KAJIAN SINGKAT PEMIKIRAN PIERRE BOURDIEU

 

KAJIAN SINGKAT PEMIKIRAN PIERRE BOURDIEU

 

Piere Felix Bourdieu lahir di desa Denguin, selatan Prancis  pada tahun 1930. Bourdie mendapat Pendidikan Lycee atau SMA di Pau sebelum pindah ke Lycee Louis Le Grand di Paris, dan akhirnya masuk ke Ecole Normale Superierure.

Bourdie belajar filsafat Bersama Louis Althusser di Paris pada tahun 1951. Ia dikenal melalui bukunya Distinction ; a Social Critique of the Judgment of Taste, tempat ia berargumen bahwa penilaian-penilaian selera itu berhubungan dengan selera sosial.

Buku ini dianggap sebagai salah satu dari 10 buku sosiologi yang paling berpengaruh di dunia  oleh international sociological association. Ia juga menulis buku Reproduction in Education, Culture and Society. Buku ini berpengaruh terhadap kajian sosiologi pendidikan.

Bourdie pernah melakukan studi etnografis Ketika dikirim ke Aljazair oleh militer Prancis. Bourdie melakukan penelitian mengenai benturan dalam masyarakat lewat studinya mengenai masyarakat Kabyle dari suku Berber selama Perang Aljazair 1958-1962.

Penelitiannya ini kemudian menjadi landasan bagi reputasinya di bidang antropologi. Hasilnya adalah buku karya pertamanya, Sociologie de L`Algerie.

Bourdie merupakan intelektual yang terlibat aktif dalam gerakan-gerakan sosial dan politik. Ia memberontak melawan mekanisme-mekanisme dominasi sosial dan membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan dan tertindas. Ia mendukung demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa.

Pada saat terjadi pemogokan umum pada tahun 1955, ia ambil bagian dalam ajakan kepada kelompok intelektual untuk mendukung para pemogok. Ia menandatangani petisi pada Maret 1966 untuk melakukan pembangkangan sipil melawan hukum yang memperkeras legislasi imigrasi pada tahun 1998. Dalam aksinya tersebut Bourdieu menunjukkan keberpihakannya pada para penganggur yang menduduki bekas kampusnya.

Bourdie dikenal atas penjelasannya mengenai bagaimana kelompok sosial yang terdidik atau kelompok professional kelas atas menggunakan modal kebudayaan sebagai strategi untuk mempertahankan atau mendapatkan status dan kehormatan dalam masyarakat.

Teori Bourdieau merupakan teori praktis yang didasarkan pada penelitian-penelitian empiris yang dilakukannya dengan para sejawatnya di Prancis lebih dari 40 tahun terakhir.

Karakteristik pemikiran Bourdie dapat dilihat sebagai berikut ;

1.teori Bourdieu bersifat epistemologis yang mengarahkan pada suatu cara memikirkan dan memahami dunia dengan cermat, namun bukan teori positivistik yang berisi konsep-konsep operasional

2.penelitian Bourdieu memberikan caracara yang penting untuk mempertimbangkan hubungan antara Pendidikan dengan reproduksi dan mekanisme sosial tempat berlangsungnya inklusi dan ekslusi sosial yang diciptakan dalam medan relasional sebagai fakta sosiologis serta historis

3.Bourdieu menggunakan metode-metode yang diserap dari berbagai disiplin ilmu ; dari filsafat dan teori sastra ke sosiologi dan antropologi

Beberapa konsep penting dalam pemikiran Bourdieu adalah ;

1.modal sosial

2.modal budaya

3.modal simbolik

4.habitus

Pemikiran Bourdieu dipengaruhi oleh pemikiran sejumlah ilmuan sosial, di antaranya adalah :

1.Karl Marx

2.Marcell Maus

3.Emile Durkheim

4.Max Weber

5.Nobert Elias

6.Edmund Husserl

Selain itu Bourdeau juga dipengaruhi oleh pemikiran sejumlah filsuf kuno seperti Socrates dan juga Thomas Aquinas.

Salah satu kontribusi penting Bourdieu dalam tataran pemikiran keilmuan adalah meletakkan kajian sosiologi pPendidikan. Ini sekaligus meneruskan tradisi sosiologi pendidikan Prancis yang dirintis oleh Emile Durkheim.

Bourdieu mengkaji dampak latar belakang kelas dalam pretasi pendidikan dan konsumsi budaya. Analisis ini dipengaruhi oleh pemikir Marxis. Bourdieu sering menggunakan analogi ekonomi dalam studinya tentang budaya dan masyarakat.

Bourdieu mengkaji dinamika pendidikandi Prancis dan memperkenalkan konsep cultural reproduction pada awal tahun 1970-an.

Analisis Bourdieu ini melihat praktik pendidikan dalam masyarakat modern. Bourdieu percaya bahwa sistem pendidikan selalu digunakan untuk mereproduksi budaya kelas dominan dalam rangka kelas dominan it uterus mengendalikan kekuasaannya.

Pendidikan bagi Bourdieu hanyalah sebuah alat untuk memeprtahankan eksistensi kelas dominan. Sekolah pada dasarnya hanya menjelaskan proses reproduksi budaya, sebuah mekanisme sekolah, dalam hubungannya dengan isntitusi yang lain, untuk  membantu mengabadikan ketidaksetaraan ekonomi antargenerasi. Kelas dominan mempertahankan posisinya melalui hidden curriculum atau kurikulum  terselubung, sekolah memengaruhi sikap dan kebiasaan siswa dengan menggunakan budaya kelas dominan. Kelas dominan memaksakan kelas terdominasi untuk bersikap dan mengikuti budyaa kelas dominan melalui sekolah.

Sekolah hampir selalu menerapkan budaya kelas dominan dalam setiap aktivitasnya siswa dari latar belakag kelas sosial bawah mengembangkan cara berbicara dan bertindak yang biasa digunakan kelas dominan atau yang biasa diistilahkan Bourdeau dengan habitus.

Sekolah-sekolah menurut Bourdieu merupakan tempat untuk menyosialisasikan habitus kelas dominan sebagai jenis habitus yang alami dan memosisikan habitus kelas dominan sebagai satu-satunya habitus yang tepat dan paling baik serta memperlakukan setiap anak seolah-olah mereka memiliki akses yang sama kepada habitus tersebut.

Bourdieu mengemukakan konsep kekerasan simbolik untuk menjelaskan mekanisme yang digunakan oleh kelompok elit atau kelompok kelas atas yang mendominasi struktur sosial masyarakat untuk “memaksakan” ideologi, budaya, kebiasaan, atau gaya hidupnya kepada kelompok kelas bawah yang didominasinya. Rangkaian budaya ini oleh Bourdieu disebut juga sebagai habitus.

Akibatnya masyarakat kelas bawah dipaksa untuk menerima, menjalani, mempraktikkan, dan mengakui bahwa habitus kelas atas merupakan habitus yang pantas bagi mereka (kelas bawah), sedangkan habitus kelas bawah merupakan habitus yang sudah selayaknya disingkirkan jauh-jauh.

 

 

REFERENSI :

Martono Nanang, Kekerasan Simbolik di Sekolah, Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu, Depok ; Rajagrafindo, 2012

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN ORDE BARU