PEMIKIRAN FRANTZ FANON MENGENAI HUBUNGAN ANTARA RAS KULIT HITAM DAN RAS KULIT PUTIH
PEMIKIRAN FRANTZ FANON
MENGENAI HUBUNGAN ANTARA RAS KULIT HITAM DAN RAS KULIT PUTIH
RASISME DAN
RASIALISME
Rasisme dan rasialisme adalah sebuah konsep yang menggambarkan relasi sosial kultural antar ras (interracial relationship). Baik rasisme maupun rasialisme lahir bersamaan dengan dimulainya kolonialisme dan imperialisme Barat atas dunia Timur.
Rasisme merupakan sebuah konsep yang menyatakan bahwa ras merujuk
ke kelompok manusia yang ditentukan dirinya berdasarkan ciri-ciri jasmaniah
yang tidak dapat diubah seperti warna kulit, tekstur rambut, raut muka atau
bentuk tubuh.
Rasisme berasal dari suatu sikap mental yang memandang ‘mereka”
(outgroup) berbeda dengan ‘kita” (ingroup) secara permanen dan tak
terjembatani. Perasaan berbeda ini menyediakan motif atau alasan untuk
memanfaatkan keunggulan kekuasaan sebuah kelompok guna mempertahankan ras yang
lain dengan cara-cara yang dianggap kejam dan tidak adil jika diterapkan kepada
anggota kelompok ingrup.
Rasisme dapat mendorong munculnya beragam tindakan yang menjurus
kepada diskriminasi sosial hingga
segregasi sosial, penaklukan kolonial, pengucilan, deportasi paksa
bahkan genosida dan perbudakan.
Pelaku rasialisme tidak memberikan peluang kepada kelompok yang
menjadi sasaran rasialisasi untuk hidup berdampingan secara damai di dalam
masyarakat yang sama, kecuali apabila hubungan itu berdasarkan dominasi dan
subordinasi. Rasialisme juga menolak adanya kemungkinan melenyapkan perbedaan
rasial dengan mengubah identitas seseorang.
Istilah Rasisme digunakan untuk menyebut gagasan yang meyakini
adanya kaitan kausal antara ciri-ciri jasmaniah seseorang dengan keturunan,
kepribadian, intelektualitas, kebudayaan, atau gabungna dari kesemuanya.
Gagasan ini kemudian menimbulkan perasaan superioritas pada ras tertentu
terhadap ras lain seperti yang pernah terjadi ketika berkuasanya NAZI di Eropa
pada masa Perang Dunia II.
Para ilmuan sosial mengartikan rasisme sebagai suatu ideologi
lanjutan yang percaya bahwa suatu ras secara alamiah adalah superior dan semua
ras lainnya dianggap inferior. Rasisme menganggap bahwa superioritas dan
inferioritas tersebut muncul secara alamiah dan merupakan hasil dari warisan
genetika.
Rasisme dengan demikian berasumsi bahwa pencapaian sosial ,
ekonomi dan politik anggota-anggota suatu ras merupakan hasil warisan genetika
mereka yang superior ; demikian pula , “kegagalan” anggota-anggota ras lainnya
dikatakan disebabkan oleh kekurangan-kekurangan yang berkaitan dengan genetika.
Kekurangan-kekurangan yang nyata itu biasanya dipercayai terletak pada bidang
intelegensi dan karakter, tapi doktrin rasisme sering memperluasnya sampai
mencakup sifat-sifat lainnya.
Rasisme adalah paham yang menolak suatu golongan masyarakat yang
berasal dari ras yang lain. Rasisme timbul atau dapat timbul ketika masyarakat
yang merupakan golongan mayoritas menemukan adanya golongan minoritas dalam masyarakatnya yang
berbeda secara biologis dan kondisi masyarakat golongan minoritas tersebut
tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan dirinya atau kelompoknya. Jadi
kalau golongan minoritas tersebut memiliki kemampuan dan kekuatan, maka
golongan mayoritas akan kehilangan keinginan dan ambisi rasialnya.
Prasangka rasial seperti virus yang tidak kasat mata namun
keberadaannya nyata. Ia dihidupkan dan berkembang di dalam “tubuh’ masyarakat
yang majemuk. Munculnya prasangka rasial tidak dapat secara simplistis sebagai
konsekuensi logis yang tumbuh secara alamiah dari masyarakat. Sepanjang
sejarahnya, rasialisme dan prasangka rasial selalu muncul sebagai ideologi yang
dikonstruksi secara sosial-budaya (by
dssign). (Pardede, 2002)
Rasisme dan Rasialisme seringkali bertalian dengan kelompok
non-biologis dan non-rasial, seperti sekte keagamaan, kebangsaan, etnik atau
kultural, atau hanya sebuah prasangka yang acapkali sekedar berangkat dari
stereotipe dan kecemburuan sosial belaka. Rasialisme bukan sekedar studi
objektif dan ilmiah mengenai fakta ras atau ketidaksamaan yang terdapat dalam
suatu kelompok manusia. Sehingga, dari deskripsi di atas
BLACK
SKIN WHITE MASK ; PEMIKIRAN POS KOLONIAL FRANTZ FANON
Frantz
Fanon dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengusung gagasan poskolonial.
Gagasan ini merupakan gagasan alternatif dalam memahami dunia sosial.
Sebelumnya, penafsiran terhadap dunia sosial khususnya dunia timur sangat bias.
Pandangan mengenai dunia timur masih lekat dengan mentalitas kolonial yang
penuh dengan stereotip yang cenderung penyoratif atau merendahkan timur.
Gagasan
atau perspektif pos kolonial merupakan perspektif yang berupaya membuat
keseimbangan baru dalam memandang dunia timur. Perspektif pos kolonial berupaya
memahami dunia timur dari sudut pandang orang-orang timur itu sendiri.
Perspektif
ini juga membersihkan segala stereotip negatif yang dilekatkan oleh teori
sosial barat mengenai masyarakat timur. Hal ini sekaligus berfungsi agar
masyarakat timur memiliki kesadaran bahwa mereka itu berbeda dengan masyarakat
barat. Timur memiliki identitas budayanya sendiri yang tidak harus sama dengan
barat.
Perspektif
pos kolonial yang diusung oleh Farantz Fanon memiliki keunikan dibandingkan dengan
perspektif poskolonial lainnya seperti yang digagas oleh Edward Said, Gayatri
Spihak atau Homi Babha.
Fanon
dengan perspektif poskolonialnya berupaya menganalisis dampak dari kolonialisme
Barat terhadap masyarakat kulit hitam pada aspek psikologi. Hal ini menjadikan
Fanon tercatat sebagai seorang psikolog yang mengisi kekosongan ruang
psikoanalisis yang diwariskan oleh Sigmund Freud, Edwin Adler atau Carl Gustav
Jung.
Kalau
Freud cenderung berkutat pada gejala neurotik akibat ketidakseimbangan antara
ego, Id dan superego, maka Fanon melihat gejala neurotik orang kulit hitam
sebagai dampak dari dominasi dan hegemoni budaya yang dipaksakan oleh orang
kulit putih terhadap orang kulit hitam.
Kalau
Adler menyoroti mengenai gejala kompensasi psikologis, Fanon menganalisis
mengenai sikap inferiority yang dialami oleh orang kulit hitam yang
menyebabkan mereka mengambilalih kebudayaan dan identitas kulit putih dan dijadikan
sebagai bagian dari kebudayaan dan identitasnya.
Selain
itu pemikiran Fanon juga dipengaruhi oleh gagasan materialisme Marx dan
idealisme Hegel. Kedua tokoh tersebut
memberikan kerangka berpikir bagi Fanon dalam merumuskan analisisnya
mengenai dampak kolonialisme Barat terhadap psikologi kulit hitam. Menurut
Fanon, ketidaksadaran orang kulit hitam menunjukkan adanya sebentuk alienasi
atau keterasingan di kalangan
orang-orang kulit hitam.
Sebagai
seorang psikolog, Fanon melihat bahwa kolonialisme Barat, khususnya Prancis
telah meninggalkan pengaruh yang buruk terhadap psikologis kulit hitam di
daerah-daerah yang dikuasainya seperti di Aljazair, Antiles, Senegal, Malagasi
atau di Mauritania.
Fanon
banyak menyoroti pengaruh buruk kolonialisme (Prancis) pada aspek psikologis masyarakat Aljazair
yang terjajah. Setidaknya ada tiga tema yang saling berkelidan dalam pemikiran
Fanon ;
Pertama
; kritik etnopsikiatri yang bertujuan memberi gambaran kehidupan mental
penduduk terjajah saat sehat atau sakit.
Kedua
; kritik tentang Eurosentrisme pada psikoanalisis dan dialog dengan sudut
pandang kulit hitam
Ketiga
; sistem pikiran dominan di antara intelektual kulit hitam yang berbahasa
Prancis
Fanon
juga membandingkan antara Nasib orang kulit hitam di Amerika Serikat dengan
Nasib orang kulit hitam di bekas jajahan Prancis. Kalau orang-orang kulit hitam
di Amerika Serikat telah memiliki kesadaran ras dan mereka telah berjuang untuk
kebebasan dan kemerdekaannya, dan mereka telah berhasil mendapatkannnya, hal
yang berbeda dialami oleh orang-orang kulit hitam di bekas jajahan Prancis.
Walaupun
kolonialisme Prancis telah lama hengkang dari Afrika, namun residu yang
ditinggalkannya tetap lekat dan tidak mudah hilang. Kolonialisme Prancis telah
menghilangkan kesadaran orang-orang kulit hitam sebagai sebuah entitas yang
berbeda dengan orang-orang kulit putih.
Kolonialisme
Prancis telah mengakibatkan adanya gejala psikopatologi di kawasan-kawasan
tersebut. Beberapa bentuk psikopatologi yang dimaksud antara lain munculnya
gejala inferiority dan neurotic di kalangan orang kulit hitam. Rasa rendah diri
yang menjangkiti orang-orang kulit hitam telah mengakibatkan hilangnya identitas
dan kesadaran sebagai orang kulit hitam.
Mereka
menganggap orang-orang kulit putih dan segala atributnya dalam posisi yang
superior, sedangkan orang kulit hitam dan kebudayaannnya mereka anggap berada
dala posisi yang inferior. Dengan kata lain orang kulit hitam kehilangan
kesadaran akan identitas diri dan identitas sosialnya sebagai orang kulit
hitam.
Termasuk
ke daam gejala ini adalah adanya anggapan superioritas ras. Jika ada
orang-orang kulit hitam yang menganggap mereka lebih superior dibandingkan oleh
orang-orang kulit putih, maka hal ini juga menunjukkan gejala yang sama. Sama
halnya dengan adanya anggapan sebaliknya, yang menganggap ras kulit putih lebih
baik dibandingkan dengan ras kulit hitam.
Gejala
psikopatologi lainnya adalah munculnya negrophobia di kalangan orang-orang
kulit putih. Orang-orang kulit putih yang hidup berdampingan negan orang kulit
hitam memiliki kecemasan akut akan keberadaan orang kulit hitam. Orang kulit
putih menganggap orang kulit hitam dengan pandangan yang menakutkan. Hal ini
disebabkan karena proses enkulurasi yang terjadi di kalangan orang-orang kulit
putih yang cenderung merendahkan orang-orang kulit hitam.
Kondisi
tersebut diperparah dengan berbagai stereotip yang makin merendahkan
orang-orang kulit hitam. Orang kulit hitam digambarkan atau diasosiasikan dengan hal-hal seperti
seks, kuat, atletis, biadab, dosa, setan, menakutkan, eksotis dan lain
sebagainya.
Pelbagai
stereotip ini dijejalkan dan dipaksakan oleh orang-orang kulit putih memlalui
berbagai macam cara mulai dari pendidikan, bahasa, sampai cerita-cerita
dongeng. Orang-orang kulit hitam dipaksa menerima cerita-cerita dongeng yang
dibuat oleh orang-orang kulit putih yang tidak sesuai dengan kepribadian dan
kebudayaan orang-orang kulit hitam.
Cerita-cerita
fabel dan dongeng-dongeng yang diceritakan kepada anak-anak kulit hitam telah
menghilangkan kesadaran mereka karena cerita-cerita dongeng tersebut
dikonstruksi berdasarkan nilai-nilai budaya khas orang kulit putih.
REFERENSI
:
Frantz
Fanon, Black Skin, White Mask, Yogyakarta ; Jalasutra, 2018
George M.Frederickson, Rasisme Sejarah Singkat, Yogyakarta : Bentang,
2003
Komentar
Posting Komentar