSA TENGGARA BARAT

 

KONFLIK HORIZONTAL DI NUSA TENGGARA BARAT

KARATERISTIK ETNIK

 

Etnik atau suku bangsa merupakan kategori yang bersifat horizontal. Etnik atau suku bangsa merupakan identitas yang diperoleh semenjak lahir yang merupakan suatu rekonstruksi sosial budaya.

 

Menurut Parsudi Suparlan sukubangsa adalah kategori atau golongan sosial yang askriptif. Sebagai sebuah golongan sosial, suku bangsa terwujud sebagai perorangan atau individu dan kelompok. Sebagai kelompok suku bangsa terwujud sebagai keluarga, komuniti, masyarakat atau juga berupa perkumpulan suku bangsa, sebagai kelompok, sukubangsa memiliki sejumlah ciri sebagai berikut :

 

secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan

 

bersifat askriptif

 

memiliki kesadaran dan memiliki kebersamaan sebagai sebuah kelompok

 

bersifat “abadi”

 

membentuk jaringan komunikasi dan interaksi tersendiri

 

berasal dari daerah yang sama atau memiliki wilayah territorial tertentu

 

memiliki kesamaan kebudayaan, kekerabatan,kesenian, bahasa dan adat istiadat

 

memiliki sistem kekerabatan : matrilineal,patrilineal dan bilateral

 

identitas etnis atau kesadaran etnis apat diperkuat  atau diperlemah dengan identitas keagamaan

 

dilengkapi dengan atribut-atribut tertentu yang menunjukkan kekhasan

 

bersifat sakral dan merupakan kesadaran terdalam

 

bagi masyarakat tradisional etnis adalah status utama (master status) yang memotong status-status lainnya

 

Keanggotaan seseorang di dalam sebuah suku bangsa, yang bercorak askriptif berbeda dari keanggotaan seseorang di dalam sebuah kelas sosial atau kelompok profesi. Dalam kelas sosial, keanggotaan seseorang tidak didapatkan begitu saja tetapi diperoleh melalui suatu pencapaian prestasi ekonomi dalam kehidupan sosial.

 

Begitu pula keanggotaan seseorang di dalam kelompok profesi juga diperoleh melalui prestasi sesuai profesi atau keahlian kerja yang dipunyainya. Keanggotaan seseorang di dalam suatu suku bangsa adalah keanggotaan yang bersifat terus menerus dan untuk selamanya, sedangkan keanggotaan dalam kelas sosial atau kelompok profesi akan hilang pada waktu yang bersangkutan tidak lagi mampu menunjukkan kemampuan ekonomi yang menjadi ciri-ciri dari kelas sosial  di mana dia tergolong di dalamnya atau pada waktu seseorang itu tidak lagi mengerjakan profesi yang selama ini ditekuninya.

KONFLIK DI NUSA TENGGARA BARAT

Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi yang secara etnik didiami oleh etnik Sasak dan etnik Samawa. Kedua etnik atau suku bangsa tersebut telah lama mendiami kawasan di sekitar Provinsi Nusa Tenggara Barat. Di sebelah barat provinsi tersebut terdapat Provinsi Bali yang secara mayoritas didiami oleh etnik Bali.

Etnik Bali telah memiliki pengaruh yang mendalam dan meluas di pulau tersebut, sehingga Pulau Bali identik dengan etnik atau suku bangsa Bali. Sedangkan di sebelah timur Nusa Tenggara Barat terdapat Provinsi Nusa Tenggara Timur yang mayoritas dihuni dan didiami oleh orang Timor. Orang Timor mendiami baik Pulau Timor bagian barat yang menjadi bagian dari wilayah Indonesia.

Adapun Pulau Timor bagian Timor (pada masa Orde Baru disebut Timor Timur) telah menjadi sebuah negara tersendiri yang Bernama Timor Leste pasca lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia pada tahun 1999.

Di Provinsi Nusa Tenggara Barat pernah terjadi konflik kesukuan yang melibatkan beberapa suku bangsa yang mendiami kawan tersebut. Konflik horizontal tersebut memiliki dimensi kesukuan dan agama. Konflik tersebut pertama terjadi antara komunitas Bali dan suku Sasak. Suku Bali beragama Hindu Dharma sedangkan suku Sasak beragama Islam. Konflik kedua terjadi antara suku Bali dan Suku Samawa yang beragama Islam.

Konflik horizontal tersebut menimbulkan kehancuran dan kerusakan baik material maupun non material. Skala kerusakan yang terjadi disebabkan karena konflik tersebut menyangkut identitas primordial seperti etnik yang diperkuat oleh adanya sentiment keagamaan.

Sebenarnya konflik antara orang Bali dan orang Sasak dan Samawa bukan sekedar terkait dengan isu etnisitas dan agama. Konflik tersebut sejatinya bersifat multidimensional. Konflik di Nusa Tenggara Barat tersebut terjadi melibatkan aspek-aspek lainnya seperti aspek politik, sosial, budaya, birokrasi dan lain sebagainya.

Konflik antara orang Bali dan orang Sasak dan Sumbawa pertama kali dipicu oleh terjadinya sejumlah peristiwa. Peristiwa pertama adalah terjadinya kecelakaan yang dialami oleh seorang perempuan dari etnik Samawa. Kecelakaan lalu lintas yang sepertinya biasa tersebut kemudian berkembang menjadi rumor yang mengkhawatirkan. Berkembang isu-isu yang memojokkan orang-orang Bali seperti adanya kekerasan dan lain sebagainya.

Peristiwa kedua yang memcu konflik adalah berkembangnya rumor bahwa akan ada rencana pembangunan pura di sekitar Gunung Rinjani. Pura tersebut digadang-gadang akan menjadi pura terbesar di Indonesia. Isu tersebut sontak menimbulkan protes di kalangan etnik Sasak dan Samawa yang notabene beragama Islam.

Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Pulau Lombok secara turun menurun merupakan daerah yang mayoritas dihuni oleh suku-suku yang beragama Islam seperti suku Sasak dan Samawa. Mereka tidak dapat menerima adanya rencana pembangunan pura apalagi yang dikatakan sebagai pusa terbesar di Indonesia.

Peristiwa ketiga yang memicu terjadinya konflik adalah munculnya keresahan di masyarakat akibat kenakalan remaja yang berasal dari etnik Bali. Sejumlah remaja yang terbiasa mengonsumsi minuman keras telah banyak menimbulkan keonaran di lingkungan sekitar. Hal ini rupanya telah terjadi cukup lama dan tidak ada penyelesaian yang tuntas sehingga menyebabkan terjadinya konflik berskala besar.

Konflik antara orang Bali dan orang Sasak dan Sumbawa sebenarnya memiliki akar yang dalam dan dan sejarah yang panjang. Ketegangan antara berbagai kelompok etnik yang ada sudah berlangsung sejak lama. Beberapa penyebab yang melatarbelakangi konflik antara etnik Bali dan etnik Sasak serta Samawa dapat ditinjau dan dianalisis dari sejumlah aspek berikut ini :

Aspek sejarah ; ekspansi Kerajaan Bali terhadap Sumbawa

Aspek ekonomi; kesenjangan sosial antara orang Bali yang merupakan pendatang dengan penduduk asli orang Sasak dan Samawa

Aspek politik ;  diskriminasi yang dialami oleh etnik Bali di birokrasi pasca pemberlakuan otonomi daerah

Aspek demografi ; migrasi besar-besaran orang Bali ke Nusa Tenggara Barat

Aspek sosial ; rendahnya tingkat amalgamasi, jarak sosial yang makin lebar dan rendahnya tingkat interaksi sosial antarkelompok

Aspek budaya ; memudarnya tradisi saling berkunjung antaretnik terutama pada masa hari raya keagamaan dan menguatnya identitas kebalian

Selain itu ada juga anggapan bahwa orang Bali merupakan pendatang yang tergolong ke dalam kelompok minoritas. Walaupun orang Bali telah lama datang ke Nusa Tenggara Barat, namun kehadirannya tetap dianggap sebagai orang asing. Jarak sosial yang terjadi ini antara lain disebabkan karena adanya ekslusivitas etnik yang membatasi pergaulan dan interaksi dengan kelompok etnik lainya.

 

 

 

REFERENSI ;

Wayan Ardhi Wirawan, Konflik ndan Kekerasan Komunal, Yogyakarta ; Deepublish, 2015

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini