ASAL USUL PATRIARKI ; PENDEKATAN ANTROPOLOGI BUDAYA DAN SOSIOLOGI MAKRO

 

ASAL USUL PATRIARKI ; PENDEKATAN ANTROPOLOGI BUDAYA DAN SOSIOLOGI MAKRO

PATIARKI, SUBORDINASI DAN MARJINALISASI

Patriarki merupakan stuktur dan juga budaya yang menempatkan kaum perempuan dalam posisi seks kedua (second sex). Perempuan dalam masyarakat patriarki mengalami ketimpangan atau ketidakadilan gender.

Pandangan gender dapat menimbulkan subordinasi terhadap perempuan. Anggapan bahwa perempuan itu irrasional dan emosional sehingga perempuan tidak bisa tmapil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting.

Subordinasi karena gender tersebut terjadi dalam segala macam bentuk yang berbeda dari waktu ke waktu. Misalnya dahulu dalam masyarakat Jawa ada anggapan bahwa perempuan tidak perlu bersekolah yang tinggi karena pada akhirnya akan kembali ke dapur juga.

Subordinasi berbasiskan gender dapat ditemukan dalam berbagai bentuk dimensi kehidupan sosial. Subordinasi antara lain juga terjadi di dalam dunia pekerjaan atau profesi. Dunia profesi ditandai oleh adanya hirarki seksual yang cenderung menempatkan perempuan pada posisi di bawah.

Relasi pekerjaan pada profesi-perofesi tertentu memperlihatkan adanya hirarki seksual tersebut, misalnya laki-laki menjadi dokter sedangkan profesi perawat lebih banyak diisi oleh kaum perempuan. Posisi direktur umumnya diperankan oleh laki-laki sedangkan perempuan bertindak sebagai sekretaris di perusahaan tersebut.

Selain subordinasi struktur sosial patriarki mengakibatkan kaum perempuan mengalami marjinalisasi. Marjinalisasi adalah proses pemiskinan ekonomi. Dalam prakteknya marjinalisasi yang dialami oleh perempuan berupa adanya peminggiran perempuan dalam kehidupan di ruang publik, khususnya di bidang perekonomian.

Perempuan diberi ruang terbatas di ruang domestik, yang pekerjaannya berkutat pada kegiatan kerumahtanggaan, seperti membersihkan rumah dan mengurus anak serta suami.

Kalaupun perempuan bekerja di sektor publik, marjinalisasi perempuan juga tetap terjadi. Pembagian kerja secara seksual juga terjadi di ruang publik. Di sektor publik, terdapat segmentasi yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada segmen yang berbeda. Perempuan bahkan seringkali “terjebak” pada pekerjaan fisik yang tidak layak dikerjakan oleh perempuan , seperti menjadi buruh di pasar-pasar, buruh pembangunan jalan, buruh pemecah batu, dan lain sebagainya.

Di sejumlah perusahaan, marjinalisasi  beririsan dengan eksploitasi terhadap perempuan. Perusahaan banyak merekrut tenaga kerja perempuan dengan alasan dapat  memberikan upah murah dan relatif sedikit potensi resistensi terhadap perusahaan. Buruh perempuan distereotipkan sebagai tenaga kerja yang mudah dikendalikan.

Pekerjaan perempuan yang umumnya tidak banyak membutuhkan keahlian atau semi-keahlian  seperti yang disebutkan di atas merupakan proses terpenting dalam  produksi suatu barang/produk. Komposisi gender semacam ini sesungguhnya merupakan tanda dari kenyataan bahwa kegiatan ekonomi telah mengalami proses degradasi akibat pemburuan kapital untuk memaksimalkan keuntungan. (Abdullah, 2001)

Ketimpangan dalam hubungan ekonomi juga dapat dilihat dalam tindakan sewenang-wenang yang menimpa perempuan, seperti kekerasan dan pelecehan seksual di tempat kerja. Tidak ada jaminan keamanan dan hukum yang membuat perempuan memiliki kekuatan untuk telibat dalam suatu pekerjaan.

Pelecehan ternyata tidak hanya dilakukan oleh mandor atau atasan saja, akan tetapi juga oleh laki-laki lain seperti rekan kerja. Gangguan yang sering dialami oleh perempuan seringkali memaksa perempuan untuk keluar dari pekerjaan dan mencari pekerjaan lainnya, meskipun tidak ada jaminan perempuan terbebas dari pelecehan seksual di tempat kerja yang baru tersebut.

 

ASAL USUL PATRIARKI

Mengenai asal muasal patriarti dapat ditelusuri melalui kajian antropologi budaya.  Patriarki dalam kajian antropologi budaya ternyata memiliki akar sejarah yang sangat Panjang dan mendalam. Frederich Engels, yang merupakan sahabat Karl Marx menulis dalam bukunya mengenai asal usul keluarga, hak milik dan negara mengungkapkan pendapat dari Lewis Morgan.

Morgan merupakan antropolog Amerika Serikat yang mendalami mengenai peradaban masyarakat mulai dari yang sederhana hingga peradaban yang lebih maju. Morgan membagi peradaban manusia menjadi tiga bagian, yaitu masa kebuasan, masa barbarisme dan masa peradaban. Masa kebuasan ditandai oleh adanya kehidupan berburu dan meramu.

Pada era ini, ketimpangan gender dan suborinasi terhadap perempuan belum ada. Dalam masyarakat berburud an meramu posisi pria dan perempuan bersifat setara atau egaliter.

