UPAYA MENGATASI MASALAH SOSIAL
UPAYA
MENGATASI MASALAH SOSIAL
Masalah sosial merupakan sebuah kondisi yang timpang antara
harapan dan kenyataan. Ada kesenjangan antara das sein dan das sollen, atau
antara idealita dan realita. Hal tersebut sudah berlangsung dalam rentang waktu
yang lama dan dirasakan oleh mayoritas anggota masyarakat sebagai sebuah
persoalan yang memerlukan perbaikan segera.
Masalah sosial merupakan fenomena
yang selalu muncul dalam kehidupan masyarakat. Masalah sosial dapat diidentifikasi
dengan sejumlah pendekatan. Jika dalam suatu masyarakat ditemukan banyak unsur
yang tidak dapat menjalankan peran, fungsi dan kontribusinya berarti ada
permasalahan dalam hal partisipasi sosial, dan hal ini menjadi indikasi
keberadaan masalah sosial.
Beberapa cara dapat digunakan dalam
menganalisis masalah sosial, misalnya sebagai berikut ;
1.kemiskinan dapat dilihat dari
tingkat konsumsi setara beras
2.taraf hidup masyarakat dilihat
dari indicator Physical Quality Live Index yang menggunakan angka harapan
hidup, angka kematian bayi dan angka melek huruf
3.tingkat Pendidikan dilihat dari
ketersediaan jenjang Pendidikan pada semua level Pendidikan, dan lain
sebagainya
Masalah sosial dapat dianalisis
dari sudut pandang interaksionisme simbolik. Masalah sosial didefinisikan
sebagai sebuah situasi yang dinyatakan sebagai bertentangan dengan nilai oleh sejumlah
warga masyarakat yang cukup signifikan, yang mana mereka sepakat tentang
dibutuhkannya suatu Tindakan untuk mengubah dan memperbaiki situasi tersebut.
Apabila sebuah situasi tertentu
dalam masyarakat mendapat reaksi penolakan yang sangat kuat, maka hal itu
menunjukkan bahwa secara implisit masyarakat yang bersangkutan menyatakan
situasi tersebut sebagai masalah sosial.
Masalah sosial juga dapat dilihat
dari sudut pandang subjektivisme. Pandangan ini melihat masalah sosial sebagai
sebuah hasil dari konstruksi sosial. Sebagai individu, masing-masing warga
masyarakat bersifat aktif, kreatif dan mempunyai kemampuan inperpretatif terhadap
fenomena yang dihadapi. Melalui proses interaksi sosial terjadi pula interaksi
antarinterpretasi individu yang bersifat subjektif ini.
Sedangkan pendekatan lainnya
dalam menganalisis masalah sosial adalah pendekatan fungsionalisme struktural.
Pendekatan ini berasal dari tradisi Durkhemian yang kemudian diperluas dan
dipertajam oleh sejumlah tokoh seperti Talcott Parson dan Robert King Merton.
Pendekatan ini melihat
permasalaha sosial sebagai bentuk disfungsi dalam masyarakat. Masalah sosial
dianggap sebagai konsekuensi dari tidak berfungsinya unsur-unsur tertentu dalam
masyarakat sehingga menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan atau ketidakharmonisan.
Upaya mendiagnosis masalah sosial
dapat dilakukan melalui dua pendekatan. Kedua pendekatan ini sebetulnya
tujuannya sama, yaitu mencoba mencari sumber penyebab masalah sosial yang
terjadi. Kedua pendekatan itu adalah sebagai berikut ;
1.person blame approach ;
Pendekatan ini berupaya mencari
sumber masalah sosial pada level individu. Pendekatan ini menempatkan individu sebagai
unit analisisnya. Pendekatan ini melihat masalah sosial dari sudut pandang
individual atau bergerak dalam tataran mikro.
Melalui pendekatan ini ditawarkan
beberapa bentuk penyelesaian masalah sosial seperti rehabilitasi dan
resosialisasi individu.
Rehabilitasi merupakan upaya agar
individu mengalami proses pemulihan agar semua faktor individual yang
menyebabkan individu tersebut menjadi bagian dari masalah sosial dapat
terselesaikan.
Sedangkan resosialisasi adalah
proses pemberian nilai-nilai baru kepada individua tau dilakukannnya proses
sosialisasi ulang agar individu tersebut memiliki cara pandang baru yang dapat
mengeluarkannya dari permasalahan sosial yang ada.
Pendekatan individual ini juga
menawarkan penyelesaian masalah sosial mellaui mekanisme lainnya seperti adanya
rumah singgah bagi penyintas masalah sosial atau lokalisasi bagi perempuan yang
terlibat dalam pelacuran.
2.system blame approach ;
Pendekatan ini berupaya mencari
sumber masalah sosial pada level sistem. Pendekatan ini lebih memfokuskan pada
sistem sebagai unit analisis untuk mencari dan menjelaskan sumber masalah
sosial.
Pendekatan ini lebih melihat
aspek-aspek yang berkaitan dengan struktur sosial, institusi sosial, fungsi dari
berbagai komponen dalam sistem sosial, kemampuan sistem sosial dalam merespon
perubahan sosial. Melalui pendekatan ini ditawarkan beberapa bentuk penyelesaian
masalah sosial pada level makro berupa perubahan dan perbaikan kinerja sistem
sosial atau melakukan tranformasi sosial.
Pendekatan ini tidak melihat
masalah sosial sebagai faktor yang bersifat individual atau personal. Individu
dianggap sebagai nonfactor dalam menganalisis masalah sosial yang ada. Pendekatan
ini mempunyai anggapan bahwa gejala sosial seperti masalah sosial yang sering
tampak di permukaan dan terkesan melekat pada diri individu sebetulnya hanya
merupakan simtom dari permaslaah sosial yang lebih besar dan mendasar, bukan
merupakan maslaah sosial yang sesungguhnya.
Hal ini disebabkan oleh karena
masalah sosial yang sesungguhnya ada pada level sistem sosial atau struktur
sosial yang lebih luas. Pendekatan ini
melihat maslaah sosial sebagai permaslaahan yang bersifat struktural.
Kemiskinan misalnya, bukan
dianggap sebagai rendahnya etos kerja individu akan tetapi kemiskinan dianggap
sebagai persoalan struktur sosial, yaitu adanya struktur sosial yang tidak adil
atau diskriminatif terhadap golongan masyarakat kelas bawah.
Masyarakat kelas bawah tidak
memiliki kesempatan yang sama dengan kelas sosial di atasnya dalam mendapatkan
akses kepada sumber daya yang ada. Cara pandang inilah yang kemudian
memunculkan konsep mengena kemiskinan struktural.
Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang disebabkan
oleh faktor-faktor yang bersifat strukrural. Konsep Kemiskinan Struktural ini
merupakan jawaban terhadap pihak yang cenderung memberikan stigma terhadap
golongan miskin.
Kemiskinan struktural menganggap bahwa kemiskinan bukan
merupakan sebuah fenomena yang alamiah atau karena adanya sosialisasi sistem
nilai tertentu, tetapi kemiskinan struktural menjelaskan bahwa kemiskinan yang
dialami oleh kelompok masyarakat tertentu lebih disebabkan oleh adanya sejumlah
faktor eksternal yang mengungkung mereka dan membatasi ruang gerak golongan
miskin untuk keluar dari kemiskinannya.
Dengan demikian pengertian kemiskinan struktural ini tidak
berbeda halnya dengan pengertian tentang kemiskinan buatan. Kemiskinan
struktural bukanlah kemiskinan yang dialami oleh seorang individu oleh karena
ia malas bekerja atau karena ia terus menerus sakit.
Kemiskinan yang demikian adalah kemiskinan yang bersifat
individual,bukan struktural. Kemiskinan struktural adalah kemiskinan yang
diderita oleh suatu golongan masyarakat Karena struktur sosial masyarakat tidak
dapat memberikan kesempatan kepada kalangan tertentu.
Contoh lainnya adalah meningkatnya
angka putus sekolah di kalangan siswa. Masalah ini tidak dilihat dari aspek
peserta didik atau siswa yang putus sekolah tersebut, melainkan lebih dilihat
dari sistem Pendidikannya.
Demikian pula dengan maslaah
lemahnya kedudukan kaum perempuan dalam masyarakat. Masalah tersebut dilihat
sebagai akibat dari struktur sosial yang bersifat patriarki. Struktur sosial
patriarki merupakan struktur sosial yang mengutamakan laki-laki dan merendahkan
kaum perempuan. Laki-laki mendpatkan kesempatan yang lebih baik dalam
kehidupan, sementara kaum perempuan cenderung diabaikan.
Perempuan dibatasi aksesnya dalam
berkativitas di ruang public, sehingga terjadi proses peminggiran atau
marjinalisasi. Di ruang publikpun perempuan cenderung mengalami subordinasi,
yaitu kedudukannya selalu berada di bawah kekuasaan laki-laki.
Contoh ketiga adalah urbanisasi.
Urbanisasi merupakan maslaah sosial yang melahirkan banyak permaslaahan sosial
lainnya seperti kemiskinan di Kawasan perkotaan, munculnya sektor ekonomi
informal, kesenjangan sosial antarwilayah dan lain sebagainya.
Pendekatan sistem melihat
urbanisasi bukan dari sudut individu-individu yang melakukan urbanisasi
melainkan dari aspek yang lebih makro. Urbanisasi dianggap sebagai persoalan
yang menyangkut orientasi pembangunan.
Cara pandang ini melihat arus
perpindahan penduduk yang tidka terkendali dari desa ke kota dapat diatasi
dengan membuat reorientasi pembangunan. Pembangunan dilaksanakan secara lebih
merata dan tidak terpusat pada pembangunan kota semata.
Pembangunan harus lebih bersifat
adil dengan adanya desentralisasi pembangunan. Pemerintah harus memberikan
alokasi dana yang lebih memadai untuk pembangunan perdsaaan, termasuk
pembangunan infrastrukur pembangunan di desa seperti sarana transportasi, pendidikan,
kesehatan pariwisata dan lain sebagainya.
REFERENSI :
A.Ramlan Surbakti, Kemiskinan Di Kota Dan Program Perbaikan
Kampung, Dalam Prisma, Kota Bermuka Dua, Jakarta, LP3ES, 1984
Damsar, Pengantar Sosiologi Perkotaan,Jakarta :
Kencana,2017
Herlianto, Urbanisasi Dan Pembangunan Kota, Bandung :
Alumni, 1986
James Henslin, Sosiologi Dengan Pendekatan Membumi,Jakarta
: Erlangga,2007
Parsudi Suparlan, Kemiskinan di perkotaan, Jakarta :
Penerbit Sinar Harapan, 1984
Soetomo, Masalah Sosial dan Upaya
Pemecahannya, Yogyakarta ; Pustaka Pelajar, 2013
Komentar
Posting Komentar