REVOLUSI SOSIAL DI ACEH

 

REVOLUSI SOSIAL DI ACEH

 

PENDAHULUAN

Kekalahan Jelang dalam Perang Pasifik telah menimbulkan implikasi yang serius. Wilayah bekas Hindia Belanda kemudian menjelma menjadi sebuah negara kebangsaan setelah tokoh utamanya Sukarno dan Hatta memproklamasikan berdirinya negara Republik Indonesia. Indonesia kemudian mengalami revolusi.

Revolusi Indonesia yang dimulai pada tahun 1945 telah mendorong perubahan struktural. Tata pemerintahan mengalami perubahan yang dahsyat. Para pejabat dan birokrasi pemerintahan lama yang sebelumnya bekerja pada pemerintahan kolonial Hindia-Belanda maupun pada pemerintahan Pendudukan Jepang akhirnya tergusur.

Revolusi nasional pada tahun 1945-1946 mulai bergeser menjadi sebuah revolusi sosial. Para pejabat pemerintahan dan elit lama ramai-ramai dijatuhkan oleh rakyat jelata. Terjadi aksi-aksi massa yang dipelopori oleh kalangan elit revolusioner untuk menggulingkan tatanan lama yang dianggap feodal dan sudah tidak sesuai lagi dengan jiwa revolusi. Terjadi pertentangan yang tajam antara golongan bangsawan dan pamong praja dengan golongan elit baru yaitu golongan revolusioner yang berupaya mencari tempat dalam struktur politik baru masa revolusi.

Revolusi sosial yang berlangsung pada tahun 1945-1946 merupakan sebuah peristiwa yang multidimensional dan bersifat kompleks. Peristiwa tersebut dilakukan oleh para aktor dengan latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari kelompok kiri radikal sampai kelompok muslim sayap kanan.

Revolusi sosial di Aceh berwujud terjadinya perang antara golongan ulama atau Tengku melawan golongan bangsawan atau Uleebalang. Golongan Uleebalang yang dipimpin oleh seorang bangsawan dari Pidie yang bernama Teuku Cumbok menunjukkan sikap secara terang-terangan mendukung kembalinya kekuasaan Belanda dan mencemooh republik.

Sikap ini menimbulkan tentangan dan reaksi dari para ulama yang bergabung dalam PUSA. Kemudian terjadilah perang yang dikenal dengan nama Perang Cumbok. Yang berlangsung selama dua minggu di awal tahun 1946. Pertempuran berakhir setelah terjadi peperangan yang sengit dan direbutnya seluruh benteng milik para bangsawan Aceh. Setelah peperangan berakhir, anggota-anggota keluarga Uleebalang yang paling terkemuka kemudian dibunuh.

Walaupun peristiwa tersebut hanya terjadi di daerah Pidie, akan tetapi revolusi sosial di Aceh kemudian meluas ke seluruh wilayah Aceh. Dalam waktu sebulan, dilancarkan sebuah gerakan sistematis guna menangkap semua Uleebalang di Aceh. Mereka kemudian dipenjarakan di Takengon dan kedudukan-kedudukan mereka di pemerintahan Republik digantikan oleh ulama-ulama yang berperan dalam PUSA pra perang. Hanya setengah lusin bangsawan Aceh dengan pendidikan terbaik yang dipertahankan dalam jabatan-jabatan penting pemerintahan, seperti residen baru T.Daudsjah.

Revolusi sosial di Aceh atau Prang Aceh dilatarbelakangi oleh Tindakan Belanda yang menghapuskan Lembaga kesultanan Aceh pasca penaklukkan Aceh oleh Belanda. Setelah Sultan Aceh menyerahkan diri kepada Belanda, Belanda kemudian menghapuskan Kesultanan Aceh.

Tindakan Belanda tersebut mengakibatkan terjainya gangguan keseimbangan dalam tatanan sosial masyarakat Aceh. Sebelumnya Sultan Aceh bertindak sebagai penyeimbang dalam kaitannya dengan hubungan antara uleebalang atau bangsawan dan ulama Aceh. Hal itu mengakibatkan terjadinya ketegangan dan persaingan antara kedua golongan elit Aceh tersebut.

Selain itu, adanya kebencian  ulama terhadap kalangan Uleebalang yang dianggap telah menindas pada masa kekuasaan kolonial Belanda dan Jepang juga menjadi penyebab terjadinya revolusi sosial di Aceh. Rakyat Aceh menaruh dendam terhadap para bangsawan yang dianggap telah menindas rakyat dengan memberikan dukungan kepada pemerintahan pendudukan Jepang yang dinilai sangat represif.

Adapun puncak dari kebencian rakyat kepada para bangsawan adalah terkait dengan sikap para bangsawan Aceh. Golongan Uleebalang mengharapkan kembalinya kekuasaan Belanda pasca berakhirnya perang. Mereka menilai bahwa kekalahan Jepang dan berakhirnya perang sebagai fase kembalinya tatanan sosial lama di mana Belanda Kembali berkuasa atas wilayah Aceh. Sikap tersebut tak pelak mendorong rakyat melancarkan serangannya kepada kaum bangsawan.

Dinamakan Prang Cumbok karena golongan uleebalang atau bangsawan memiliki marka di daerah Cumbok, sementara Meureudu dan Lueng Putu dijaikan kekuatan tambahan. Cumbok dijadikan sebagai markas utama karena di tempat tersebut nampak lebih siap, berani dan kuat.

Puncak pergolakan antara rakyat dan uleebalang terjadi ketika rakyat melakukan serangan besar-besaran kepada uleebalang pada 12 Januari 1946. Dalam serangan ini pihak uleebalang mengalami kekalahan yang amat fatal. Teuku Daud sebagai pemimpin uleebalang kemudian melarikan diri kea rah barat tetapi kemudian ditangkap oleh barisan rakyat dari Seulimum pimpinan Tgk Ahmad Abdullah di Gunung Seulawah Agam.

 

BENTUK REVOLUSI SOSIAL DI ACEH

Revolusi sosial di Aceh memiliki beberapa bentuk yang membedakannya dengan revolusi sosial di sejumlah daerah lainnya.  Beberapa karakteristik dari Revolusi sosial di Aceh antara lain ;

♦ penghapusan praktek-praktek  keagamaan tradisional /puritanisme

♦ penggunaan Bahasa Indonesia di kalangan pemuda

♦ terjadinya sejumlah pembunuhan terhadap kalangan bangsawan Aceh atau kalangan Uleebalang

♦ pengambilalihan harta kekayaan para Uleebalang

♦ pembentukan pemerintahan baru di Aceh

 

DAMPAK REVOLUSI SOSIAL DI ACEH

Revolusi Sosial di Aceh merupakan peristiwa yang komples sekaligus paradoks. Peristiwa tersebut memiliki unsur-unsur dari sejumlah anasir yang kontradiktif. Pelaku Revolusi Sosial di Aceh memiliki latar belakang yang kontras sebagai berikut :

√ .PUSA ; yaitu Persatuan Ulama Seluruh Aceh yang merupakan representasi dari golongan ‘kanan”

√ Pesindo ; yaitu Pemuda Sosialis Indonesia yang merupakan manifestasi dari golongan ‘kiri”. Pesindo ini kemudian menjadi salah satu aktor dalam Peristiwa Madiun tahun 1948 yang juga merupakan salah satu bentuk dari Revolusi Sosial di Pulau Jawa.

Revolusi Sosial yang terjadi di Aceh telah menimbulkan sejumlah perubahan yang besar sebagai berikut ;

❶ Berubahnya posisi ulama modernis yang tergabung dalam PUSA

❷ Aceh terintegrasi secara total ke dalam NKRI. Pemimpin golongan ulama, Tengku Daud Beureueh menyatakan dukungan penuh terhadap republik

❸ Belanda tidak datang ke Aceh kecuali Sabang. Hal itu disebabkan Belanda kesulitan mencari tokoh yang dapat diajak bekerjasama menegakkan kembali kekuasaannya di Aceh.

❹ Aceh menjadi ‘Daerah Modal’ RI. Pasca Revolusi Sosial, kelompok pendukung kolonial Belanda menjadi sangat melemah dan hal ini berdampak menguatnya republikanisme di Aceh.

❺ Aceh menuntut otonomi daerah yang lebih luas

❻ Tersingkirnya elit yang mampu berhubungan dengan pemerintah pusat. Hal tersebut kemudian mengakibatkan terhambatnya komunikasi antara Aceh dan pemerintah pusat. Faktor inilah yang nanti menjadi salah satu penyebab terjadi Peristiwa Darul Islam di Aceh yang dipimpin oleh Tengku Daud Berureueh

 

REFERENSI :

 

A.J.S.Reid, Revolusi Nasional Indonesia, Jakarta : Sinar Harapan, 1996

Anton E. Lucas, Peristiwa Tiga Daerah, Revolusi Dalam Revolusi, Jakarta ; Grafitipers, 1989

Audrey Kahin, Pergolakan Daerah Pada Awal Kemerdekaan, Jakarta ; Grafiti, 1989

Junaedi Ahmad, Prang Cumbok, Revolusi Sosial di Luhak Pidie, Banda Aceh, Yayasan PeNA, 2021

M.C.Riclefs, Sejarah Indonesia Modern, Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 1999

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN ORDE BARU

PROGRAM TRANSMIGRASI PADA MASA ORDE BARU