Pada era kebuasan belum ada kepemilikan pribadi dan juga lembaga keluarga serta Lembaga politik yang ditandai oleh adanya hirarki kekuasaan dan control terpusat. Ketiadaan lembaga keluarga dan belum adanya kepemilikan pribadi inilah yang menyebabkan relasi gender antara pria dan perempuan bersifat setara.

Masyarakat kebuasan dibangun atas dasar kepemilikan kolektif atas alat-alat produksi, hubungan sosial yang penuh dengan kerja sama dan kesetaraan utuh dalam semua aspek kehidupan, termasuk di dalamnya kesetaran seksual. Karena kepemilikan pribadi belum muncul, maka institusi penentu seperti kepemilikan pribadi, yaitu negara dan keluarga tidaklah berkembang.

Masyarakat kesukuan merupakan komunitas pemerintahan yang mandiri, di mana pimpinan yang terpilih tidka mempunyai superioritas atas anggota masyarakat yang lain.

Tidak ada kewajiban kepala keluarga, seperti ayah yang harus memimpin istri dan anak-anak yang harus melayani, patuh, dan menyesuaikan diri, kewajiban yang harus dipaksakan oleh apparatus negara. Karena di dalam masyarakat kebuasan, prinsip-prinsip yang mendasarinya adalah kebebasan dan kesetaraan bagi semua orang.

Bentuknya adalah persaudaraan perempuan dan persaudaraan laki-laki di dalam komune kesukuan, yang kemudian disebut sebagai sistem “komunisme primitif” oleh Morgan dan rekan sealirannya. Salah satu gambaran yang menonjol di dalam sistem tersebut adalah posisis perempuan yang begitu berpengaruh dan dimuliakan.

Hirarki gender mulai terjadi Ketika masyarakat mengalami fase barbarisme. Fase atau masa barbarisme ditandai oleh adanya kehidupan ekonomi berupa kehidupan bercocoktanam atau sistem agraria. Pada era barbarisme, terjadi pengenalan pertanian dan pengumpulan persediaan atau stok pangan. Ini dimaksudkan untuk penyediaan kelebihan produksi bagi populasi yang lebih besar dengan kemampuan berproduksi yang lebih tinggi, berikut kebudayaan yang lebih maju.

Pada era ini juga muncul lembaga keluarga. Dalam lembaga keluarga inilah mulai terjadi subordinasi terhadap perempuan yang menempatkan perempuan di posisi yang lebih rendah dibaningkan pria.

Sedangkan pada era berikutnya, yaitu era peradaban, kebudayaan dan struktur sosial masyarakat dibangun atas dasar kepemilikan property berupa harta secara pribadi. Masyarakat ini dibagi ataskelas pemilik kaya yang mengeksploitasi kelas pekerja. Aparatus negara kemudian dimunculkan untuk menjaga dan melaksanakan kepentingan golongan kaya ini.

Karakterisasi dari masyarakat yang demikian ditunjukkan  dengan adanya ketimpangan dalam segala bentuknya, baik dalam bidang ekonomi, sosial maupun seksual. Supremasi laki-laki dan inferioritas perempuan merupakan gambaran utuhdari sistem kelas patriarki ini.

Analisis lain mengenai asal-usul patriari dikemukakan oleh Stephen Sanderson dalam bukunya Makro Sosiologi. Mengutip hasil penelitian kajian antropologi terhaap lebih dari serratus bentuk masyarakat, Sanderson mengungkapkan bahwa asimetris gender ternyata sudah ada sejak masyarakat berada pada era berburud an meramu, yaitu era-era awal kehidupan manusia, Ketika bentuk masyarakat masih sangat sederhana.

Pada era itu kegiatan ekonomi manusia bertumpu pada kegiatan berburu binatang dan meramu atau mengumpulkan makanan. Kedua jenis pekerjaan tersebut mengakibatkan terjadinya pembagian kerja secara seksual, di mana laki-laki menjalani aktivitas berburu sedangkan kaum perempuan mengumpulkan makanan. Memang kadangkala perempuan juga melakukan kegiatan perburuan tetapi hanya berskala kecil.

Perburuan dilakukan oleh laki-laki disebabkna karena kegiatan tersebut memerlukan ketangkasan, keberanian dan juga kekuatan sedangkan kegiatan mengumpulkan makanan yang dilakukan oleh perempuan dianggap merupakan pekerjaan yang tidak memerlukah keterampilan seperti itu.

Pada era itu, berburu dikonstruksikan memiliki prestise sosial yang lebih besar dibandingkan kegiatan meramu atau mengumpulkan makanan. Hal itu disebabkan karena daging binatang buruan dianggap memiliki nilai prestis yang lebih baik dibandingkan jenis makanan lainnya yang dikumpulkan oleh perempuan, yang berupa tumbuh-tumbuhan dan umbi-umbian.

Selain karena relatif sulit didapatkan juga karena daging binatang buruan mengandung kalori yang jauh lebih tinggi. Hal itulah yang mendorong munculnya control kaum laki-laki terhadap perempuan. Laki-laki memiliki kekuasaan membagikan daging binatang buruan kepada semua anggota komunitas yang ada.

 

 

REFERENSI :

Frederick Engels, Asal-Usul Keluarga, Pemilikan Pribadi dan Negara, Jakarta ; Kalyanamitra, 2004

Stephen Sanderson, Makro Sosiologi, Jakarta : Rajagrafindo Perkasa, 2003

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN ORDE BARU

MASYARAKAT PASCA INDUSTRI

PROGRAM TRANSMIGRASI PADA MASA ORDE BARU