FENOMENOLOGI ; SEBUAL FILSAFAT TENTANG MANUSIA

 

FENOMENOLOGI ; SEBUAL FILSAFAT TENTANG MANUSIA

 

Fenomenologi berasal dari Bahasa latin, Phaimenon yang berarti sesuatu yang tampak karena bercahaya. Fenomenologi berasal

Dari dua kata ; phenomenon dan logos. Phenomenon berarti fenomena sedangkan logos bermakna akal budi atau dapat juga diistilahkan ilmu. Berarti secara umum fenomenologi merupakan ilmu mengenai fenomena. Sedangkan,jika dilihat dari asal Bahasa Inggris, Fenomenologi berasal dari kata Phenomenon, yang berarti fenomena.

Fenomena itu sendiri berarti sesuatu yang hadir ke dalam kesadaran, atau fenomena merupakan peristiwa pengalaman keseharian yang dapat berupa kecemasan, duka, kegembiraan dan lain sebagainya.

Fenomenologi memiliki penafsiran yang luas. Fenomenologi dengan demikian minimal mebiliki tiga makna, sebagai filsafat, sebagai ilmu sekaligus sebagai sebuah metodologi ;

1.   -Fenomenologi merupakan filsafat mengenai fenomena

2.   -Fenomenologi merupakan ilmu tentang penampakan

3.   -Fenomenologi merupakan metodologi untuk menggapai kebenaran


Fenomenologi merupakan  analisis mengenai fenomena sosial berskala mikro. Menurut George Ritzer, fenomenologi dapat dikategorikan sebagai sebuah ilmu atau perspektif yang berada di dalam ranah paradigma Definisi Sosial, bersala perspektif Tindakan sosial dan interaksionisme simbolik. Paradigma ini merupakan paradigma yang menekankan pada kemampuan individu dalam memaknai pengalaman sosial dan dunia sosialnya.

Walaupun Fenomenologi merupaka filsafat sosial yang berada pada ranah mikro-subjektif, namun Fenomenologi memiliki perbedaan mendasar dengan analisis serupa seperti psikologisme dan realisme. Dalam konteks yang lain, Fenomenologi juga memiliki perbedaan mendasar dengan filsafat sosial lainnya seperti positivisme.

Fenomenologi lahir dari adanya kekosongan ruang dalam kajian sosial khususnya terkait dengan aspek kehidupan sosial berskala mikro-subjektif dalam taraf kesadaran. Filsafat sosial Fenomenologi juga lahir dilatarbelakangi oleh kelemahan teori-teori dan filsafat sosial positivisme. Positivisme dinilai cenderung mekanistis dan mereduksi kehidupan sosial yang sangat kompleks.

Positivisme adalah paham filsafat, yang cenderung untuk membatasi pengetahuan benar manusia kepada hal-hal yang dapat diperoleh dengan memakai metode ilmu pengetahuan (sains). Positivisme adalah ajaran bahwa hanya fakta atau hal yang dapat diuji yang melandasi pengetahuan yang sah. Oleh karena itu, teologi dan metafisika harus dianggap sebagai sebuah spekulasi saja.

Beberapa tokoh yang berkontribusi mengembangkan filsafat Fenomenologi antara lain Edmund Husserl, Alfred Schutz dan Martin Heidegger. Akan tetapi nama Alfred Schutzlah yang dpat dikatakan sebagai tokoh sentral dari Fenomenologi.

Fenomenologi merupakan filsafat mengenai fenomena atau peristiwa yang dialami oleh manusia secara inderawi. Fenomenologi merupakan studi mengenai fenomena yang terjadi dalam dunia sosial.

Fenomenologi merupakan studi mengenai pengalaman hidup manusia sehari-hari. Fenomenologi merupakan mendekatan yang manusiawi  sekaligus merupakan filsafat yang bercorak anti-kemapanan.

Fenomenologi menganggap manusia sebagai sumber ilmu pengetahuan. Fenomenologi tidak berambisi untuk menggeneralisir realitas sosial secara makro, tetapi berupaya menafsirkan dan memahami realita sosial yang dikonstruksikan para aktor Ketika berhadapan dengan dunianya.

Untuk dapat memahami Fenomenologi dapat kita lihat beberapa kata kunci berikut ;

1.fenomena

2.makna

3.pengalaman manusiawi

4.subjektif

5.realitas subjektif

6.kehidupan sehari-hari (everydays live)

7.makna (meaning)

8.interpretasi

9.perspektif

10.world view subjek

11.intersubjektif

12.konstruksi

 

Fenomenologi dipengaruhi oleh sejumlah pemikiran seperti berikut ini :

1.filsafat eksistensialisme

2.filsafat verstehen dari Max Weber

3.filsafat kesadaran Rene Des Cartes

4.filsafat Hegel mengenai phenomenology of mind

5.filsafat interaksionisme simbolik George Herbert Mead

 

Fenomenologi merupakan pemikiran yang memiliki sejumlah metodologi yang khas sebagai berikut :

1.  - Menolak kebenaran objektif

2.   -Mengutamakan nilai-nilai dari subjek

3.   -Berupaya memaknai realitas apa adanya

4.   -Mempertanyakan kemapanan, kedangkalan dan keserawutan

5.  - Berupaya menginterpretasi pengalaman manusia

6.   -Focus pada world view subjek (bukan peneliti)

7.   -Tidak ada jarak antara peneliti dan subjek penelitian

8.  - “berpihak” kepada subjek penelitian

9.  - Menolak “netralitas” peneliti dalam sebuah penelitian sosial                                  

-.Berupaya melihat dari sudut panjang subjek penelitian

 

Sebagai sebuah metodologi penelitian, Fenomenologi memiliki beberapa metode pencarian data, di antaranya adalah sebagai berikut :

1.wawancara mendalam (indepth intervieu) Dalam metode ini, yang diwawancarai tidak disebut “responden” atau “informan”, apalagi “sample”, melainkan “subjek penelitian”

2.observasi atau pengamatan, khususnya observasi partisipatoris atau observasi terlibat. Metode pengamatan terlibat merupakan metode utama dalam penelitian kualitatif khususnya penelitian etnografi. Metode pengamatan terlibat berbeda dengan metode-metode pengamatan lainnya, dalam melakukan pengumpulan bahan-bahan keterangan yang diperlukan si penelitinya mempunyai hubungan baik emosional maupun perasaan dengan para pelaku yang diamatinya.

3.Metode studi kasus

Fenomenologi dalam perkembangannya memberikan pengaruh yang luas dalam ranah penelitian mengenai manusia dan dunianya. Beberapa pemikiran yang dipengaruhi oleh Fenomenologi antara lain ;

1.   Filsafat eksistensial dari Kierkegaaard

2.   Filsafat post struktural dari Derrida

3.   Idealisme Mc Taggart

4.   Neokantianisme Ernst Cassier

 

 

 

 

REFERENSI :

Muhammad Farid (ed), Fenomenologi Dalam Penelitian Ilomu Sosial, Jakarta ; Kencana, 2018

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini