INFERIORITAS DAN PSIKOPATHOLOGI ; ANALISIS FRANTZ FANON MENGENAI DAMPAK KOLONIALISME PRANCIS TERHADAP PSIKOLOGI KULIT HITAM
INFERIORITAS DAN PSIKOPATHOLOGI
; ANALISIS FRANTZ FANON MENGENAI DAMPAK KOLONIALISME PRANCIS TERHADAP PSIKOLOGI
KULIT HITAM
PERSPEKTIF
POSKOLONIAL
Salah
satu perspektif yang digunakan dalam ilmu sosial seperti antropologi dan
sosiologi adalah perspektif poskolonial. Perspektif poskolonial itu sendiri
merupakan perspektif yang berupaya mencari keseimbangan dalam melihat realitas
sosial yang ada.
Poskolonial
merupakan perspektif yang belum banyak dikenal di Indonesia, dibandingkan
dengan sejumlah perspektif ilmu sosial lainnya seperti perspektif klasik yang
dikemukakan oleh Emile Durkheim, Karl Marx, Max Weber, perspekti modern dan perspektif lainnya.
Poskolonial
mempelajari banyak permasalahan yang dihadapi oleh negara-negara Timur akibat
penjajahn negara-negara Barat. Poskolonial mencoba mengajukan kritik mengenai
akibat hegemoni dan dominasi Barat yang ternyata masih terjadi di banyak negara
Timur, meskipun negara-negara tersebut sudah merdeka secara politik.
Studi
poskolonial atau pascakolonial merupakan studi yang relatif masih baru dalam
menganalisis dominasi negara-negara Barat atau masyarakat Timur. Negara-negara
Barat memosisikan dirinya sebagai kelompok superior dan Timur diposisikan
sebagai kelompok yang inferior dan tertindas.
Teori
poskolonial lahir pada paruh pertama abad ke-20 yang sering disebut sebagai
metode deskonstruksi terhadap model berfikir dualistis atau biner yang
membedakan antara ‘Timur’ dan “Barat”. Model berpikir dualis ini mengendap
dalam ilmu pengetahuan Barat terutama dalam kajian mengenai masalah Timur atau
orientalisme yang senantiasa menempatkan kedudukan Barat sebagai bangsa
penjajah, orang dalam, sebagai subjek, memiliki posisi yang unggul dibandingkan
dengan orang Timur. Timur dianggap dijajah, orang luar, diposisikan sebagai
objek. Orang Barat merasa mereka berbeda dengan orang Timur yang berpandangan
irasional, emosional dan kurang beradab.
Teori
poskolonial dipengaruhi oleh pemikiran sejumlah tokoh seperti Michael Foucault
dan Antonio Gramschi. Pengaruh Foucault
dapat dilihat dari pandangan yang menilai bahwa pengetahuan itu tidak bersifat
netral. Pengetahuan selalu memuat konten kekuasaan dan memiliki kepentingannya
sendiri. Dalam hal ini, pengetahuan (Barat) atas “Timur” didasarkan atas
kepentingan-kepentingan tertentu.
Sedangkan
pengaruh Gramchi dapat dilihat dari konsepsinya mengenai “hegemoni”. Kekuasaan
dan stereotip yang dilekatkan Barat atas Timur
ternyata banyak tidak disadari oleh orang-orang Timur. Banyak orang
Timur yang menerima segala pandangan Barat terhadap mereka. Hegemoni adalah
kekuasaan yang dicapai melalui suatu kombinasi paksaan dengan kerelaan.
Gramschi
menyatakan bahwa kelas-kelas berkuasa memeroleh dominasi bukan karena kekuatan
dan paksaan semata tetapi juga dengan menciptakan subjek-subjek yang “sukarela”
bersedia untuk dikuasai-ideologi adalah penting dalam menciptakan kerelaan,
ideologi adalah medium yang melaluinya gagasan-gagasan tertentu itu disampaikan
dan, lebih penting, dipercayai kebenarannya. Hegemoni dicapai dukan melalui
manipulasi atau indoktrinasi langsung, melainkan dengan bersandar pada
penalaran umum rakyat
Teori
poskolonial juga merupakan teori yang membahas mengenai dampak kolonialisme dan
proses perlawanan terhadap dominasi kolonial serta berbagai warisan budaya yang
tetap ada sampai hari ini. Teori poskolonial juga menganalisis praktik-praktik
penjajahan atau kolonialisme yang masih berlangsung sampai sekarang di era
modern. Selain penjajahan Barat atas Timur, penjajahan juga berlangsung
terhadap kelompok minoritas atau kelompok marjinal yang terpinggirkan oleh
kelompok mayoritas.
PEMIKIRAN
POS KOLONIAL FRANTZ FANON
Frantz
Fanon dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengusung gagasan poskolonial.
Gagasan ini merupakan gagasan alternatif dalam memahami dunia sosial.
Sebelumnya, penafsiran terhadap dunia sosial khususnya dunia timur sangat bias.
Pandangan mengenai dunia timur masih lekat dengan mentalitas kolonial yang
penuh dengan stereotip yang cenderung penyoratif atau merendahkan timur.
Gagasan
atau perspektif pos kolonial merupakan perspektif yang berupaya membuat
keseimbangan baru dalam memandang dunia timur. Perspektif pos kolonial berupaya
memahami dunia timur dari sudut pandang orang-orang timur itu sendiri.
Perspektif
ini juga membersihkan segala stereotip negatif yang dilekatkan oleh teori
sosial barat mengenai masyarakat timur. Hal ini sekaligus berfungsi agar
masyarakat timur memiliki kesadaran bahwa mereka itu berbeda dengan masyarakat
barat. Timur memiliki identitas budayanya sendiri yang tidak harus sama dengan
barat.
Perspektif
pos kolonial yang diusung oleh Farantz Fanon memiliki keunikan dibandingkan dengan
perspektif poskolonial lainnya seperti yang digagas oleh Edward Said, Gayatri
Spihak atau Homi Babha.
Fanon
dengan perspektif poskolonialnya berupaya menganalisis dampak dari kolonialisme
Barat terhadap masyarakat kulit hitam pada aspek psikologi. Hal ini menjadikan
Fanon tercatat sebagai seorang psikolog yang mengisi kekosongan ruang
psikoanalisis yang diwariskan oleh Sigmund Freud, Edwin Adler atau Carl Gustav
Jung.
Kalau
Freud cenderung berkutat pada gejala neurotik akibat ketidakseimbangan antara
ego, Id dan superego, maka Fanon melihat gejala neurotik orang kulit hitam
sebagai dampak dari dominasi dan hegemoni budaya yang dipaksakan oleh orang
kulit putih terhadap orang kulit hitam.
Kalau
Adler menyoroti mengenai gejala kompensasi psikologis, Fanon menganalisis
mengenai sikap inferiority yang dialami oleh orang kulit hitam yang
menyebabkan mereka mengambilalih kebudayaan dan identitas kulit putih dan dijadikan
sebagai bagian dari kebudayaan dan identitasnya.
Selain
itu pemikiran Fanon juga dipengaruhi oleh gagasan materialisme Marx dan
idealisme Hegel. Kedua tokoh tersebut
memberikan kerangka berpikir bagi Fanon dalam merumuskan analisisnya
mengenai dampak kolonialisme Barat terhadap psikologi kulit hitam. Menurut
Fanon, ketidaksadaran orang kulit hitam menunjukkan adanya sebentuk alienasi
atau keterasingan di kalangan
orang-orang kulit hitam.
Sebagai
seorang psikolog, Fanon melihat bahwa kolonialisme Barat, khususnya Prancis
telah meninggalkan pengaruh yang buruk terhadap psikologis kulit hitam di
daerah-daerah yang dikuasainya seperti di Aljazair, Antiles, Senegal, Malagasi
atau di Mauritania.
Fanon
banyak menyoroti pengaruh buruk kolonialisme (Prancis) pada aspek psikologis masyarakat Aljazair
yang terjajah. Setidaknya ada tiga tema yang saling berkelidan dalam pemikiran
Fanon ;
Pertama
; kritik etnopsikiatri yang bertujuan memberi gambaran kehidupan mental
penduduk terjajah saat sehat atau sakit.
Kedua
; kritik tentang Eurosentrisme pada psikoanalisis dan dialog dengan sudut
pandang kulit hitam
Ketiga
; sistem pikiran dominan di antara intelektual kulit hitam yang berbahasa
Prancis
Fanon
juga membandingkan antara Nasib orang kulit hitam di Amerika Serikat dengan
Nasib orang kulit hitam di bekas jajahan Prancis. Kalau orang-orang kulit hitam
di Amerika Serikat telah memiliki kesadaran ras dan mereka telah berjuang untuk
kebebasan dan kemerdekaannya, dan mereka telah berhasil mendapatkannnya, hal
yang berbeda dialami oleh orang-orang kulit hitam di bekas jajahan Prancis.
Walaupun
kolonialisme Prancis telah lama hengkang dari Afrika, namun residu yang
ditinggalkannya tetap lekat dan tidak mudah hilang. Kolonialisme Prancis telah
menghilangkan kesadaran orang-orang kulit hitam sebagai sebuah entitas yang
berbeda dengan orang-orang kulit putih.
Kolonialisme
Prancis telah mengakibatkan adanya gejala psikopatologi di kawasan-kawasan
tersebut. Beberapa bentuk psikopatologi yang dimaksud antara lain munculnya
gejala inferiority dan neurotic di kalangan orang kulit hitam. Rasa rendah diri
yang menjangkiti orang-orang kulit hitam telah mengakibatkan hilangnya identitas
dan kesadaran sebagai orang kulit hitam.
Mereka
menganggap orang-orang kulit putih dan segala atributnya dalam posisi yang
superior, sedangkan orang kulit hitam dan kebudayaannnya mereka anggap berada
dala posisi yang inferior. Dengan kata lain orang kulit hitam kehilangan
kesadaran akan identitas diri dan identitas sosialnya sebagai orang kulit
hitam.
Termasuk
ke daam gejala ini adalah adanya anggapan superioritas ras. Jika ada
orang-orang kulit hitam yang menganggap mereka lebih superior dibandingkan oleh
orang-orang kulit putih, maka hal ini juga menunjukkan gejala yang sama. Sama
halnya dengan adanya anggapan sebaliknya, yang menganggap ras kulit putih lebih
baik dibandingkan dengan ras kulit hitam.
Gejala
psikopatologi lainnya adalah munculnya negrophobia di kalangan orang-orang
kulit putih. Orang-orang kulit putih yang hidup berdampingan negan orang kulit
hitam memiliki kecemasan akut akan keberadaan orang kulit hitam. Orang kulit
putih menganggap orang kulit hitam dengan pandangan yang menakutkan. Hal ini
disebabkan karena proses enkulurasi yang terjadi di kalangan orang-orang kulit
putih yang cenderung merendahkan orang-orang kulit hitam.
Kondisi
tersebut diperparah dengan berbagai stereotip yang makin merendahkan
orang-orang kulit hitam. Orang kulit hitam digambarkan atau diasosiasikan dengan hal-hal seperti
seks, kuat, atletis, biadab, dosa, setan, menakutkan, eksotis dan lain
sebagainya.
Pelbagai
stereotip ini dijejalkan dan dipaksakan oleh orang-orang kulit putih memlalui
berbagai macam cara mulai dari pendidikan, bahasa, sampai cerita-cerita
dongeng. Orang-orang kulit hitam dipaksa menerima cerita-cerita dongeng yang
dibuat oleh orang-orang kulit putih yang tidak sesuai dengan kepribadian dan
kebudayaan orang-orang kulit hitam.
Cerita-cerita
fabel dan dongeng-dongeng yang diceritakan kepada anak-anak kulit hitam telah
menghilangkan kesadaran mereka karena cerita-cerita dongeng tersebut
dikonstruksi berdasarkan nilai-nilai budaya khas orang kulit putih.
REFERENSI
: Frantz Fanon, Black Skin, White Mask,
Yogyakarta ; Jalasutra, 2018
Komentar
Posting Komentar