PERISTIWA KONFLIK BALINURAGA, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

 

PERISTIWA KONFLIK BALINURAGA, KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

KONFLIK ETNIK DI LAMPUNG

Konflik etnik yang terjadi di Provinsi Lampung pada tahun 2012 merupakan salah satu bentuk konflik yang memprihatinkan. Konflik yang terjadi antara masyarakat Anom yang kebanyakan merupakan suku Lampung asli melawan penduduk desa Balinuraga yang beretnik Bali tersebut telah memakan korban jiwa.

Beberapa sumber menyebutkan ada sekita belasan korban jiwa, terutama dari kelompok masyarakat Bali, akan tetapi sumber informal lainnya menyebut sampai ratusan korban jiwa. Belum lagi kerugian materil berupa harta benda dan asset lainnya.

Puluhan rumah hancur akibat konflik tersebut. Akan tetapi kerugian terbesar adalah hancurnya modal sosial yang menjadi perekat hubungan antarkelompok di Provinsi Lampung. Belum lagi trauma psikologis yang timbul akibat konflik kekerasan yang terjadi.

Konflik tersebut bermula Ketika terjadi kasus pelecehan seksual yang dialami oleh dua orang perempuan dari suku Lampung. Awalnya kedua perempuan Lampung sedang menaiki sepeda motor, keduanya kemudian diserempet oleh sekelompok pemuda dari suku Bali dari Desa Balinuraga. Kemudian sekelompok pemuda tersebut menolong kedua perempuan Lampung tersebut, akan tetapi kedua perempuan itu mengalami pelecehan.

Peristiwa tersebut segera dilaporkan ke komunitas Lampung di Desa Agom. Reaksi yang muncul kemudian bersifat spontan. Dalam waktu singkat ratusan warga Lampung menyerbu kampung Balinuraga. Korban berjatuhan seiring dengan hancurnya rumah-rumah di desa tersebut.

Peristiwa pelecehan yang berujung konflik masif yang melibatkan dua komunitas dengan intensitas yang tinggi tersebut menggambarkan bahwa sebenarnya konflik antara kedua komunitas tersebut sudah berlangsung lama. Kondisi damai yang selama ini berlangsung di Lampung antara kedua komunitas tersebut rupanya merupakan situasi yang bersifat laten.

Di permukaan, kedua komunitas tersebut seakan-akan hidup damai, akan tetapi keduanya mengalami situasi yang tegang. Kedua kleompok tersebut juga hidup tersegregasi secara geografis. Komunitas Lampung dan Bali tinggal di lokasi yang berjauhan. Masing-masing kampung juga cenderung homogen. Di Kampung Balinuraga bisa dikatakan hamper semua anggotanya berasal dari Bali.

Orang Bali datang ke Lampung, khususnya di desa Balinuraga umumnya disebabkan karena terjadinya bencana meletusnya Gunung Agung di Bali. Mereka diterima secara terbuka oleh masyarakat Lampung pada umumnya. Hal ini menunjukkan sikap terbuka masyarakat lampung.

Masyarakat Lampung terkenal memiliki sifat terbuka. Mereka menerima setiap kelompok yang datang ke Lampung. Lampung sendiri sudah sejak lama menjadi wilayah yang heterogen dan multikultural. Di Provinsi Lampung terdapat orang-orang dari berbagai daerah seperti Sumatera Selatan, Banten, Jawa Tengah, dan Bali.

KONFLIK KOMUNITAS BALINURAGA DAN ETNIK LAMPUNG

Konflik Balinuraga terjadi pada 27 sampai 29 Oktober 2012. Konflik Balinuraga dipicu oleh adanya usi mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oleh sejumlah pemuda Bali kepada dua perempuan warga Desa Agom yang merupakan etnik Lampung.

Konflik Balinuraga ditandai oleh adanya amuk massa. Massa melakukan penyerangan dan pembakaran kepada Desa Balinuraga yang dihuni oleh etnik Bali. Penyerangan tersebut dilakukan dengan menggunakan beragam senjata seperti senjata tajam, tombak, bambu runcing, bensin, korek api, sampai bom molotov dan senjata api.

Konflik Balinuraga mengakibatkan puluhan warga mengalami luka dan meninggal, ratusan bangunan mengalami kerusakan dan dibakar, puluhan ternak dibunuh, perampasan harta benda dan ribuan warga mengungsi.

Beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya konflik Balinuraga antara lan ;

1.sikap arogansi etnik Bali dalam menghadapi etnik lainnya, khususnya etnik Lampung

2.praktik rentenir dalam transaksi hutang piutang

3.perulaku menyimpang dalam praktek kehidupan sehari-hari

4.benturan nilai-nilai budaya

5.kuatnya prasangka etnik dan agama

6.perasaan saling diperlakukan tidak adil

7.kuatnya perasaan ingroup feeling masing-masing kelompok

8.kurang berfungsinya saluran komunikasi antara kedua kelompok

9.akumulasi kekecewaan dan dendam

10.lemahnya sosialisasi nilai-nilai moral antagenerasi.

Penyelesaian konflik Balinuraga dilakukan dengan diadakannya pertemuan di Aula Polres Lampung Selatan. Pertemuan yang diprakarsai oleh Kapolda Lampung dan Danrem Garuda Hitam dilakukan untuk mencari kesepakatan damai antara dua kelompok warga yang bertikai.

Dalam pertemuan tersebut ada tuntuan agar etnik Bali di Balinuraga dipindahkan ke daerah lain seperti Kalimantan atau Sumatera Selatan. Akan tetapi tuntutan ini ditolak oleh pemerintah daerah dan lembaga kepolisian. Alasannya adalah melanggar HAM, karena di dlaam negara kesatuan Republik Indonesia setiap warga negara berhak tinggal di wilayah manapun. Selain itu usulan tersebut dianggap beresiko dan tidak masuk akal.

Penyelesaian konflik akhirnya dilakukan dengan proses perdamaian dan deklarasi perdamaian oleh kedua belah pihak. Pada 4 November 2012 dilakukan acara pernyataan damai di Balai Keraton Bandar Lampung yang dihadiri oleh Raja Bali, para pejabat pemerintah Provinsi Lampung dan Kabupaten Lampung Selatan, Majelis penyeimbang Adat Lampung dan para tokoh adat Lampung dan Bali.

Mereka menandatangani surat perjanjian damai antara kedua belah pihak. Dalam pertemuan tersebut juga disampaikan permohonan maaf dari komunitas Bali terhadap kelakuan dari sejumlah oknum pemuda yang telah memicu konflik.

 

REFERENSI :

Hartoyo, Model Resolusi Konflik Kekerasan, Belajar dari Balinuraga, Kasus di Kabupaten Lampung Selatan, Yogyakarta ; Suluh Media 2017

Subair. Segregasi Pemukiman Berdasa Agama, Solusi Atau Ancaman ?,Pendekatan Sosiologis Atas Interaksi Sosial Antara Orang Islam dan Orang Kristen Pasca KOnflik 1999-2004 di Kota Ambon, Yogyakarta : Grha Guru, 2008

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini