SEKS, GENDER, DAN SEKSUALITAS ; PERSPEKTIF KONSTRUKSI SOSIAL

 

SEKS, GENDER, DAN SEKSUALITAS ; PERSPEKTIF  KONSTRUKSI SOSIAL

KONSTRUKSI SOSIAL ATAS REALITAS SOSIAL


Teori Konstruksi Sosial merupakan salah satu teori dalam mengkaji realitas sosial. Teori ini dikemukakan oleh Peter L Berger . Konstruksi Sosial Berger dalam ranah teori sosiologi termasuk dalam aliran Methological-Relationism yang berusaha menjembatani dikotomi antara pendekatan yang menekankan Agen dan pendekatan yang menekankan struktur. Teori Methodological-relationism melihat adanya hubungan timbal balik yang saling memengaruhi antara Agen dan struktur.

 

Berger menganggap bahwa masyarakat sebagai realitas sosial yang bersifat subjektif dan sekaligus bersifat objektif. Sikap Berger ini menunjukkan upayanya untuk menjembatani pemikiran Durkheim dan Weber.

Berger memang mengakui bahwa masyarakat disatu sisi merupakan realitas objektif dalam hubungannya dengan lembaga-lembaga sosial sebagaimana yang diyakini oleh Durkheim dan Kalangan fungsionalisme struktural, tetapi Berger menganggap bahwa masyarakat  juga merupakan produk manusia.

Masyarakat tidak pernah berhenti dalam proses pembentukannya, tetapi terus mengalami pembentukan melalui proses eksternalisasi,objektifikasi dan internalisasi secara dialektis. Selain itu sebagaimana pandangan para sosiolog interpretatif seperti Mead, Blumer,Goffman dan Garfinkel, Berger juga melihat masyarakat sebagai realitas subjektif yang terbentuk melalui proses interpretasi individu atas realitas.

Menurut Berger, walaupun terdapat hubungan simetris antara relitas objektif dan realitas subjektif namun selalu ada realitas yang “lebih” objektif yang yang dapat diinternalisir oleh seorang individu saja sehingga proses sosialisasi  yang dialami oleh individu tidak pernah merupakan proses yang lengkap dan sempurna.

Ada aspek-aspek realitas subjektif yang tidak dilahirkan dalam sosialisasi sebagaimana aspek-aspek relitas objektif objektif yang belum diinternalisasi.Karena sosialisasi tidak pernah sempurna, selalu ada tantangan untuk memelihara realitas, khususnya kebutuhan untuk mengawal hubungan simetris antara realitas subjektif dan realitas objektif.(Poloma,2004).

Dengan kata lain terdapat hubungan timbal balik, disatu sisi manusia “menciptakan” masyarakat di sisi lain masyarakat “menciptakan” manusia.

Masyarakat sebagai realitas sosial merupakan hasil konstruksi sosial yang terjadi melalui proses institusionalisasi, legitimasi dan sosialisasi. Dalam proses institusionalisasi, terjadi pembentukan pola,aturan atau peran diantara sekelompok orang (melalui proses eksternalisasi dan objektifikasi).

 Pembentukan pola ini berhasil apabila tindakan sekelompok individu tersebut dirasa berhasil dan relevan untuk memenuhi kebutuhan kolektifnya pada situasi tertentu.Setelah proses institusionalisasi berhasil, institusi yang baru terbentuk ini dilegitimasi atau dijustifikasi dengan penjelasan-penjelasan logis.

Legitimasi dapat mengamankan atau mengekalkan sebuah institusi. Kemudian institusi dipertahankan melalui sosialisasi kepada anggota-anggota baru (melalui proses internalisasi).(Riyanto,2009)

Teori Konstruksi sosial mengenai seks, gender dan seksualitas

Teori Konstruksi sosial memiliki cara pandang yang berbeda dengan sosiologi positivis dalam memahami seks, gender dan seksualitas. Sosiologi konstruksionis menawarkan sebuah model yang mengkonseptualisasikan relasi antara aspek biologis manusia dengan struktur sosial sebagai suatu relasi yang bersifat dialektis.

Pendekatan ini melihat kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh faktor biologis manusia, tetapi juga melalui hubungan saling pengaruh (interplay) yang kompleks antara kondisi/keadaan biologis dengan lingkungan fisik dan bentuk-bentuk pengorganisasian sosial termasuk tingkat perkembangan teknologi.

Efek dari masing-masing faktor ini tidak bisa diisolasi karena masing-masing faktortersebut memengaruhi dan mengubah satu sama lain. Dengan kata lain, faktor-faktor tersebut tidak hanya berkaitan satu salam lain, tetapi berkaitan secara dialektis.(Ratna Batara, 2005)

Teori konstruksionis tidak menganggap seksualitas sebagai dan relasi gender sebagai sesuatu yang bersifat alamiah tetapi hal itu terbentuk melalui konstruksi sosial. Bahkan teori konstruksi sosial menganggap perkawinan sebagai sebuah konstruksi sosial yang menjamin eksisnya  institusi hubungan seksual

Sosiologi Konstrukssionisme dengan tokohnya Peter L.Berger mendefisinikan seksualitas sebagai proses sosial yang menciptakan, mengorganisasi, mengekspresikan, serta mengarahkan hasrat. Mereka juga membedakan antara seks/seksual, gender dan seksualitas. Seks/seksualitas dapat memiliki makna, pertama, menunjuk pada perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan, kedua, merupakan aktivitas atau hubungan erotis yang bersifat intim.

Sedangkan  istilah gender digunakan untuk menunjuk semua aspek pembedaan sosial dan kultural antara laki-laki dan perempuan, menekankan pada pembentukan sosial menyangkut feminitas dan maskulinitas, serta pemahaman bahwa tubuh yang diseksualkan itu sendiri adalah sebuah konstruksi sosial (socially Constructed) (Munti, 2005)

Teori konstruksi sosial menganggap bahwa ketimpangan gender yang dialami oleh perempuan, yang termanifestasikan dalam berbagai bentuk seperti subordinasi, marjinalisasi, stereotipe, komersialisasi dan kekerasan yang dialami perempuan tidak dapat dilepaskan dari pilihan sadar kaum perempuan itu sendiri. Dalam struktur sosial yang patriarki dan hegemonik sekalipun, sesungguhnya perempuan melakukan pilihan bagi hidupnya. Perempuan bukanlah pihak yang menerima begitu saja kenyataan hidup dan realitas sosial yang ada.

Struktur yang patriarki dan hegemonik tidak lahir begitu saja, tetapi melalui proses yang tidak hanya melibatkan laki-laki tetapi juga melibatkan perempuan serta berbagai faktor lain di luar keduanya. Perempuan sebenarnya dapat saja menolak dan menghindarkan segala macam bentuk ketimpangan gender yang mereka alami, akan tetapi dalam kenyataannya cukup banyak, bahkan secara sadar atau tidak sadar banyak perempuan yang ‘menerima’ penindaan yang mereka alami dan menerima struktur sosial yang sesungguhnya tidak adil dan cenderung merugikan kaum perempuan.

Konstruksi sosial yang menempatkan perempuan dalam struktur subordinat dalam berbagai kegiatan seperti dalam bidang ekonomi telah menjadi penghalang utama bagi perempuan untuk mendapatkan kesempatan yang lebih baik. 

Struktur yang timpang, yang menempatkan laki-laki pada ujung yang satu sedangkan perempuan pada ujung yang lain dalam suatu garis vertikal telah membedakan wilayah-wilayah ekspresi di aman perempuan dan laki-laki terlibat. Perbedaan pekerjaan semacam ini telah memberi basis kekuasaan pada laki-laki, yang secara langsung menegaskan superioritas laki-laki dalam berbagai kegiatan ekonomi.

Dua hal dapat disebutkan berkaitan dengan ketimpangan gender semacam ini. Pertama, pekerjaan-pekerjaan marjinal yang dikerjakan oleh perempuan dapat dilihat sebagai akibat dari proses identifikasi perempuan terhadap apa-apa yang sesuai dengan sifat keperempuanan seperti yang sudah dikonstruksikan secara sosial. Identifikasi ini merupakan proses pemaknaan diri dan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan perempuan sehingga berbagai faktor diperhatikan di dalamnya.

Dalam perspektif semacam ini kemudian ketimpangan gender tidak lain merupakan pilihan perempuan, bukan pemaksaan terhadap perempuan. Kedua, berbagai proses telah memproduksi sifat keperempuanan dan kenyataan tentang pekerjaan-pekerjaan yang sesuai dengan sifat keperempuanan tersebut.

Adanya  siklus seks perempuan seperti haid, mengandung, dan melahirkan serta menyusui seringkali dijadikan alasan untuk tidak memilih perempuan atau untuk menempatkan perempuan dalam pekerjaan yang marjinal. Citra kehalusan dan ketelatenan yang menjadi stereotipe gender terhadap perempuan telah pula digunakan sebagai alasan untuk menempatkan perempuan pada pekerjaan-pekerjaan yang marjinal tersebut.

“Penerimaan”  kaum perempuan atas ketimpangan gender yang ada terjadi melalui proses yang sangat panjang. Proses tersebut meliputi sosialisasi gender yang dilakukan baik melalui keluarga, agama, pendidikan, bahkan negara. Proses-proses sosialisasi gender tersebut telah membatasi pilihan-pilihan hidup perempuan. Sesuatu yang berada di luar dapur, anak, dan rumah tangga dianggap bukan sebagai tempat yang sesuai bagi perempuan.

Keluarga , sekolah, bacaan anak dan remaja serta televisi dan internet telah menjadi sumber pengetahuan tentang bagaimana menjadi perempuan yang ideal, yang sesuai dengan tatanan sosial yang ada. Yang penting adalah institusi semacam itu telah menegaskan suatu bentuk hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai aspek kehidupan.

Proses internalisasi mengakar dalam situasi tersebut yang telah menjadi dasar di mana laki-laki tetap ditonjolkan. Proses semacam ini  merupakan konstruksi yang secara terus menerus menegaskan suatu realitas objektif yang memiliki daya paksa.

Apa yang diajarkan dalam keluarga dan institusi lain dapat berarti sesuatu yang memang dihasilkan oleh keluarga itu sendiri dan pada saat yang sama juga merupakan artikulasi dari nilai dan norma yang berlaku secara sosial.

Perbedaan domestik dan publik ditentukan oleh proses pemaknaan yang bersumber dari dunia makna (universe of meaning) yang merupakan pedoman kehidupan.(Abdullah, 2001)

 

 

 

 

 

 

REFERENSI :

Julia Suryakusuma, Agama, Seks Dan Kekuasaan, Depok : Komunitas Bambu, 2012

Irwan Abdullah, Seks, Gender, Dan Reproduksi Kekuasaan, Yogyakarta : 2001

Mansour Fakih, Analisis Gender Dan Transformasi Sosial, Yogyakarta : Insist, 2008

Margaret Poloma, Sosiologi Kontemporer, Jakarta : Garfindo

Rahmat Hidayat, Ilmu Yang Seksis, Feminisme Dan Perlawanan Terhadap Teori Sosial Maskulin, Yogyakarta : Jendela, 2004

Ratna Batara Munti, Demokrasi Keintiman, Seksualitas di Era Global, Yogyakarta : LkiS, 2005

Damsar, Pengantar Teori Sosiologi,Jakarta ;  Kencana,2015

Geger Riyanto, Peter L.Berger, Perspektif Metateori Pemikiran, Jakarta : LP3ES,2009

Margareth Poloma, Sosiologi Kontemporer,Jakarta : RajaGrafindo,2004

Peter L.Berger, Tafsir sosial atas kenyataan, risalah tentang sosiologi pengetahuan, Jakarta : LP3ES, 1990

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN ORDE BARU

MASYARAKAT PASCA INDUSTRI

PROGRAM TRANSMIGRASI PADA MASA ORDE BARU